SENIN, 12 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Hari Raya Idul Adha, sudah pasti harus diresapi arti dan maknanya. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, peristiwa kurban menjadi salah satu bentuk pengalaman nilai-nilai Pancasila. Jauh lebih dalam lagi, momentum hari kurban semestinya bisa dimaknai sebagai bentuk kerelaan dan keikhlasan transendental.

Panitia kurban di Masjid Gedhe Kauman sedang memotong daging
Selain menyumbangkan satu ekor sapi di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Titiek Soeharto dalam momentum hari raya Idul Adha tahun ini juga diketahui menyumbangkan satu ekor sapi kepada tokoh agama kharismatik yang terkenal di Surakarta, Jawa Tengah. Sementara, 13 ekor kambing juga disebar di sejumlah tempat dan pondok pesantren di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo dan Kota Yogyakarta.

Titiek Soeharto berpandangan, dengan berkurban iklas semata demi meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan, akan berdampak meningkatnya semangat berkorban demi kemajuan bangsa dan negara. Di samping itu, berkurban juga menunjukkan akan adanya tanggung-jawab sosial pada diri setiap insan yang lebih mampu, yang harus ditunaikan.

Daging kurban yang kemudian dibagikan kepada seluruh warga tanpa kecuali, pun menyiratkan sekaligus mengingatkan adanya upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang harus selalu diperjuangkan.


Karena itu, Titiek Soeharto berharap, masyarakat mampu mengambil hikmah hari raya kurban sebagai sebuah kerelaan dan keiklasan transendental, sehingga semakin tumbuh pula semangat rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, terlebih di tengah masih adanya ketergantungan kepada bangsa asing di berbagai sektor pembangunan.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: