RABU, 28 SEPTEMBER 2016

BALI --- Pemantauan Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (ID-SIRTII) terhadap lalu lintas informasi (traffic) koneksi internet menemukan setidaknya 90 juta serangan telah terjadi di siber Indonesia.


Data dari ID-SIRTII untuk periode Januari hingga Juni 2016 menunjukkan serangan terjadi lebih dari 89 juta kali hingga akhir Juni 2016.

"Intensitas serangan bisa mencapai dua juta sehari tapi trennya terus menurun" kata Ketua ID-SIRTII, Rudi Lumanto, di ajang Konferensi Internasional Keamanan Siber CodeBali di Legian Kuta Bali, Rabu 28 September 2016.

Menghadapi gelombang serangan ini, Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Kominfo, Miriam Fatima Barata menekankan perlunya kerja sama semua institusi yang terkait teknologi informasi seperti Lembaga Sandi Negara dan Kementerian Pertahanan.

"Bahkan bukan hanya institusi di sektor teknologi informasi, tapi juga para pembuat regulasi, kementerian perdagangan dan perindustrian untuk membantu ketersediaan perangkat keamanan siber yang dibuat dan dirakit di dalam negeri" kata Fatima saat menyampaikan keynote speech (Motivasi) di ajang CodeBali 2016.

Sikap terbuka untuk saling bekerjasama juga diingatkan pakar keamanan siber Belanda dan Eropa Don Stikvoort.

"Untuk menghadapi kejahatan yang makin canggih dan rumit perlu kerjasama antar negara di level regional bahkan internasional. Saya senang diundang ke Indonesia untuk bisa berbagi ide dan cerita tentang keamanan siber di Bali" kata Don Stikvoort.

Sementara Kepala Lembaga Sandi Negara Mayjen (Purn) Joko Setiadi mengajak semua potensi bangsa untuk bergabung membantu kedaulatan negara di dunia siber.

"Lembaga Sandi Negara terbuka bagi putra-putri bangsa yang memiliki keahlian di bidang IT untuk berhimpun membuat pertahanan dan kekuatan untuk membela republik ini," kata Joko Setiadi yang juga menjadi salah satu pembicara dalam konferensi keamanan siber internasional Code Bali.

Arah serangan yang pada tahun sebelumnya lebih ke arah situs web atau Port 80, kini serangan lebih banyak menyerang ke arah Domain Name System (DNS) atau port 53.

"Ini menunjukkan serangan lebih ditujukkan ke lokasi yang lebih kritis lagi dalam sistem kita. Jenis serangan paling besar juga dalam bentuk attempted DOS," tambah Rudi.

Data ID-SIRTII juga menunjukkan telah terjadi enam ribu insiden website yang berhasil dijebol hackers dan masih ditemukan hampir 16 ribu celah keamaman ditemukan di sistem web yang ada di Indonesia.

Domain website yang paling banyak diserang hingga pertengahan tahun 2016 adalah domain pendidikan yang berkode ac.id. "Banyak sekolah-sekolah, lembaga pendidikan bahkan kampus yang sembarangan saja membuat website tanpa ada pengamanan yang cukup" jelas Rudi.

Data hingga pertengahan 2016 juga menunjukkan serangan pada dunia siber Indonesia mayoritas berasal dari Amerika Serikat, sementara data sepanjang tahun 2015 menunjukkan serangan mayoritas berasal justru dari wilayah siber Indonesia sendiri.

"Ya bisa saja para pelaku serangan dari dalam negeri kini menyerang tidak langsung dari Indonesia tapi memutar dulu ke jaringan AS, atau bisa jadi memang banyak serangan dari AS" ujar Rudi.

Dari data juga diketahui telah terjadi setidaknya enam ribu aktivitas manipulasi dan kebocoran data.

Yang juga mengkhawatirkan di dunia siber Indonesia adalah tingginya aktivitas malware. Jumlah aktivitas malware yang terdeteksi ID-SIRTII hingga pertengahan tahun 2016 mencapai 46,3 juta aktivitas. 

Sementara data ID-SIRTII juga menunjukkan serangan malware juga mendominasi jumlah serangan ke siber Indonesia sepanjang tahun 2015. 

Malware adalah software yang sengaja diciptakan untuk tujuan yang jahat. Malware merupakan sebuah software atau program komputer yang biasanya disisipkan di antara program lain. Saat pengguna membuka program yang sudah terkontaminasi malware, maka maleware tersebut akan menyebar.
(Bobby Andalan)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: