JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Resah melihat banyaknya limbah cair dan padat seperti botol bekas kemasan minuman, warga Dusun Jatimulyo, Srimartani, Piyungan, Bantul, Eliza, mencoba memanfaatkannya sebagai media bercocok-tanam dengan sistem akuaponik. Di luar dugaan, tanaman yang dihasilkan ternyata mampu menambah penghasilannya.

Eliza menyemprot tanamannya
Seringkali limbah cair seperti air kolam ikan membuat persoalan tersendiri bagi warga yang lahan kolamnya tak cukup strategis untuk dibuatkan saluran pembuangan. Juga keberadaan botol-botol plastik bekas kemasan air mineral acapkali berserakan dan hanya dibakar yang justru semakin menambah polusi. Hal itulah yang melatar-belakangi Eliza untuk bercocok tanam dengan sistem akuaponik. Dengan sistem akuaponik, limbah padat dan cair tersebut bisa dipadukan hingga membuahkan hasil.

Akuaponik, menurut Eliza, adalah sistem pertanian berkelanjutan yang mengkombinasikan akuakultur dan hidroponik dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam proses tersebut, terjadi hubungan mutualistis antara limbah air dari kolam ikan yang dimanfaatkan oleh tanaman sebagai sumber nutrisinya.

Berkebun dengan sistem akuaponik
Eliza yang ditemui Jumat (23/9/2016), mengatakan, tanaman yang cocok dibudidayakan dengan sistem akuaponik adalah sayur-sayuran, karena masa panennya yang relatif cepat. Eliza sendiri memilih menanam selada merah. Dengan sistem akuaponik yang memanfaatkan limbah air kolam ikan lele miliknya, tanaman selada merahnya mampu berkembang dengan baik.

Menurutnya, limbah air kolam ikan lele mengandung zat hara dan nutrisi yang memungkinkan tanaman selada bisa tumbuh subur tanpa adanya media tanah. Bahkan, dengan sistem akuaponik itu kebutuhan air tidak harus selalu mengalir, melainkan hanya perlu ditambah ketika air sudah terlihat berkurang.

Eliza membuat lahan akuaponik di belakang rumahnya, dengan menyusun botol-botol bekas kemasan minuman sebanyak kurang lebih 300 buah menjadi vertikal garden atau kebun bertingkat dengan kerangka dan rak dari bambu. Hal ini dilakukan agar botol-botol yang digunakan sebagai media tanam tidak mudah ambruk ketika tanaman mulai besar.

Akuaponik
Dengan sistem akuaponik, kata Eliza, biaya produksi juga menjadi jauh lebih murah dibanding dengan sistem konvesional. Pasalnya, dengan memanfaatkan air limbah sebagai sumber nutrisi, artinya tidak perlu lagi membeli nutrisi atau pupuk. Sementara dalam perawatannya sehari-hari juga mudah.

"Hanya perlu memantau kedalaman air dan menambahnya jika kurang, dan menyemprot daun-daunnya dengan air untuk menghilangkan debu yang menempel" pungkasnya.
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: