SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok tampak terlihat sedang duduk di Ruang Sidang Mr. Koesoemah Atmadja 2 Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Ahok mengenakan kemeja lengan panjang berwarna cokelat dan bermotif kembang-kembang.

Basuki Tjahaja Purnama (tengah) sedang diambil sumpahnya sebelum bersaksi di Pengadilan Tipikor
Ahok kembali bersaksi untuk terdakwa Muhammad Sanusi, setelah sebelumnya juga sempat bersaksi dalam kasus suap pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Reklamasi Pulau-pukau di Pantai Utara Jakarta atau Teluk Jakarta untuk terdakwa lainnya yaitu Ariesman Widjaja, Direktur Utama PT. Agung Podomoro Land.

Ahok menegaskan di depan Majelis Hakim yang memimpin jalannya persidangan, bahwa dirinya memang berkomitmen untuk sebisa mungkin selalu menghadiri undangan dari Pengadilan Topikor sebagai saksi dalam persidangan sepanjang keterangannya diperlukan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Sunny Tanuwidjaja (kanan) saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta
Ketika ditanya Majelis Hakim, apakah Ahok mengenal M. Sanusi, Ahok mengatakan "saya mengenal M. Sanusi sejak tahun 2012, pada saat itu saya sedang berkampanye bersama Pak Jokowi, dimana kami sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, kemudian M. Sanusi kebetulan juga teman saya sama-sama satu partai yaitu Partai Gerindra, sejak itu saya sering bertemu dengan M. Sanusi, baik dalam acara formal maupun non formal" katanya saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin pagi (5/9/2016).

"Setelah saya terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta dan kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, M. Sanusi menjabat sebagai Ketua Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta, kemudian M. Sanusi menjadi Anggota Badan Legislasi Daerah (Balegda) Provinsi DKI Jakarta, namun belakangan saya terkejut pada saat mendengar M. Sanusi diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebuah Operasi Tangkap Tangan Tangan (OTT) karena diduga menerima uang suap sekitar 2 miliar Rupiah" demikian dikatakan Ahok di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta.
(Eko Sulestyono)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: