RABU, 14 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG ---Ratusan hektar lahan pertanian di wilayah Dusun Banyuurip Desa Kuripan hingga kini masih terbantu dengan keberadaan Daerah Irigasi (DI) sepanjang beberapa kilometer dengan disambungkan menggunakan saluran talang air. Talang air yang berfungsi mengalirkan air dari Gunung Rajabasa tersebut menurut salah satu warga, Tukimin sudah dibangun sejak tahun 1979 pada masa pemerintahan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Hingga kini masih digunakan oleh petani sebagai saluran untuk mengairi lahan pertanian.


Tukimin mengaku keberadaan saluran irigasi menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu lumbung padi sawah di Kecamatan Penengahan, bahkan petani masih bisa melakukan aktifitas menanam padi saat musim kemarau.

“Saluran irigasi untuk kebutuhan ratusan lahan pertanian sawah sejak zaman pak Harto ini masih awet hingga sekarang dan menjadi saluran air utama untuk seluruh sawah di desa ini,”terang Tukimin saat berbincang dengan Cendana News, Rabu (14/9/2016)

Berdasarkan sejarah, pembuatan saluran air irigasi bersamaan dengan pembuatan daerah irigasi berikut talang air yang sudah dilakukan sejak tahun 1979 dengan panjang  42 meter dan lebar 1 meter. Selain bisa dipergunakan sebagai saluran air irigasi, talang tersebut sekaligus digunakan sebagai akses jalan ratusan warga yang hendak melakukan aktifitas ke perkebunan dan sawah. Selain jadi akses masyarakat untuk ke area pertanian dan perkebunan talang dengan konstruksi semen, besi dan kayu tersebut menjadi penghubung antar desa.

Berkat saluran air sekaligus jalan tersebut masyarakat petani lebih dimudahkan dalam mengangkut hasil pertanian berupa padi dan hasil perkebunan lain diantaranya kelapa dan jagung. Menurut warga jarak tempuh yang harus dilalui masyarakat tanpa keberadaan talang tersebut mencapai lima kilometer jalan memutar namun berkat talang tersebut masyarakat lebih bisa berhemat waktu dan bahan bakar.


Selain dilengkapi fasilitas irigasi, masyarakat mengaku bangunan yang sudah ada sejak era presiden Soeharto tersebut membantu masyarakat petani dalam meningkatkan produktifitas hasil pertanian khususnya padi dengan hasil rata rata sebanyak 5-6 ton perhektar.

“Kalau tidak ada bangunan air ini sejak dahulu tidak akan ada lahan sawah di seberang desa karena posisi tanah dan lahan pertanian ada di atas sungai dan harus menggunakan mesin pompa, ”terang Tukimin.

Saluran talang air yang ada di atas Sungai Way Asahan tersebut bahkan mulai mengalami proses perbaikan dengan beberapa saluran air untuk membagi air ke tiga titik lokasi lahan pertanian. Selain itu menurut pendamping petani pengguna air di Kecamatan Penengahan, Rumiem, perbaikan dilakukan dengan melakukan penambahan jalan khusus menggunakan jalan rabat beton. Penambahan jalan rabat beton di sepanjang saluran irigasi tersebut selain memudahkan akses masyarakat juga bisa dipergunakan untuk pengangkutan hasil bumi dan akses transportasi.

Berdasarkan data, Rumiem mengungkapkan, beberapa lahan pertanian sawah yang diairi saluran irigasi tersebut diantaranya Lubuk Merbau seluas 70 hektar, wikayah Telung Helau seluas 20 hektar sementara luasan lahan sawah di wilayah Desa Kuripan  mencapai 217 hektar.


Meski talang air tersebut bertahun tahun dimanfaatkan masyarakat petani namun beberapa kerusakan kecil mengakibatkan aliran air mengalami kebocoran di beberapa bagian. Antisipasi kebocoran tersebut beberapa petani bahkan melakukan pembangunan swadaya dengan menggunakan terpal dan semen dan tetap berharap akan ada perbaikan.

Selain digunakan sebagai saluran air dan akses warga talang air sepanjang 42 meter terbuat dari besi dan semen serta kayu tersebut sering digunakan pecinta fotografi untuk objek foto. Pemandangan bagus dengan sawah menghijau dan pegunungan Rajabasa menjadi daya tarik para fotografer pecinta pemandangan alam.
[Henk Widi]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: