SELASA, 6 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Dari 177 Jemaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia yang tertahan di Philipina beberapa waktu lalu karena diduga menggunakan paspor palsu, ternyata dua di antaranya merupakan warga asal DI Yogyakarta. Keduanya merupakan pasangan suami isteri tersebut hingga kini belum tiba di rumahnya di Bantul.


Setelah dipastikan turut menjadi korban penipuan naik haji dengan pasport Piliphina oleh Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, kini keluarga pasangan suami istri asal Dusun Sudimoro, Timbulharjo, Bantul, Hidayat dan Titiek Sayekti Kun Mamdughah, sedang menunggu kepulangannya. Namun demikian pihak keluarga hingga kini belum mendapatkan kabar dari keduanya, sedangkan nomor telepon keduanya pun juga tak bisa dihubungi.

Salah satu kerabat pasangan suami isteri tersebut, Susilo, saat ditemui Selasa (6/9/2016) sore, mengaku tidak tahu-menahu perihal proses keberangkatan Hidayat dan Titiek. Pasalnya, Susilo hanya ditugasi untuk menjaga rumah selama ditinggal pergi naik haji.

Sementara itu, Ketua RT 03 Dusun Sudimoro, Mujilah, saat ditemui di rumahnya membenarkan jika kedua warganya itu turut menjadi korban penipuan paspor palsu di Piliphina. Menurutnya, keluarga Hidayat sempat mengadakan pengajian untuk berpamitan dengan warga sebelum berangkat ke tanah suci.

Sebelumnya, kata Mujilah, beberapa warga sempat menanyakan soal keberangkatan haji keduanya yang dirasa bisa cepat. Lalu, berdasar informasi dari salah satu kerabatnya, Mujilah mengatakan, jika Hidayat dan Titiek bisa cepat naik haji karena mendaftar haji plus-plus melalui sebuah agen travel di Palembang sejak tahun lalu.

Untuk bisa menunaikan ibadah haji dengan cepat itu, lanjut Mujilah, keduanya harus membayar sekitar Rp 100-130 juta per orang. Keduanya pun menjalankan manasik haji di Jakarta sebelum bertolak ke Piliphina.

"Adiknya Bu Titiek pernah bilang, kalau keduanya mendaftar haji plus-plus dan berangkat sejak 18 Agustus 2016, tapi harus singgah dulu di Piliphina", kata Mujilah.

Menurut Mujilah, Hidayat dan Titiek adalah warga pendatang yang tinggal di Dusun Sudimoro Rt 03 sejak November 2010. Sehari-hari, kedua pasutri itu dikenal ramah dan dermawan. Keduanya sering menyumbangkan uang ke acara-acara dusun atau kepada tetangga yang sedang sakit.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Sigit Mursita, saat dihubungi melalui telepon selulernya mengatakan, pihaknya akan menelusuri perusahaan travel yang memberangkatkan keduanya. Pihakanya pun juga telah menerjunkan tim untuk menggali data di lapangan, yang hasilnya akan disampaikan ke Kementerian Agama sebagai bahan kajian dan penjatuhan sanksi bagi travel nakal tersebut. 
[Koko Triarko] 
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: