SELASA, 27 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Museum Dharma Bhakti Kostrad selain menyimpan sejarah perjalanan Kostrad sebagai sebuah kesatuan tempur TNI di Indonesia, juga menyimpan sejarah perjalanan hidup seorang tokoh nasional, negarawan, dan Bapak Pembangunan Indonesia, yaitu kilas sejarah perjalanan hidup dan karir militer Jenderal Besar TNI HM.Soeharto.

Atas kiri : Ruang khusus Jenderal Besar TNI HM.Soeharto; atas kanan : Suasana Serangan umum 1 Maret 1949; bawah kiri : Mobilisasi Resimen Garuda Mataram; bawah kanan : Penggalian Jenazah korban G30S/PKI di Lubang buaya

Awal Dari Semuanya

Tanggal 8 Juni 1921, di sebuah dusun kecil bernama Kemusuk desa Argomulyo kecamatan Sedayu kabupaten Bantul Yogyakarta bagian barat kedatangan seorang bayi mungil laki-laki. Ia lahir saat Indonesia berada di penghujung penjajahan Belanda dan merupakan putera ketiga buah pernikahan kedua dari Kertosudiro seorang ulu-ulu desa (petugas desa pengatur air) dengan wanita pujaannya bernama Sukirah. 

Suasana desa yang tenang, sederhana, dan jauh dari hiruk pikuk kota adalah tempat bayi mungil yang diberi nama Soeharto tumbuh besar. Layaknya anak-anak desa pada umumnya, Soeharto kecil senang bermain setiap hari menyusuri sawah di desa kampung halamannya. Akan tetapi kegemaran Soeharto kecil untuk bermain tidak pernah membuat ia lupa untuk menunaikan ibadah wajibnya sebagai seorang muslim dan belajar mengaji.

Menjadi tentara adalah pilihan hidup sekaligus impian seorang Soeharto. Pada 1 Juni 1940, diusia yang masih sangat belia, 19 tahun, remaja dusun Kemusuk ini mendaftarkan diri masuk Kontverband di Gombong sebagai prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Soeharto berhasil menjadi lulusan terbaik KNIL dan mendapat tugas untuk bergabung ke Batalyon XIII, Rampel, Malang. Setelah menjalani beberapa penugasan, ia kembali ke Gombong untuk mengikuti sekolah kader dan lulus dengan pangkat Sersan. Setelah selesai, Soeharto muda bertugas di Cisarua, Bandung sebagai pasukan cadangan pada Markas Besar Angkatan Darat.

Ketika penjajahan Belanda berakhir dan dilanjutkan oleh Jepang lewat perjanjian Kalijati, Subang (8 Maret 1942), Soeharto keluar dari KNIL dan menjadi Keibuho (Polisi Jepang) kemudian bergabung dalam Pasukan PETA. Setelah proklamasi kemerdekaan, Pak Harto bersama rekan-rekannya sesama mantan anggota PETA membentuk kelompok pejuang kemerdekaan untuk kemudian menggabungkan diri dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

kiri : suasana dusun kemusuk kampung halaman Pak Harto; kanan : rumah tempat Soeharto kecil belajar mengaji
Saat ikut menjadi Pasukan gerilya dibawah kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soeharto menjadi pucuk pimpinan sekaligus otak strategi dari sebuah peristiwa besar yang sangat bersejarah yaitu "Serangan Umum 1 Maret 1949". Peristiwa yang juga dikenal dengan "enam jam di Yogya" ini berhasil membuka mata seluruh dunia bahwa Angkatan Bersenjata sekaligus Pemerintah Republik Indonesia dibawah pimpinan Presiden Soekarno adalah nyata.

"Serangan Umum 1 Maret 1949" memaksa Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memprakarsai perundingan Roem-Royen sehingga Belanda harus menarik pasukannya dari Yogyakarta tanggal 24 Juni 1949. Dalam situasi darurat perang sebelum memimpin "Serangan Umum 1 Maret 1949" , Soeharto ternyata menemukan jodohnya yaitu Siti Hartinah, puteri KPH Sumoharjomo. Mereka berdua menikah di Solo pada 26 Desember 1947. Buah pernikahan dari Soeharto dan Siti Hartinah lahir pada 23 Januari 1949 dan diberi nama Siti Hardijanti Hastuti.

Sebagai seorang anak dusun dan juga seorang tentara, Soeharto sebenarnya tidak memiliki impian maupun ambisi menjadi seorang perwira besar, ia hanya ingin menjadi seorang prajurit biasa. Namun takdir Soeharto tidak seperti keinginannya, karena karir militernya semakin melejit dengan memimpin penumpasan beberapa pemberontakan di tanah air, diantaranya adalah PRRI/Permesta. dimana salah satunya adalah PRRI/Permesta yang semakin menghantarkan Soeharto menjadi perwira yang disegani di kalangan Angkatan bersenjata RI kala itu. Pada tahun 1956 Soeharto dipindahkan ke Staf Angkatan Darat dan pada 3 Juni 1956 ia diangkat menjadi Panglima TT-IV/Diponegoro.

kiri atas : diorama pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi; kanan atas : dokumentasi pengangkatan salah satu jenazah korban G30S/PKI; kiri bawah : anggota merapihkan jenazah korban G30S/PKI yang baru diangkat; kanan bawah : Jenderal AH Nasution tak kuasa menahan haru saat memberi pidato pelepasan jenazah 7 pahlawan revolusi di MABAD

Kilau Bintang di Bumi Pertiwi


Bintang yang berkilau terus mengikuti langkah kaki Soeharto dalam karir militernya. Satu persatu operasi militer kembali dipimpin sekaligus diselesaikan Soeharto dengan sempurna, yaitu :

Operasi Trikora

Berdasarkan SKEP Men/Pangad No.KPTS-54/3/1961, dibentuk KORRA I / CADUAD dengan Soeharto sebagai Panglimanya. Sementara itu, KMB 1949 menyisakan masalah pelik di Papua bagian barat karena Belanda bersikeras tidak mau angkat kaki dari sana, sedangkan Soekarno dan seluruh bangsa Indonesia menghendaki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap utuh. 

Menyikapi sikap Belanda, Presiden Soekarno mengobarkan Trikora (Tri Komando Rakyat) dan pada tanggal 19 September 1961 dibentuk Komando Mandala yang berkedudukan di Makasar dibawah pimpinan Soeharto. Kejelian dan kecermatan Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala dalam merancang strategi perang Operasi Trikora berhasil menekan Belanda untuk berunding dengan mediasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Hasil dari perundingan yaitu Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada Desember 1969. Hasil PEPERA adalah, rakyat Papua memilih tetap bergabung dengan NKRI.

Operasi Dwikora

Akibat pertentangan antara Indonesia dan Malaysia maka tahun 1963 Presiden Soekarno mencetuskan Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang berisikan : gagalkan negara boneka buatan neo kolonialis Inggris dan bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Kalimantan Utara.

Penumpasan G30S/PKI

Pada tanggal 30 September 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kudeta terhadap Pemerintah RI yang sah dengan memanfaatkan situasi dimana pernyataan NASAKOM (Nasionalis, Agama, dan Komunis)  dari Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno sedang mengemuka di Indonesia. Dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) ini PKI melakukan penculikan dan pembunuhan keji terhadap enam perwira tinggi (termasuk KASAD Letjen A.Yani) serta satu orang perwira pertama Angkatan Darat.

Mencermati peristiwa tersebut, maka Pangkostrad pertama yakni Mayjen TNI Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat dengan dukukungan Jenderal AH.Nasution yang juga hampir menjadi korban penculikan kaum komunis. Jenderal AH. Nasution sendiri walau dengan keadaan cedera kaki yang cukup parah berhasil diamankan Mayjen Soeharto dalam perlindungan penuh di Markas Kostrad.

Tindakan tersebut diikuti dengan pemulihan keamanan Ibukota, pencarian korban G30S/PKI, serta penumpasan PKI dari Indonesia khususnya Jakarta dan sekitarnya dengan menunjuk Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (Danmen RPKAD) sebagai Komandan Pasukan yang terdiri dari Pasukan RPKAD, Yon328 Kujang/Siliwangi, dan Kompi Kavaleri.

Penumpasan G30S/PKI adalah puncak dari pengabdian Soeharto namun bukanlah akhir dari segalanya. Penumpasan G30S/PKI merupakan kunci membuka sebuah lembaran baru menuju Republik Indonesia yang lebih baik dari sebelumnya.

Kiri atas : Kunjungan Pak Harto ke Pabrik Tebu di Gondang, Klaten; Kanan atas : Pak Harto meresmikan Pesawat Tetuko produksi Nurtanio Bandung; Kiri bawah : Pak Harto dengan bangga meresmikan Senjata produksi Pindad; Kanan bawah : Pak Harto meresmikan Pembangkit listrik tenaga panas bumi di Gunung salak, Jawa Barat

Soeharto Bapak Pembangunan Nasional

Setelah dilantik menjadi Presiden RI kedua melalui Sidang umum MPRS pada 12 Maret 1967, maka Presiden Soeharto segera melakukan sejumlah langkah awal untuk membangun Indonesia.

Presiden Soeharto memikirkan nasib bangsanya bukan saja secara formal akan tetapi juga sebagai manusia biasa yang kerap terenyuh melihat penderitaan dan ketidakberuntungan orang-orang di sekelilingnya. Sejak awal pemerintahannya maka Presiden Soeharto mendirikan sejumlah yayasan (Trikora, Supersemar, Damandiri, Dharmais, Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dakab, Harapan Kita). Melalui yayasan-yayasan tersebut Presiden mendorong masyarakat untuk ikut berperan mendirikan rumah ibadah (masjid), menyantuni keluarga prajurit TNI yang ditinggal gugur, membiayai pelajar cerdas, menyantuni orang cacat, yatim piatu, membiayai panti jompo, dan meringankan beban masyarakat yang terkena musibah.

Bapak Pembangunan Nasional, demikian julukan bagi Presiden Soeharto. Konsep Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) diperkenalkan untuk memberi panduan yang jelas bagi bangsa ini dalam melakukan pembangunan. Presiden Soeharto melakukan pembangunan disegala bidang, namun yang menjadi fokus perhatiannya berakar dari pemikiran seorang bijak yang tumbuh dari rakyat kebanyakan yaitu " cukup sandang, pangan, sehat, berpendidikan, dan taat beribadah."

Kepemimpinan Presiden Soeharto tak hanya berkembang ditingkat nasional, akan tetapi turut berkiprah juga dalam memajukan perdamaian dunia. Beliau menjadi aktor sentral yang mendirikan dan mengembangkan Organisasi Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan menggelorakan Dasa Sila Bandung sebagai hasil dari Konferensi Asia Afrika (KAA).

Kiri atas : pesawat telepon asli yang digunakan saat penumpasan G30S/PKI; Kanan atas : tongkat komando asli milik Pak Harto selama menjadi Pangkostrad; Kiri bawah : revolver asli yang digunakan Pak Harto selama menjadi Pangkostrad; Kanan bawah : replika mobil dinas Pak Harto dalam penumpasan G30S/PKI (mobil dinas asli dipamerkan di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya)

Presiden Soeharto juga semakin mendorong terciptanya perdamaian dunia dengan mengembangkan pengiriman pasukan perdamaian ke beberapa negara yang dilanda konflik. Presiden Soeharto semakin dihormati dan disegani setelah berhasil memimpin Gerakan Negara Non Blok. Dan untuk ikut aktif mendorong perkembangan ekonomi dunia khususnya kawasan Asia Pasifik maka Presiden Soeharto membawa Indonesia menjadi aktor utama pengembang APEC.

Dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto ini pula Indonesia berhasil mengembangkan teknologi Alutsista (Alat utama sistim pertahanan) yang luar biasa yakni menciptakan Pesawat terbang dan Senjata bagi TNI melalui Pindad.

"Jadi bukan saat ini baru diciptakan semua persenjataan TNI, akan tetapi sudah sejak era Presiden Soeharto program itu ada, terealisasi, dan akhirnya semakin dikembangkan oleh generasi penerus saat ini," jelas Kepala Museum Dharma Bhakti Kostrad, Kapten Munir kepada Cendana News sambil menunjukkan foto-foto saat Presiden Soeharto bersama Menristek BJ Habibie meresmikan Pesawat terbang dan senjata serbu milik TNI.


Pemimpin Besar Yang Ikhlas

Setelah tidak lagi menjadi Presiden RI, maka Pak Harto lebih banyak mencurahkan waktu dan pengabdian pribadinya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Ada sebagian kecil masyarakat yang merasa tidak puas atas kepemimpinan Pak Harto selama menjadi pucuk pimpinan Republik Indonesia. Namun sebagian besar warga masyarakat secara diam-diam mendoakan dan berterimakasih atas kepemimpinannya selama 32 tahun di Republik Indonesia.

Tak mudah bagi Pak Harto menjalani hari tua dengan dibayangi dinamika ketidakpuasan era reformasi. Berkali-kali Pak Harto dirawat di rumah sakit sampai akhirnya tepat hari minggu tanggal 27 Januari 2009 pukul 13.10 WIB beliau meninggalkan rakyat, bangsa, dan negara yang dilindungi serta dibelanya mati-matian selama hidupnya sebagai seorang prajurit.

Jenderal Besar TNI HM.Soeharto berpulang ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
Figur Jenderal Besar TNI HM.Soeharto merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya dengan bersahaja layaknya aliran air sungai yang tenang.

" Pak Harto adalah seorang prajurit terbaik yang pernah memimpin Kostrad. Apapun yang beredar pada segelintir orang tidak akan pernah bisa menyangkal pengabdian dan keikhlasan sebagai seorang prajurit TNI dalam mengawal kemerdekaan, UUD 1945 dan Pancasila," pungkas Munir menutup pembicaraan dan kebersamaannya dengan Cendana News.

Pak Harto sudah tiada, akan tetapi semangat dan pengabdian beliau tetap abadi di Museum Dharma Bhakti Kostrad hingga hari ini.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: