KAMIS, 8 SEPTEMBER 2016 

BALI --- Teknologi infrastruktur ramah lingkungan diperkenalkan di Bali. Pada acara Sustainable Structures for Future Generation, beberapa negara mempresentasikan teknologi infrastruktur canggih yang mereka miliki. ‎

Ali Awaludin, Wakil Ketua Panitia Sustainable Structures for Future Generation, 
‎Wakil Ketua Panitia Sustainable Structures for Future Generation, Ali Awaludin menuturkan,‎ dari Indonesia sendiri ada sembilan karya yang akan dipresentasikan pada simposium acara tersebut. "Ada karya sembilan siswa yang tengah sekolah di Indonesia. Ada dari UGM, Undip, Unan, Unibraw, ada sembilan seluruhnya. Kami mengajak pemerintah untuk melihat teknologi konstruksi yang berkelanjutan, di mana infrastruktur kita bisa lebih bersahabat dengan lingkungan, sehingga beban atau impact-nya bisa kita minimalkan," kata Ali, Rabu 7 September 2016.

Menurutnya, pertemuan ini untuk menemukan formulasi teknologi infrastruktur ramah lingkungan yang akan diadopsi oleh para peserta. Hal ini penting, lantaran bahan-bahan infrastruktur akan terus menua dan akan menjadi beban ‎bagi lingkungan.

"Kita harus fikirkan itu, karena biaya untuk merehabilitasi, merenovasi itu kan besar. Diharapkan nanti kita bisa tahu arah infrastruktur kita itu seperti apa. Kita berharap akademisi, praktisi termasuk dari industri maupun pemerintah memikirkan ke sana," harapnya.

Ali berharap teknologi ramah lingkungan dapat segera diimplementasikan. ‎ "Kita harap sinergi ke sana, tidak lagi hanya sekadar membuat konstruksi yang memang hanya kebutuhan sesaat. Kebutuhan kita apa, tapi juga harus kita pertimbangkan dengan kondisi lingkungan," ungkap Ali.

"Perwakilan dari Belanda menceritakan bagaimana beton yang bisa memperbaiki retaknya sendiri dari dalam betonnya, tidak kita perbaiki. Namanya self healing. Karena ada bakteri, maka retaknya merapat dengan sendirinya," paparnya.

Tak hanya itu, perwakilan dari Jerman juga memaparkan bagaimana mengganti semen untuk membuat beton. "Kawan-kawan dari Jerman memaparkan me-replace atau mengganti sebagian kebutuhan semen dalam beton, karena diketahui produksi semen itu menimbulkan emisi CO2 yang tinggi, tapi sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikannya," katanya.

Dalam pertemuan itu juga akan dipaparkan teknologi gedung yang ramah terhadap lingkungan. Di Eropa, Amerika dan Selandia Baru sudah familiar dengan bahan-bahan bangunan dari kayu.‎ "Tapi sifatnya dibuat seperti kayu lapis. Disana sudah sangat favorit. Jadi nanti kalau ada gempa dan terjadi kemiringan bangunan, bisa balik lagi berdiri tegak. Kalau bangunan umumnya jika terjadi kemiringan untuk mengembalikannya harus menggunakan teknologi, tidak bisa dengan manual karena berbahaya. Apalagi cost-nya juga tinggi," urainya.

Ia berharap Indonesia bisa mengadopsi teknologi tersebut. ‎"Kita perlu menuju ke sana. Di Indonesia sendiri sudah berkembang optimasi di dalam pemakaian struktur. Ada beberapa kita masukkan dan beberapa penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan," tutupnya.
(Bobby Andalan)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: