SELASA, 20 SEPTEMBER 2016

CATATAN KHUSUS --- Sampai kapan pun, di mana pun, para pengikut palu arit akan senantiasa berdenyut, sembunyi dalam kabut, dan kerap menebar kalut. Barangkali sudah titah mereka, untuk selalu menjadi ancaman yang laten. Mereka terampil menyusupkan Marxisme-Leninisme-Komunisme ke dalam berbagai piranti, tanpa diketahui para awam. Mereka terbiasa bergerak dalam sunyi, tapi mampu menancapkan belati, tanpa ada yang mengerti.

Mereka selalu bisa menyusupkan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI) ini dengan cara sangat halus melalui media massa, kesenian sastra, kethoprak, tonil, teater, buku-buku umum maupun pelajaran, sosial media, hingga film. Inilah yang membuat para pemeluk Pancasila sangat antipati dan jengah dengan PKI. Tapi, pada era sekarang ini, pada era muda-mudi yang sudah mencampakkan kertas dan lebih memilih dunia digital android (generasi Z), denyut palu arit akan lebih banyak berjangkit dalam berbagai pita seluloid.

Pelan-pelan, mereka membela para komunis sebagai korban. Mereka, baik dari asing maupun putra-putri pribumi, meyakinkan muda-mudi generasi Z bahwa PKI itu tidak bersalah. Lalu, mereka yang asing melantunkan pembelaaan atas kelompok palu arit Indonesia ke dalam film The Act of Killing (Jagal, 2012) dan The Look of Silence (Senyap, 2014) karya Joshua Oppenheimer, serta The Year of Living Dangerously (sebuah film drama romantik Australia, berkisah tentang petualangan seorang wartawan Australia yang ditugaskan meliput situasi di Jakarta pada tahun 1965, tepatnya sebelum hingga saat peristiwa G30S-PKI, dan dilarang tayang pada masa orde baru).

Denyut Kewaspadaan Terhadap Palu Arit dalam Bioskop Internasional

Sejak awal abad 20 hingga sekarang, dunia masih gelisah dan membahas palu arit ini terus menerus. Meskipun sebagian besar Negara komunis sudah bangkrut, tema-tema pembelaan maupun kecaman komunis, masih terus mewarnai berbagai produksi film Hollywood, film eropa, dan berbagai produsen film dunia lainnya. Perang dingin itu masih terus berjalan, sebenarnya.

Tak percaya? Rasakanlah sendiri aroma pembahasan palu arit itu dalam film produksi Hollywood berjudul SALT (Amerika, 2010), yang bercerita tentang Evelyn Salt (diperankan Angelina Jolie). Salt adalah agen CIA unggul yang berhasil dibebaskan dari siksa penjara Negara komunis Korea Utara. Namun, ketika kembali pulang, Salt dituduh sebagai mata-mata dari Rusia yang sejak muda ditanam di Amerika Serikat untuk dapat menyusup ke CIA. Salt pun harus lari demi membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Inspirasi film ini terkait dengan berbagai laporan adanya mata-mata Rusia yang dengan sempurna menyamar sebagai warga AS sejak perang ideologi antar kedua Negara, usai Perang Dunia II.

Dalam film WATCHMENT (Amerika Serikat, 2009), Amerika juga memproduksi kisah perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Selain adu ideologi, kedua negara ini saling adu teknologi senjata nuklir yang dampaknya dapat mengancam keselamatan bumi. Perang ideologi AS dan Uni Soviet juga menjadi motivasi utama rangkaian peristiwa yang menimpa kelompok superhero Watchmen dalam kisah ini.

Sebuah film pertarungan kehidupan Mutant pun, berjudul X-MEN: FIRST CLASS (Amerika Serikat, 2011) dibumbui dengan kewaspadaan terhadap komunis oleh sutradara Hollywood. Lihatlah bagaimana peristiwa perang dingin diberi sentuhan X-Men. Kita dibawa masuk dalam cerita tentang Sebastian Shaw (Kevin Bacon), sebagai dalang di balik peperangan antara AS dan Uni Soviet. Tujuannya, menghancurkan umat manusia dan memulai peradaban baru kaum mutant yang dianggap spesies unggul. Shaw juga bertanggung jawab atas krisis nuklir Kuba, yakni ketika Uni Soviet mengirimkan senjata nuklirnya untuk ditempatkan di Kuba, sebuah tempat sangat strategis untuk menyerang wilayah AS.

Kerajaan Inggris pun tak mau ketinggalan dengan Amerika. Mereka juga menyelipkan isu bahaya gerakan komunis internasional dalam narasi pita seluloid berjudul TINKER TAILOR SOLDIER SPY (Inggris, 2011). Sebuah narasi apik masa perang dingin tahun 1970-an. Dalam film ini, tokoh utama George Smiley (Gary Oldman) ditugaskan untuk menyelidiki adanya mata-mata dan pembelot untuk Uni Soviet di dalam badan intelijen rahasia Inggris, MI6. Persoalan ini semakin rumit, karena diyakini, orang tersebut adalah salah satu dari empat pejabat tertinggi di MI6.

Sedangkan Perancis, membuat propaganda dengan film bertema komunis berjudul PERSEPOLIS (PERANCIS, 2007). Sebuah kisah tentang Marjane Sartrapi (diperankan Chiara Mastroianni) di Iran yang memiliki latar belakang keluarga penganut komunisme. Kakeknya yang komunis dan berdarah ningrat pernah dipenjarakan oleh rezim Shah (raja), pemerintahan tiran yang didukung negara-negara Barat. Paman yang dikagumi Marjane, Anouche, adalah lulusan Uni Soviet dan motor gerakan komunis di Iran melawan pemerintahan Shah. Namun, ketika Shah berhasil lengser, Anouche dieksekusi oleh pemerintahan yang terbentuk setelah Revolusi Islam 1979 yang juga antikomunis.

Tak mau ketinggalan, Negara Jerman, tempat Karl Marx berasal, juga banyak membuat tema berideologi komunis. Salah satunya melalui film THE LIVES OF OTHERS (Jerman, 2006). Sebuah film berlatar tahun 1980-an. Film pemenang Oscar ini mengambil waktu ketika Jerman masih terbelah dua berdasarkan ideologi, dan banyak warga yang melarikan diri dari kekangan pemerintah Jerman Timur menuju Jerman Barat. Seorang agen pemerintah komunis Jerman Timur, Gerd Wiesler, diperintahkan untuk mengawasi dan mencatat segala kegiatan seniman teater bernama George Dreyman (Sebastian Koch). George dicurigai telah membelot ke Jerman Barat yang liberal. Namun, menyadari niat tak murni dari perintah ini, lambat laun, Wiesler malah bersimpati, bahkan melibatkan diri secara tersembunyi ke kehidupan Dreyman untuk menyelamatkannya.

Selain Negara adidaya, Negara Asia yang sedang menggeliat berjuluk Korea Selatan, juga membuat film bertema komunis berjudul TAEGUKGI: THE BROTHERHOOD OF WAR (Korea Selatan, 2004). Film fiksi tentang dua bersaudara di tengah kecamuk perang ini dilatarbelakangi Perang Korea tahun 1950-an. Pada satu titik, kedua bersaudara ini (diperankan Jang Dong-gun dan Won Bin) harus saling berhadapan, karena berada di pihak yang berlawanan. Perang ini sendiri dipicu oleh perbedaan ideologi: Korea Utara yang didukung Uni Soviet dan Cina penganut komunisme, melawan Korea Selatan yang didukung Amerika Serikat penganut demokrasi liberal.

Denyut palu arit juga diwaspadai dalam sebuah film yang diproduksi oleh tiga Negara adidaya sekaligus berjudul CHE: PART ONE (Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, 2008). Bagian pertama dari film biografi total berdurasi empat jam lebih ini menceritakan kisah nyata Ernesto Che Guevara (Benicio del Toro) mendukung perjuangan Fidel Castro (DemiÃn Bichir) dalam memimpin gerakan revolusi bersenjata menurunkan kediktatoran pro-AS di Kuba tahun 1959. Sesuai catatan sejarah, setelah keberhasilan revolusi ini, beberapa tahun kemudian, Castro sebagai pemimpin Kuba membentuk partai komunis, dan sampai sekarang partai ini masih berkuasa secara tunggal di negara kawasan Karibia itu.

Berbagai contoh film di atas, hanyalah beberapa contoh dari banyak film beraroma komunisme yang meledak di Box Office dunia. Sebenarnya, masih banyak sekali jumlah film beraroma komunisme, hingga tak bisa disebutkan dengan jari. Belum lama ini, Hollywood juga memproduksi film beraroma komunisme juga berjudul Bridge of Spies pada 2015. Sebuah film bergenre biodrama thriller yang disutradarai oleh Steven Spielberg berdasarkan skenario karya Matt Charman dan Ethan Coen & Joel Coen. Bridge of Spies berlatar tragedi 1960 tentang tragedi pilot U-2 yang tertembak jatuh di kawasan Uni Soviet. Lalu, pengacara asal Brooklyn, James B. Donovan (Tom Hanks), dilibatkan pada peristiwa perang dingin ketika dia menerima misi menegosiasi pembebasan atas Francis Gary Powers, pilot U-2 yang tertembak di Uni Soviet.

Denyut Palu Arit pada Masa Orde Lama  

Geliat film beraroma komunisme juga marak di Indonesia sejak masa presiden Soekarno. Pada sekitar tahun 1957, ketika kondisi politik di Indonesia didominasi golongan komunis PKI (disebut golongan kiri), golongan kiri menguasai dunia perfilman kala itu. Mereka mendirikan Sarikat Buruh Film dan Sandiwara (Sarfubis), meskipun kelompok ini melempem di pasaran. Meskipun, pada tahun 1964, saat pertama kalinya diadakan Festival Film Asia Afrika (FFAA) di Jakarta, Golongan kiri yang menguasai seluruh kepanitiaan FFAA mencetuskan berdirinya PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika).

Dari pusat per-film-an Sinematek, tercatat, sebagaimana dirautkan Salim Said di jurnal Prisma (1978: 80-89), pernah diterbitkan daftar karya sutradara kiri. Dari 1957-1965, saat PKI mendominasi pemerintahan Indonesia, ternyata hanya ada 26 film yang diproduksi oleh para sutradara kiri yang tergabung dalam LEKRA. Bahkan, Said menyimpulkan dengan nyinyir : film-film buatan Lekra tak ada yang layak diwarisi untuk “memperkaya khasanah keanekaragaman corak film Indonesia” (Said, 1978: 88).

Para sutradara kiri itu, menurut Said, antara lain Bachtiar Siagian (Lekra), Basuki Effendi (Lekra), Tan Sing Hwat (Sarekat Buruh Film dan Sandiwara/Sarbufis), Waldemar Caerel Hunter/S. Waldy (Sarbufis), Ahmadi Hamid (Lekra), Amir Jusup (Lembaga Kebudayaan Nasional/LKN), Kotot Sukardi (Lekra), Bambang Hermanto (Panitia Penggayangan Film Imperialis Amerika Serikat/PAPFIAS), Agus Muljono (PAPFIAS), Sunjoto Adi Broto (LKN), dan Ruslizar (Lembaga Seni Budaya Indonesia/LESBI).

Budiarto Danujaya menguatkan pendapat Salim Said pada 1992 melalui artikelnya berjudul "Hari-Hari yang Paling Riuh" di buku Layar Perak 90 Tahun Bioskop di Indonesia (1992: 66-84). Di akhir tulisannya ia menyimpulkan, “periode 1962-1965 sungguh masa-masa yang berat bagi dunia film dan bioskop kita. Bangunan film rusak secara menyeluruh.” Bagi Budiarto, Lekra bukanlah orang-orang yang bersungguh-sungguh memajukan dunia bioskop dan film. Lekra cuma ingin mempolitisir dunia bisnis hiburan ini untuk memperluas kepentingannya dalam bidang kebudayaan (Danujaya, 1992: 68). PARFIAS sendiri juga tak mampu menggangkat perfilman Indonesia, sehingga kondisi bioskop pada masa orde lama itu sepi pengunjung.

Dalam agenda propaganda film kiri Lekra tersebut, Bachtiar Siagian adalah pelopornya. Ia adalah sutradara Indonesia dan seniman Lekra yang paling misterius. Karyanya sebagai sutradara film, barangkali tinggal kepingan ingatan beberapa orang Indonesia sezamannya yang masih hidup. Pasca-peristiwa G30S, tentara membumihanguskan karya-karyanya, bersama film-film bikinan seniman Lekra lainnya.

Pada saat meletus Gerakan 30 S/PKI, Bachtiar ditangkap, karena waktu itu ia menjabat sebagai Ketua Indonesia Film Institution di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebuah lembaga yang terkait erat dengan Partai Komunis Indonesia. Akibatnya, ia sempat mendekam lama di Pulau Buru, dan baru bebas 1977.

Karya film kiri Bachtiar tak bisa lagi dilihat dalam lusinan gulungan seluloid, karena telah dihancurkan. Tapi, ternyata, Sinematek masih menyimpan satu atau dua judul, dengan kondisi yang sudah compang-camping. Memang, Jumlah film yang dihasilkan orang Lekra terbilang sedikit. Namun, beberapa skenario film Bachtiar, termasuk Corak Dunia, masih tersimpan di perpustakaan Sinematek. Jika Anda berkesempatan melancong ke Vietnam, Korea Utara, RRC, Rusia, atau negeri-negeri bekas Blok Timur lainnya yang dulu turut serta dalam Festival Film Asia-Afrika (1964), mungkin masih ada karya Film kiri Bachtiar berjudul Corak Dunia, Turang, Piso Surit, Daerah Hilang, dan banyak lagi yang lainnya.

Dari berbagai film yang dihasilkan sineas beraliran kiri pada periode 1950-1965, tinggal ada dua film yang tersisa di Sinematek. Dua film peninggalan Sineas Komunis Indonesia yang masih tersisa adalah Si Pintjang, karya Kotot Sukardi pada 1951. Yang kedua adalah film Violetta, film yang ditulis dan disutradarai Bachtiar Siagian pada 1962.

Dari dua film itu, hanya Violetta yang masih bisa ditonton—itupun terpotong lima sampai sepuluh menit pada beberapa bagian yang rusak. Si Pintjang kondisinya sudah terlampau buruk, bahkan untuk direstorasi. Dua-duanya hingga kini masih tersimpan di Sinematek Indonesia, lembaga arsip film bentukan Misbach Yusa Biran—seorang penentang komunis yang keras. Pada April 2013 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta Sinematek Indonesia melakukan digitalisasi 29 film Indonesia yang dianggap klasik—salah satunya Violetta.

Kisah Violetta berkutat pada Indraningsih (diperankan oleh Fifi Young), seorang kepala sekolah khusus wanita, dan Violetta (Rima Melati), anaknya, dan Kopral Herman yang berpacaran dengan Violetta. Namun, Violetta akhirnya terbunuh oleh peluru Kopral Herman.

Jika ditelisik, Bachtiar Siagian belajar sinema lewat buku Vsevolod Pudovkin—seorang sutradara Rusia yang paling berpengaruh terhadap teori montase, selain Lev Kuleshov dan Sergei Eisenstein. Latar belakang ini membuat Violetta mirip film Pudovkin yang berjudul Mother, yang diinspirasi oleh novel berjudul sama karya Maxim Gorky (novelis komunis dari Rusia).

Dalam film ini, ada karakter tentara yang tidak antagonistik. Kopral Herman adalah seorang yang diceritakan dekat dengan rakyat. Ia memberi permen pada anak-anak sekitar. Ia juga suka membantu, sehingga kadang penduduk setempat memberinya hasil ternak atau kebunnya. Sampai dengan akhir film, Kopral Herman tetap muncul sebagai seorang yang simpatik, meski ia menembak penduduk sipil tak bersenjata tanpa ada konsekuensi hukuman apapun.

Dalam film Violetta, agaknya, Bachtiar menyusupkan konsep realisme sosialis dalam film Violetta melalui penggambaran tentara sebagai seorang pekerja. Kopral Herman adalah seorang yang tambun, kadang bodoh, genit, dan mengaku suka menyabung ayam. Bukan sosok tentara yang gagah, nasionalis, dan pandai dalam bersenjata. Tentara, dalam Violetta, tidak diidealisasi sebagai fitur otoritas. Bukan tidak mungkin, ejekan yang dilontarkan tokoh-tokoh lain kepada Kopral Herman dalam film ini, dimaksudkan sebagai sebuah satir yang subversif kepada tentara.

Bagaimanapun, Film Violetta adalah salah satu karya Film tokoh komunis Lekra yang bisa kita lihat. Saat itu, dengan semboyan politik adalah panglima, Lekra membuat lembaga kreatif yang menangani film, yakni Lembaga Film Indonesia (LFI) pada Maret 1959. Di Kongres I Lekra di Solo, Bachtiar Siagian dan Kotot Sukardi terpilih sebagai ketua dan wakil ketua LFI.

Selain Violetta, Film Si Pintjang karya Kotot Sukardi tak kalah menarik diperbincangkan. Karena Kotot adalah sutradara LEKRA sekaligus pegawai Kementrian Penerangan yang membuat “Si Pincang” (1952). Film Si Pincang adalah film perjuangan juga yang dinilai sarat dengan ideologi Marxisme-Leninisme melalui film dan diikutkan dalam Festival Film Internasional di Karlovy-Vary (Cekoslovakia) tahun 1952.

Film Si Pintjang adalah sebuah kisah tentang tokoh Giman yang pincang sejak lahir di Yogyakarta. Sebenarnya, ia anak keluarga petani yang tergolong cukup. Tapi, perang memporak-porandakan keluarganya. Dalam suatu serangan udara pada jaman penjajahan Belanda, nenek Giman meninggal dunia. Si Pincang terlunta-lunta, tapi tetap berdikari dalam mencari sesuap nasi. Di kota Yogya, ia hidup bersama pengemis dan pencopet cilik. Persatuan mengikat anak-anak "gelandangan" itu. Ternyata, ayah dan abang Giman masih hidup. Mereka menemukan Giman di asrama anak-anak terlantar itu.

Saat itu, Lekra sudah memiliki kesadaran penuh, bahwa Film adalah piranti yang efektif dalam menyebarkan ideologi. Bagi Lekra, karya Film bisa dijadikan Prolekult dan usaha memikat hati rakyat dengan cara halus tersembunyi. Para seniman dan Sineas LEKRA dengan sadar memilih tema-tema yang dengan penuh sentimentalitas dan mendramatisir hidup dan suka-duka kaum gembel, menjadi “pahlawan-pahlawan” kaum proletar/komunis, sambil dengan bersemangat menyanyikan lagu Internasionale.

Bagi Lekra, film tak hanya soal bagaimana membuat, mendistribusikan, dan menonton di bioskop. Sutradara kiri macam Tan Sing Hwat sadar, sejak Ptolemy pada 130 M mendiskusikan soal bayang-bayang dan optik untuk kali pertama, film dipakai sebagai alat pengetahuan dan pendidikan. Film menjadi produk kebudayaan, karena itu posisinya sangat politis. "Yang memisahkan film dari politik hanya pikiran pedagang," kata sutradara Komunis Indonesia Tan Sing Hwat (HR, 2 Sept 1964).

Perlawanan Kepada Film Kiri

Berbagai gerakan komunisme dalam film di masa orde lama, telah memicu perlawanan dari kalangan Sineas Anti Komunis. Misalnya, Misbach Yusa Biran membuat film berjudul Operasi X. Isinya menuturkan tugas rahasia seorang anggota RPKAD yang diselundupkan ke sarang gerakan bawah tanah PKI untuk bisa membongkar jaringan mereka. RPKAD, cikal bakal Kopassus, adalah adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat. Ketika di bawah kendali Sarwo Edhi Wibowo (mertua Presiden SBY), RPKAD berperan besar dalam penumpasan PKI.

Dalam situasi seperti ini, sutradara Wim Umboh membikin film antikomunis berjudul Sembilan. Film Sembilan hendak menggambarkan perlawanan terhadap serangan bajak laut dari luar. Perlawanan itu dilakukan bersama-sama oleh sembilan suku. Film ini hendak menunjukkan bagaimana komunisme bekerja sembari menyelaraskannya dengan anjuran Presiden Soekarno. Sayangnya, kata Misbach, setelah jadi film, penonton tidak bisa merasa bahwa gambaran dalam film itu adalah sama dengan anjuran Presiden Soekarno. Orang lebih banyak mengagumi tata warnanya serta aneka warna busana yang direncanakan oleh Teguh Karya. Tidak mengherankan lantaran Sembilan adalah film Indonesia pertama yang berwarna—tidak lagi hitam putih.

Perlawanan terhadap propaganda PKI dalam Film mengalami puncak pada Film berjudul Pengkhianatan G30 S/PKI yang mengisahkan tentang peristiwa pada malam 30 September dan pagi 1 Oktober 1965 di Jakarta. Film ini adalah dokudrama tahun 1984 yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer. Sebuah film yang diproduseri oleh G. Dwipayana, dan dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa.

Film yang diproduksi selama dua tahun dengan anggaran sebesar 800 juta rupiah itu, menggambarkan masa menjelang kudeta dan beberapa hari setelah peristiwa tersebut. Dalam kala kekacauan ekonomi, enam jenderal diculik dan dibunuh oleh PKI. Film ini adalah film dalam negeri pertama yang dirilis secara komersial dan menampilkan peristiwa 1965 tersebut. Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI meraih sukses secara komersial maupun kritis.

Denyut Palu Arit pasca Reformasi

Setelah Orde Baru lengser, denyut palu arit dalam pita seluloid menguat lagi. Upaya untuk membela para komunis melalui Film pada era reformasi sekarang ini, salah satunya terlihat melalui Film Lastri karya Eros Djarot yang menuai protes dari sejumlah masyarakat Surakarta pada 2008, saat di lokasi syuting. Menurut masyarakat Surakarta, Film Lastri menyebarkan paham komunisme, karena tokoh Lastri adalah bagian dari Gerwani.

Film Lastri ini mengangkat tema percintaan antara Lastri dan Ronggo, muda-mudi yang aktif di organisasi under bow PKI. Cinta mereka tak berakhir di pelaminan, karena mereka menjadi buronan pemerintah. Setelah mengira Ronggo telah tertangkap dan dibunuh, Lastri menikah dengan seorang perwira TNI. Ditambah lagi, judul film Lastri sebagai tokoh perempuan di film ini ditulis dengan tatanan huruf Last RI (berakhirnya Republik Indonesia). Ini semakin menambah kecurigaan masyarakat bahwa film ini memang mengusung komunisme.

Selain Eros Djarot, Film-film beraroma komunis banyak lahir dari Hanung Bramantyo. Konon, karena kagum dengan Komunisme, pernah ringtone hand phone Hanung bernada lagu khas Gerwani PKI, Genjer-Genjer.

Salah satu Film Hanung yang beraroma komunis adalah Perempuan Berkalung Sorban yang diambil dari karya Novel Abidah El Khaleqy. Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan Kyainya. Pesantren dan Kyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, dan suka main bakar buku-buku komunisme.

Hanung juga pernah membuat film yang sangat kental bau komunisnya, berjudul Lentera Merah. Walau ini film horor, tapi latar belakang ceritanya yakni peristiwa tahun 1960-an. Dikisahkan dalam film, Lentera Merah adalah majalah kampus Universitas Nasional Indonesia (UNI) yang selalu kritis terhadap kondisi bangsa dan pemerintahan. Saat itu, tim redaksi angkatan 49 yang dipimping Iqbal sedang mencari anggota baru. Lalu seorang mahasiswi bernama Risa mengikuti audisi tersebut dan penampilannya langsung menarik perhatian Iqbal. Tapi, ternyata, Risa adalah seorang mahasiswi tahun 1965 yang tewas dikurung karena dianggap komunis.

Denyut komunisme juga digarap oleh duet maut Mira Lesmana dan Riri Riza dalam Film berjudul Gie. Film ini bercerita tentang Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai aktivis dan pecinta alam. Masa remaja dan kuliah Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Gie dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun.

Denyut Palu Arit paling kuat tergambar dalam Film Sang Penari yang dibesut Ifa Isfansyah. Film yang diangkat dari Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini mengisahkan cerita cinta tragis yang terjadi di sebuah desa miskin, bernama Dukuh Paruk. Tokoh utamanya, yaitu Srintil, adalah seorang penari ronggeng dengan Rasus yang berprofesi sebagai tentara yang berlatar belakang peristiwa 1965. Dalam film, warga desa tersebut kemudian bergabung dengan partai komunis, setelah diyakini akan terbebas dari kelaparan, kemiskinan, dan penindasan para tuan tanah yang serakah. Begitu juga Srintil yang akhirnya sering diminta partai komunis untuk mengisi acara kesenian rakyat agar bisa menarik massa. Ketika berlangsung G 30S-PKI 1965, Srintil dan warga Dukuh Paruk lainnya ikut ditangkap, karena dianggap ada keterlibatan dengan komunis.

Sedangkan geliat Palu Arit dalam Film bertema kaum Eksil komunis di Eropa, terasa dalam film drama "Surat Dari Praha". Film ini menceritakan sebuah percintaan yang terjadi di Praha. Ada seorang tokoh tahanan politik yang diasingkan akibat terkena sebuah kasus Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965. Tokoh itu tidak dapat kembali pulang ke Indonesia, Dan dia juga harus menetap di Praha

Cerita Surat Dari Praha berfokus pada seorang wanita muda bernama Laras (Julie Estelle) dengan pria paruh baya, Jaya (Tio Pakusadewo), orang Indonesia yang kini bermukim di Praha, Republik Ceko. Keduanya dikaitkan oleh sosok Sulastri (Widyawati), ibu Laras yang juga dahulu pernah dicintai Jaya. Laras mencari sosok Jaya, demi mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat yang ditulis Sulastri untuk Jaya, setelah Sulastri meninggal. Sosok Sulastri dalam Film ini, agak mirip dengan sosok Lastri anggota Gerwani yang digambarkan oleh Eros Djarot.

Selain Film Bioskop yang sarat dengan semangat Marxis-Leninis, seorang sutradara Erik Wirawan juga membuat film pendek tentang tokoh komunis Internasional dari Indonesia bernama Tan Malaka. Film ini, meskipun hanya berdurasi pendek, menggambarkan gelora perlawanan Tan Malaka dalam menghidupkan Marxisme di Indonesia.

Film pendek lain yang beraroma Lekra juga bisa kita lihat dalam Film Pulau Buru Tanah Air Beta yang dibesut Sutradara Rahung Nasution. Film "Pulau Buru Tanah Air Beta" karya sutradara Rahung Nasution ini bercerita soal bekas tahanan politik (tapol) Pulau Buru. Cerita berpusat pada seorang sastrawan anggota LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bernama Hersri Setiawan yang bernostalgia kisahnya hidup di Pulau Buru sebagai tapol.

Ia adalah sastrawan yang saat itu karyanya tak diakui pemerintah. Di sepanjang film, kita juga akan sekaligus menikmati puisi-puisi karya Hersri. Di Pulau Buru, selama jadi tahanan politik, Hersri tak pernah berniat kabur. Pilihan yang ia tetapkan untuk dirinya adalah dibebaskan atau mati dipenjara - dengan tetap merawat harapan untuk pulang.

Gayung bersambut, tahun 1977-1979, tahanan Buru dibebaskan. Dalam film tersebut, diceritakan interaksi antara warga lokal, pendatang dan juga para tahanan politik. Di ujung film, tampak Hersri bicara di depan warga Pulau Buru. Di situ, ia juga 'menggugat' Pemerintahan yang saat ini dipimpin Presiden Joko Widodo: "Apakah pernah bicara soal kawan-kawan?"

Bagaimanapun, denyut palu arit dalam pita seluloid terus menguat pasca reformasi ini. Tentunya, ini akan menimbulkan reaksi keras dari para kelompok Anti Komunis untuk membuat Film anti palu arit. Apalagi, setelah banyak orang tahu, dalam sejarah Sinema Indonesia, hanya Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang memberi penghargaan Satya Lencana Kebudayaan bidang Sinema kepada tokoh Sineas pendiri Lekra berideologi komunis bernama Kotot Sukardi. Bagaimana menurut pendapat anda sebagai Dirjen Kebudayaan, kawan Hilmar Farid?


THOWAF ZUHARON

Penulis Buku Ayat Ayat yang Disembelih
Lahir di Klaten, pada September 1982. Ibunya adalah keluarga santri Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Babat Klaten, sedangkah ayahnya dari keluarga santri Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Sejak kecil, telinganya telah mendengar kisah nyata dari Nenek dan Ibunya tentang kejamnya para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak kerabat dekat kakek-neneknya dari kalangan NU yang gugur, dibunuh dengan keji oleh para PKI, beberapa waktu sebelum meletus peristiwa Gestapu 1965. Kakeknya yang ada di Klaten, sebenarnya juga menjadi target pembunuhan para PKI sebelum 1965, tapi berhasil lolos. Buku ini (Ayat Ayat yang Disembelih) adalah dedikasinya untuk para keluarganya yang gugur dibunuh PKI. Sejak masih SMA, Thowaf Zuharon banyak berkecimpung di dunia riset, organisasi sosial, penulisan, dan bisnis. Ia banyak menulis Jurnalistik, Sastra, Artikel, dan berbagai genre penulisan lain di berbagai media dan buku. Berbagai penghargaan kepenulisan tingkat nasional pernah ia raih. Thowaf Zuharon berumah di facebook.com/thowafzuharon.
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: