JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Wakil Gubernur DI Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam X mengatakan, menghadapi perkembangan dan dampak negatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), tidak bisa hanya dilakukan dengan pemblokiran situs-situs yang dianggap berbahaya. Bahkan, langkah pemblokiran dinilainya justru kurang bijak. 

Sri Paduka PA X, Wagub DIY
Jauh lebih penting dari sekedar langkah pemblokiran situs-situs yang dianggap berbahaya seperti situs yang mengandung konten radikalisme, pornografi dan semua yang bersifat negatif, adalah pendidikan, pendampingan dan penyadaran kepada masyarakat pengguna TIK, agar bisa menghindari hal-hal negatif tersebut.

"Namun, bukan berarti pemblokiran itu sama sekali tidak penting atau harus dibuka. Melainkan, pendidikan, penyadaran kepada para pengguna TIK jauh lebih penting, karena tidak mungkin kita akan selalu bisa memblokir sistem atau situs-situs yang dianggap berbahaya atau merugikan" tegas Sri Paduka, usai membuka Festival TIK bertema Can Do RI (CANDORI) TIK 2016 di Gedung Ghratama Pustaka, Bantul, Jumat (16/9/2016). 

Relawan TIK
Festival TIK 2016 yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi Dan Informatika, bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta dan Relawan TIK, merupakan ajang silaturahmi di antara para Relawan TIK sebagai agen perubahan dari seluruh Indonesia. 

Direktur Pemberdayaan Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi Dan Informatika, Septriana Tangkary, mengatakan, dengan tema Hamemayu Hayuning Bawana TIK yang berarti mengayomi keselamatan dunia TIK, juga digelar sebagai upaya menekan konten-konten negatif yang merugikan masyarakat, sekaligus juga upaya menghasilkan konten-konten positif yang antara lain untuk keperluan promosi kebudayaan, pariwisata, dan sebagainya.

Pembukaan Festival TIK di Yogyakarta
Sementara itu, lanjut Septriana, Yogyakarta dipilih sebagai tempat dilangsungkannya Festival TIK 2016 karena  Yogyakarta merupakan kota dengan rasa gotong-royong yang sangat tinggi, dan seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke berkumpul di kota tersebut untuk mencari ilmu.

Festival TIK 2016 yang berlangsung dua hari hingga nanti 17 September 2016, akan menggelar 7 seminar besar dan 28 kelas workshop paralel. Selain itu, selama festival berlangsung juga digelar pameran yang menampilkan berbagai aktivitas komunitas TIK, pameran kemajuan TIK daerah, TIK di pedesaan, pameran perangkat TIK, dan beragam kegiatan lain terkait dengan manfaat TIK bagi masyarakat luas. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: