SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

LOMBOK TENGAH --- Keberadaan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) tertutama HKTI Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta lebih berkontribusi secara nyata memperjuangkan nasib dan kehidupan petani.


Hal tersebut disampaikan anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Wakan, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Agus Alawan menanggapai acara perayaan Hari Tani Nasional (HTN) yang diselenggarakan HKTI di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Sabtu (24/9/2016).

Menurutnya, keberadaan HKTI selama ini belum mampu dirasakan kehadirannya di tengah masyarakat, membela dan memperjuangkan nasib serta kesejahteraan petani, dengan mendorong kebijakan pemerintah daerah maupun pusat yang betul-betul mampu mensejahterakan kehidupan petani.

Ia mencontohkan Rancangan Undang-Undang (RUU) pertembakauan yang di dalamnya banyak mengatur nasib petani, mulai dari soal perlindungan harga sampai kebijakan ekspor impor misalkan, sampai sekarang belum juga disahkan oleh DPR RI, HKTI seharusnya bisa mendorong hal tersebut.

"Selama ini petani seakan dibiarkan berjalan dengan kehidupan sendiri dan seringkali pasrah menerima keadaan mengalami kerugian, disitulah HKTI sebenarnya bisa diharapkan bisa memainkan peran" ungkapnya.

Sarinah, aktivis tani Kabupaten Lombok Tengah mengatakan, gerakan memperjuangkan nasib petani selama ini justru lebih banyak dilakukan secara langsung oleh masyarakat sendiri termasuk aktivis peduli petani.

"Terkadang memang membingungkan dengan sikap pemerintah, di satu sisi terus mendorong dan menyemangati petani petani untuk bertani meningkatkan swasembada pangan, tapi ketika petani sudah bersemangat menanam dengan hasil melimpah, giliran hasil melimpah, pembelian malah kurang diperhatikan" pungkasnya.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: