SELASA, 20 SEPTEMBER 2016

PONTIANAK --- M Jafrie DA, pria kelahiran Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya selama 7 bulan merawat orangutan yang didapatnya dari seorang warga Kabupaten Landak. Selama ia pelihara, satu keluarga pun ikut merawat.


Dirinya bercerita, awalnya ia menerima orangutan ini karena kondisinya memperihatinkan. Anggota tubuhnya mengalami luka.

“Begitu dia ngasih langsung saya bawa ke Pontianak,” kata M Jafrie DA, ditemui di kediamannya, Selasa (20/9/2016).

Namun begitu, dirinya bingung setelah tiba di Pontianak. Karena, dirinya sadar memelihara orangutan tidak diperbolehkan menurut Undang-Undang.

”Sampai di sini saya pikir di mana saya serahkan,” ucapnya, mengingat awal memelihara orangutan itu.

Hari berganti, hingga tiga bulan lamanya ia rawat orangutan itu. “ 3 bulan baru bisa susu mau minum cair enak. Sehari abis 3 kali bikin kadang lebih,” ucapnya.

“Niatnya mau diserahkan tapi tidak tahu kemana,” lanjutnya.

Disebutkan, sejak bulan Februari 2016, orangutan yang diketahui berjenis kelamin jantan ini dipelihara seperti layaknya manusia. 

"Udah kayak merasa adek juga," tutur Nurul Anisa, yang memelihara orangutan di rumahnya.


Perempuan berhijab itu rutin memberikan susu formula dan buah-buahan. Tak hanya itu, primata yang dilindungi Undang-Undang ini, ia asuh.

"Hari-hari ya diasuh," ucapnya yang tak henti-hentinya menatap orangutan yang telah diberi nama Unyu ini. Karena hari ini adalah terakhir melihat Unyun, sebab diserahkan ke BKSDA Kalimantan Barat.

"Sedih, berat juga udah nyatu juga dengan keluarga. Hari-hari udah bersama. Paling sering sama bapak, saya sama mamak kadang masih ngeyel," tuturnya.

Lagi-lagi, ia menuturkan bawah merasa berat berpisah dengan Unyu. Sebab, ia merasa sudah dekat.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bergerak cepat setelah mendapat informasi adanya seorang warga memelihara orangutan. Info tersebut ditindaklanjutinya dengan menerjunkan sejumlah tim ke lokasi guna mengevakuasi satwa yang dilindungi Undang-Undang itu.


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Sustyo Iriono menyebut, penyerahan orangutan ini tanpa paksaan dari pemeliharahanya. Ia menegaskan, bahwa penyerahan ini melalui prosedur yang ada.

“Secara sukarela 1 individu orangutan diserahkan,” kata Sustyo Iriono.

Sustyo Iriono menyebut, kondisi satwa dalam keadaan sehat.Umur dan jenis kelamin diperkirakan 9 bulan. 

Dijelaskan Sustyo Iriono, asal satwa  didapat dari pondok masyarakat yang sedang berladang di Kabupaten Landak sekitar bulan Februari 2016.

“Selanjutnya satwa diamankan di kandang transit BKSDA Kalimantan Barat.  Untuk selanjutnya rencana dititip rawatkan dan direhabilitasi di YIARI, Kabupaten Ketapang,” ujar Sustyo Iriono. [Aceng Mukaram]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: