KAMIS, 15 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Sejumlah warung sederhana penjual gas elpiji bersubsidi dari pemerintah ukuran 3 kilogram sejak sepekan terakhir mulai kesulitan dalam menjual bahan bakar gas tersebut kepada masyarakat. Selain belum memperoleh pasokan dari distributor atau agen pemilik warung mendapat protes dari sejumlah pembeli terkait kenaikan harga tabung gas elpiji yang kini mencapai Rp25ribu per tabung. 


Kenaikan harga tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram tersebut diakui pemilik warung bernama Sumini (30) warga Sumbersari Kecamatan Penengahan yang mengaku menjual tabung gas melon dengan harga Rp25ribu lebih tinggi dari beberapa pekan sebelumnya yang hanya mencapai Rp23ribu per tabung.

Sumini mengakui ia hanya bisa menjawab pertanyaan konsumen yang membeli di warung miliknya terkait keterlambatan dan ketiadaan stok gas yang berimbas pada mahalnya harga elpiji dan beberapa pembeli sebagian memilih berhutang membeli gas ukuran 3 kilogram. Ia bahkan tak berani menyetok gas elpiji ukuran 3 kilogram dalam jumlah banyak di warungnya saat ini akibat harga yang cukup mahal. Ia bahkan memastikan selama sepekan ini dirinya sama sekali tidak menjual gas elpiji ukuran 3 kilogram karena tidak ada pasokan. Sementara pada hari normal dirinya mampu menjual sebanyak 20 tabung perhari namun sejak pasokan terlambat dari agen ia mengaku hanya bisa menjual tabung gas sebanyak 10 tabung.

“Semakin dibatasi oleh distributor karena permintaan dari warung lain juga cukup banyak padahal harganya juga sudah naik dari distributor dan imbasnya kami para pengecer yang mendapat protes dari para pembeli” ungkap Sumini saat berbincang dengan Cendana News di Penengahan,Kamis (15/9/2016)

Keluhan Sumini sebagai penjual eceran tabung gas elpiji juga dialami oleh ibu rumah tangga di Kecamatan Palas yang mengaku kesulitan mencari tabung gas ukuran 3 kilogram dan saat mendapatkan dari penjual harganya sudah mencapai Rp25ribu. Kebutuhan bahan bakar yang cukup mahal tersebut menurut Astri (25) ditambah dengan isi tabung gas yang cepat habis meski digunakan dalam kurun pemakaian yang sama. Ia mengingat harga tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram pada beberapa pekan sebelumnya masih di kisaran Rp17ribu hingga Rp18ribu pertabung sebelum terjadi kelangkaan.

“Kami harap pemerintah daerah Kabupaten Lampung Selatan mengetahui kondisi masyarakat kecil di bawah yang kesulitan dan harus mengeluarkan uang banyak untuk membeli gas,kami minta diadakan operasi pasar gas murah"ungkap Astri.

Astri mengakui operasi pasar gas murah dengan operasi pasar bahan kebutuhan pokok lain terakhir dilakukan oleh Pemkab pada saat jelang Hari Raya Idhul Fitri dengan penjualan harga elpiji ukuran 3kg hanya Rp15ribu namun kini harganya naik sebesar Rp10ribu dari harga operasi pasar. Ia bahkan mengaku tak keberatan jika harga elpiji dikisaran Rp20ribu-Rp22ribu dengan jumlah pasokan gas merata dan tidak langka di sejumlah pedagang pengecer.

Sidak SPBE di Sidomulyo

Melambungnya harga tabung gas ukuran 3 kilogram sekaligus kelangkaan barang tersebut di sejumlah kecamatan membuat pemerintah kecamatan melakukan inspeksi mendadak ke salah satu stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) yang ada di Jalan Lintas Sumatera Kecamatan Sidomulyo. Pengecekan dilakukan oleh camat Kecamatan Sidomulyo, Syamsul Juhari,yang menemukan tidak adanya kelangkaan dan kendala di SPBE.


“Berdasarkan pantauan kami di stasiun pengisian bulk elpiji tidak ada kendala tapi masalahnya di sejumlah agen dan warung langka dan harga juga mahal” ungkap Syamsul.

Terkait kelangkaan tersebut, manajer SPBE PT Citra Permata Utama, Aryanto mengakui SPBE tersebut menstok gas 30 ton/hari dan setiap hari memproduksi pengisian elpiji. Meski demikian terkait kelangkaan gas dan mahalnya harga gas di beberapa kecamatan diakuinya bukan ranahnya.

Secara prosedural agen yang hendak mengambil gas harus memiliki surat loading order (LO) yang dikeluarkan oleh Pertamina sehingga berdasarkan LO tersebut pihak SPBE memberikan elpiji kepada agen yang ada di Lampung Selatan diantaranya 10 agen. Jumlah agen sebanyak 10 lokasi tersebut melakukan pengambilan berdasarkan surat LO dari Pertamina.

Pihaknya mencatat rata-rata setiap agen mengambil gas per hari sebanyak 1 mobil atau kapasitas 560 tabung. Meski demikian ada agen yang mengambil elpiji lebih dari satu mobil perhari sesuai dengan kebutuhan masing-masing agen.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: