SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

MALANG --- Bagi kebanyakan orang, buah Salak hanya di konsumsi daging buahnya saja, sedangkan biji buahnya di buang begitu saja. Namun di tangan Mughis Fathoni  warga Pondok Blimbing Indah H2/B Malang, biji Salak yang terabaikan tersebut justru dijadikan sebuah minuman menyerupai Kopi yang kaya akan manfaat bagi kesehatan.


Fathoni menceritakan, ide awal pembuatan kopi biji Salak berawal pada tahun 2012 saat ia melihat ada beberapa pohon Salak di daerah Singosari Malang.

"Saya melihat ada potensi pertanian pada beberapa pohon Salak tersebut yang mungkin masih banyak di abaikan terutama dari segi bijinya. Ketika pasca panen, mereka justru membuang bijinya atau hanya digunakan untuk permainan dakon. Dari situ kemudian kita coba manfaatkan biji Salak untuk di jadikan bubuk kopi (SALAKO)," kisahnya, Senin (19/9/2016).

Menurutnya, kopi biji Salak (SALAKO) merupakan varian baru yang sebenarnya bukan kopi, karena SALAKO terbuat dari biji Salak bukan biji kopi. Istilah kopi diambil karena cara pembuatannya masih konvensional yaitu dengan cara biji Salak di sangrai seperti menyangrai kopi.

"Dari segi rasa, SALAKO memang tidak seperti kopi. Tetapi dari teksturnya ketika disedu dengan air panas sama seperti kopi tapi aromanya Salak," ucapnya. 

Ia menambahkan, dari sisi lain kopi biji Salak memiliki khasiat yang mungkin secara tradisional sudah turun temurun dianggap bahwa biji Salak mampu menurunkan hipertensi, asam urat dan beberapa jenis penyakit lainnya.

Lebih lanjut Fathoni menjelaskan untuk membuat kopi SALAKO harus di pilih dari biji Salak yang berkualitas baik, karena menurutnya ternyata tidak semua biji salak dapat di gunakan untuk kopi.

"Biji Salak yang biasanya kita gunakan adalah biji Salak yang setelah kita uji dengan air, biji salak tersebut tidak mengambang tetapi tenggelam. Kemudian biji Salak yang tidak terdapat ulat maupu serangga penggerek yang merusak biji sehingga dapat mengurangi kualitas dari biji Salak itu sendiri," jelasnya.

Proses pembuatannya pun masih konvensional dengan memakai alat-alat tradisional seperti kuali tanah dan menggunakan bahan bakar dari kayu bakar dengan harapan aroma khas dari Salak tidak hilang ketika masuk dalam proses sangrai. Setelah di sangrai, biji salak kemudian di oven selama 1-2 jam agar aroma dan rasanya tetap terjaga. Sebelum digiling, biji Salak terlebih dulu di tumbuk agar ukuran bijinya lebih kecil baru kemudian di giling.


Karena sekarang di daerah Singosari sudah tidak ada Salak, Fathoni kemudian mengaku mendapatkan Salak dari daerah Bululawang, Dampit, Lumajang bahkan sampai ke daerah Sleman Jawa Tengah.

"Semua jenis Salak sebenarnya bisa dipakai, hanya saja kita lebih memilih menggunakan biji Salak Pondok yang kita anggap sampai saat ini kualitasnya paling bagus," akunya.

Ia juga menyampaikan, karena mungkin masih asing di lidah kebanyakan masyarakat, di awal-awal munculnya kopi SALAKO responnya masih kurang, tapi lambat laun ternyata mereka mulai suka dan kopi bubuk biji Salak SALAKO sekarang sudah dipasarkan di hampir seluruh daerah di Indonesia seperti Bandung, Jakarta,  Maluku, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Tmur, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga ke Swedia. Untuk harga, Fathoni membaginya kedalam tiga segmen yaitu harga distributor Rp. 15.500,-, reseller Rp. 18.500,- dan harga di tingkat konsumen Rp. 22.500,-. Sedangkan omzetnya sendiri terus meningkat dari tahun pertama dan kedua.

Disebutkan, dengan dibantu delapan orang karyawannya yang kebanyakan adalah warga sekitar, Fathoni setiap hari memproduksi kopi biji salak. Dari 25 kilogram biji Salak, dapat dihasilkan 8-10 kilogram bubuk SALAKO.

"Untuk karyawan, kita berdayakan warga sekitar karena tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi rakyat. Jadi harapannya masyarakat yang di dekat kita itu juga bisa merasakan dampak positif dari usaha ini," tuturnya.

Sementara itu, selain memanfaatkan bijinya, Fathoni juga memanfaatkan daging buah Salak menjadi beberapa olahan diantaranya keripik, masker, aroma terapi dan juga diolah menjadi manisan. Rencana kedepannya ia juga akan memanfaatkan kulit Salak untuk dijadikan teh celup.
(Agus Nurchaliq)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: