KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Penggagas motor pustaka dalam armada pustaka bergerak roda Andalas Lampung, Sugeng Haryono, menggelar diskusi bersama para tutor, pustakawan dan relawan yang ada di Lampung dan melibatkan Universitas Terbuka (UT). Diskusi bersama yang berlangsung di pondok sederhana sekaligus rumah baca di Desa Pematang Pasir Kecamatan Penengahan tersebut digagas olehnya untuk semakin menumbuhkan minat baca atau budaya literasi di masyarakat khususnya di pedesaan. Selain berbagai upaya untuk menumbuhkan minat baca diskusi bersama tersebut juga bertujuan untuk menambah ilmu bagi pustakawan yang ada di daerah Lampung.


Hadir dalam diskusi tersebut, Sri Suharmini,M.Hum Ketua Prodi FISIP Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka yang langsung dari Jakarta untuk memberikan pemahaman terkait perpustakaan dengan tata cara pengelolaan dan pengembangan perpustakaan.

“Paling sulit diaplikasikan dalam dunia perpustakaan diantaranya pengembangan karena diantaranya berhubungan dengan koleksi buku yang bersumber dari banyak sumber diantaranya membeli atau donasi,” ungkap Sri Suharmini,M.Hum Ketua Prodi FISIP Jurusan Perpustakaan Universitas Terbuka dalam diskusi tersebut, Kamis (29/9/2016)

Ia juga mengungkapkan dunia literasi masih menjadi prospek yang perlu dikembangkan oleh para mahasiswa jurusan perpustakaan. Ia juga secara khusus menyoroti pengembangan koleksi perpustakaan keliling diantaranya minat baca masyarakat serta fasilitas yang digunakan para pustakawan bergerak seperti dengan menggunakan kuda pustaka maupun beberapa perpustakaan keliling.


Ia menyambut positif langkah tanah pustaka melalui Sugeng Haryono yang mengumpulkan armada pustaka roda andalas diantaranya konsep perpustakaan bergerak melalui motor dan sepeda pustaka. Selain itu ia juga berharap dengan kegiatan perpustakan bisa menjadi sarana untuk mencerdaskan kehidupan generasi muda hanya perlu langkah konkrit yang kreatif seperti dengan kegiatan pustaka bergerak.

“Saya juga sempat miris karena banyak perpustakaan tidak dimaksimalkan bahkan sepi peminat dan jarang dikunjungi masyarakat untuk membaca” ungkap Sri Suharmini.

Keprihatinan terkait minat baca di masyarakat perkotaan bahkan juga di wilayah pedesaan juga dirasakan oleh Ketua Pengurus Daerah  Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Lampung, Eni Amaliah yang juga tutor di D2 Ilmu Perpustakaan. Ia mengaku selama bertahun tahun menekuni dunia pustaka diantaranya sebagai pustakawan aktif sekaligus tutor mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan.


Ia mengaku salah satu kendala dalam pengembangan perpustakaan diantaranya belum adanya tutor dengan gelar atau sarjana ilmu perpustakaan bagi para mahasiswa di Universitas Terbuka. Sebagai tutor Eni mengaku memberi dorongan dan mengoptimalkan semangat para mahasiswa universitas terbuka agar lulusan universitas terbuka pun bisa memiliki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik sama halnya dengan mahasiswa dari universitas reguler.

“Pengelolaan perpustakaan di beberapa daerah masih minim karena pengelola belum memiliki dasar pengelolaan perpustakaan dan diharapkan bisa memperdalam ilmu perpustakaan” ungkap Eni Amaliah.

Eni mengungkapkan sebagai pustakawan sering keliling ke beberapa wilayah dalam gerakan literasi jauh sebelum gaung literasi sudah digaungkan oleh pustakawan di Lampung hingga ke pelosok daerah. Ia bahkan mengaku telah mengunjungi beberapa rumah baca dan komunitas yang peduli untuk mencerdaskan generasi muda dengan membaca diantaranya di Kabupaten Way Kanan, Kabupaten Tanggamus dan beberapa kabupaten lain.

Ia mengaku persoalan gerakan literasi bukan minat baca yang rendah melainkan kurangnya perhatian pemerintah daerah dalam menyediakan fasilitas yang memadai diantaranya infrastruktur perpustakaan yang ada di sekolah. Ia terus menggandeng pihak pemerintah daerah setiap kabupaten untuk mengaktifkan perpustakaan dengan SDM yang ada di setiap kabupaten.


“Berdasarkan catatan dan data yang sudah kami kumpulkan selama beberapa tahun di 15 kabupaten kota di Lampung masih ada sekitar 50 persen sekolah belum memiliki perpustakaan dan itu fakta sekaligus evaluasi” ungkap Eni Amaliah.

Ia berharap dengan adanya diskusi dan juga memberi motivasi bagi para relawan perpustakaan bisa meningkatkan budaya literasi di masyarakat. Meski dalam perkembangannya sebanyak 50 persen sekolah di Lampung belum memiliki perpustakaan akibat kebutuhan masyarakat untuk membeli buku masih rendah. Gerakan di beberapa wilayah di Lampung ungkap wanita berparas cantik tersebut akan semakin memberi ruang bagi pustakawan untuk menyajikan buku buku bermutu sekaligus melakukan manajemen pengelolaan perpustakaan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: