MINGGU, 11 SEPTEMBER 2016

ENDE – Bicara Kelimutu tentu tak lepas dari berbicara tentang keajaiban Danau Kelimutu. Danau 3 warna yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Kelimutu berada di Desa Pome Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende.

Burung Garugiwa yang menghuni Taman Nasional Kelimutu
Dari pertigaan jalan negara trans Ende-Maumere tepatnya di Moni ada jalan aspal menanjak di selatan. Dari depan pintu gerbang pertama, perjalanan menuju puncak Gunung Kelimutu terus menanjak sejauh 13 kilometer menggunakan kendaraan bermotor.

Cendana News yang sedang berkeliling Ende selama seminggu, kembali menyambangi danau ini, Minggu (11/9/2016). Perjalanan dari Desa Waturaka dilakukan tepat pukul 04.30 WITA dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

“Kita harus berangkat pagi agar bisa menikmati matahari terbit dari puncak Gunung Kelimutu,” ujar Nando Watu, teman LSM yang memandu. 

Dari tempat parkir kendaran bermotor selepas membayar tiket masuk 7.500 rupiah seorang di pos penjagaan, kendaran melaju menuju tempat parkir di sebuah tanah lapang. Dari sini perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki sejauh ± 1,5 kilometer melintasi hutan pinus yang diselumuti kabut.

Perjalanan menuju puncak selepas jalan rata, wisatawan kembali mendaki ratusan anak tangga menuju puncak gunung. Data dari Taman Nasional Kelimutu menyebutkan, Gunung Kelimutu memiliki ketinggian 1.690 Mdpl.

Kicauan Garugiwa

Mendekati kawah pertama Danau Kelimutu terdengar kicauan suara burung yang terdengar lantang. Rasa penasaran membuat Cendana News ingin mencari asal suara merdu ini namun kamera tele yang diarahkan tidak menemukan sosok ini.

Rio Wibawanto staff Taman Nasional Kelimutu saat berbincang dengan Cendana News di pos penjagaan mengatakan, Burung Garugiwa (Pachycephala Nudigula) sangat sulit ditemui. Ini yang membuat masyarakat sekitar TNK meyakininya sebagai Burung Arwah.

“Burung Arwah ini hanya ditemukan di TNK dan banyak pengunjung yang penasaran ingin melihatnya saat dia berkicau namun sulit ditemui,” tegasnya.

Burung Garugiwa terang Rio, memiliki sekitar 15 macam suara yang berbeda-beda. Saking misteriusnya, hanya sedikit masyarakat dan wisatawan yang dapat melihat keberadaan burung ini. Padahal burung ini selalu berkicau dari pagi pukul 06.00 hingga pukul 10.00 WITA.

Lanjutnya, Burung Garugiwa merupakan burung yang cukup langka dan disakralkan oleh masyarakat setempat. Masyarakat sekitar percaya, jika melukai atau membunuh burung tersebut niscaya pelakunya akan mendpatkan kutukan atau celaka.

“Populasinya pun sangat sedikit. Kami perkirakan jumlahnya sekitar 20 ekor saja namun karena tidak ditangkapi jumlahnya bisa saja meningkat,” terangnya.
Burung Garugiwa beber Rio, memiliki bulu berwarna hitam pada bagian kepala, bulu pada bagian sayap dan berwarna hijau. Sedangkan bulu di bagian bawah tubuhnya agak kekuningan serta memiliki paruh berwarna hitam bergaris putih di bagian tengahnya.

Dengan warna seperti itu,pantas saja jika burung ini susah untuk dilihat karena warnanya sama dengan pepohonan hijau yang jadi tempat tinggalnya. Burung Garugiwa hanya berada di danau Kelimutu dan tidak akan ditemukan di tempat lain.

Monyet Ekor Panjang

Puncak tempat danau Tiwu Ata Bupu tercatat memiliki ketinggian 1.641 Mdpl. Terdapat sebuah tugu berbentuk lingkaran dimana disekeliling temboknya diukir relief yang menceritakan kehidupan Suku Lio dalam bercocok tanam.

Monyet ekor panjang yang banyak berkeliaran di Taman Nasional Kelimutu
Areal bebentuk lingkaran dengan diameter ± 6 meter ini dikelilingi pagar besi sebagai pembatas agar wisatawan tidak terjatuh ke danau atau melintasi tebing curam yang berada di sekitar danau.

“Kalau pagi monyet ekor panjang sering berkeliaran di sekitar tugu dan pengunjung bisa memberinya makan,” ucap Nando.

Ridwan Fauzi dari TNK menyebutkan, populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tidak banyak paling 100 ekor saja. Monyet ini bertubuh kecil dan sedang dengan panjang kepala dan tubuh 400-470 mm, ekor 500–600 mm, dan kaki belakang (tumit hingga ujung jari) 140 mm.

Berat monyet betina 3-4 kg, jantan dewasa mencapai 5–7 kg. Warna rambut di tubuhnya cokelat abu-abu hingga tengguli dimana sisi bawah selalu lebih pucat. Jambang pipi sering mencolok.

“Hati-hati memegang barang berharga, mereka suka mengambil barang yang ada di tangan pengunjung,” tutur Ridwan mengingatkan.

Selain monyet, beber Ridwan, terdapat spesies Elang Flores (Nisaetus Floris) Elang Flores diperkirakan saat ini masih ada 100 pasang dan berkeliaran di alam bebas namun populasinya terus menurun
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: