JUMAT, 9 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Peternakan dan Pertanian (Dispertan) Kota Solo, Jawa Tengah meminta masyarakat mewaspadai peredaran sapi pemakan sampah. Ini dikarenakan momentum Idhul Qurban menjadi kesempatan peternak sapi pemakan sampah untuk dijual  sebagai hewan qurban.


“Kita himbau untuk sapi yang digembala di tempat pembuangan sampah sebaiknya tidak digunakan untuk hewan qurban, karena tidak layak. Kita sarankan, untuk sapi yang biasa mencari makan di tumpukan sampah harus dikarantina selama 6 bulan jika memang akan digunakan untuk hewan qurban,” papar Kepala Dispertan Solo Weni Ekayanti disela-sela melakukan sidak hewan qurban, Jumat pagi ( 9/9/16).

Dijelaskan Weny, keberadaan Pempat Pembuangan Sampah  (TPA) Putri Cempo,di Mojosongo, Solo memang menjadi lahan tersendiri bagi warga sekitar untuk memelihara sapi, tanpa harus susah mencarikan rumput. Sebab, sebagian besar ternak warga justru dibiarkan mencari makan di tumpukan sampah. 

“Sebenarnya ini tidak sehat, karena sampah-sampah yang dimakan sapi ini sudah bercampur dengan  zat-zat yang berbahaya,” terang Weni.


Ironisnya, upaya Pemkot Solo untuk melarang atau mengkarantina hewan sebelum dijual selama ini tidak digubris. Warga peternak sapi justru terkesan menutup mata himbuan Dispertan yang menyebutkan sapi pemakan sampah tidak layak dikonsumsi jika langsung disembelih. 

“Kita sudah pernah uji daging sapi pemakan sampah ini mengandung timbal yang tentunya tidak baik untuk kesehatan kita. Tapi nyatanya tetap saja warga tidak mau mendengar,” keluhnya.

Sementara itu, salah satu pemilik sapi yang ada di lingkungan TPA Putri Cempo, Sugino mengaku memang sudah mendengar himbuan dari Pemkot Solo. Meski begitu, dirinya tetap menjual sapi miliknya tanpa dilakukan karantina selama 6 bulan. 


“Karena sudah kebutuhan bagaimana lagi. Kita jual juga tidak ada complain,” kata Sugino.

Menurut Sugino, jelang Idhul Adha ini dirinya sudah menjual dua ekor sapi miliknya. Harga sapi warga yang biasa dibiarkan memakan sampah di TPA Putri Cempo kisaran Rp 15 juta – Rp 20 juta per ekor. 

“Dua sapi saya jual ke Jakarta. Biasanya sudah ada pembeli datang ke warga dan menjualnya lagi ke kota-kota besar di Indonesia,” ungkapnya.

Ditambahkan, di lingkungan TPA Putri Cempo ada ratusan warga peternak sapi yang membiarkan hewan peliharaannya mencari makan di sisa-sisa sampah. Sementara jumlah sapi yang ada mencapai ribuan, yang setiap tahun juga dijual warga. 
(Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: