KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

LARANTUKA --- Sebanyak 24 kepala keluarga asal Desa Lamatwelu Adonara Timur yang direlokasi oleh pemerintah sejak tahun 2007 ke lokasi Translok Lewokeda Kecamatan Ile Boleng harus swadaya mendapatkan air.

Kebun sayuran yang baru dibuka warga Translok Ile Boleng setelah memiliki sumur bor
Untuk membayar biaya pegeboran sumur air,warga harus mengumpulkan uang sebanyak 40 juta rupiah serta mengeluarkan biaya makan minum operatornya selama seminggu bekerja.

“Uang kami kumpul sendiri dan setiap keluarga memberikan sesuai kemampuannya.Ada yang 5 juta,ada yang cuma 1 juta dan ada yang bisa memberi 7 juta rupiah,” ujar Lambertus Kopong Keda.

Warga Translok Lewokeda yang ditemui di lokasi relokasi pengungsi Rabu (31/8/2016) ini mengaku warga bersemangat mengumpulkan uang agar bisa mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air baru didapat sebulan yang lalu, sebelumnya kami mengambil air dari sumur di pinggir pantai dan terkadang beli satu jeriken 2.500 rupiah,” terangnya.

Selama 9 tahun tinggal di lokasi pengungsian akibat konflik antar desa sebut Lambertus, warga harus bersusah payah mendapatkan air. Meski bersusah payah mencari dana. Sambungnya, warga nekat meminta petugas untuk membor air di tempatnya.

“Saat itu ada petugas sumur bor sedang bertugas di desa Lewokeleng dan kami minta bor disini.Mereka sepakat untuk bor air di wilayah kami dengan biaya 40 juta rupiah,” sebutnya.

Warga Translok Lewokeda di Kecamatan IleBoleng
Warga lanjut Lambertus, swadaya sendiri dengan menjual hewan, gadai barang berharga dan apa saja yang bisa menghasilkan uang. Pihaknya harus mengeluarkan uang hampir 60 juta rupiah untuk mendapatkan air.

“Warga pontang-panting cari uang buat biaya pengebiran air karena kerinduan mereka untuk mendapatkan air,” sebutnya.

Setelah mendapatkan air, tutur Lambertus, warga pun mulai memanfaatkannya untuk menanam sayuran untuk dijual. Warga pun kini mulai mendapatkan manfaatnya dan bersemangat menanam sayuran dan tanaman lainnya yang menghasilkan uang.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: