SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Kepala Pusat Studi Nasional Universitas Nasional (UN), Iskandaryah Siregar menyampaikan bahwa dalam Asean Ekonomic Community atau lebih dikenal dengan istilah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dapat dimaknai sebagai pintu gerbang interaksi global antar negara dalam sektor ekonomi.


Dia mengatakan di seluruh penjuru Asia Tenggara bahkan seluruh dunia, sedang hangat-hangatnya membicarakan MEA sebagai salah satu proyek utama komunitas negara-negara Asia tenggara.

Menurutnya, MEA merupakan suatu kontruksi sistem ekonomi yang bertujuan untuk mengintegrasikan perekonomian Asia tenggara yang beragam daerah dengan 600 juta orang, 250 juta diantaranya adalah rakyat Indonesia, dan produk domestik bruto gabungan sebesar $ 2,4 Triliun.

"Bayangkan Negara kita dibanjiri oleh puluhan juta Tenaga Kerja Asing yang tentu saja akan lebih diprioritaskan oleh perusahaan asing asal negara mereka yang (sudah terlanjur) memberi izin," kata Iskandarsyah dalam Diskusi 'Prospek dan Strategi Menghadapi MEA, Membuktikan Cinta Produk Indonesia' di Tower Smesco, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin, (19/9/2016).

Disebutkan, MEA akan menguasai aset dan memonopoli perdagangan dalam negeri. Akhirnya, di negeri sendiri, generasi akan menjadi pelayan bagi orang-orang asing.

Iskandarsyah menjelaskan, secara umum MEA dapat didefinisikan oleh empat pilar yakni menciptakan pasar dan basis produksi tunggal, meningkatkan daya saing, mengembangkan pembangunan ekonomi, dan lebih mengintegrasikan ASEAN ke dalam pusaran ekonomi global.

Dikatakan, dengan mengedepankan aliran bebas barang dan jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil sebagai faktor yang mensinergikan merupakan ekspektasi yang mengarah pada manifestasi pencapaian keberhasilan kelompok asing.

Jadi, sambungnya, sebenarnya, MEA ini merupakan sebuah proyek cetak ulang yang gagal, proyek imitasi Uni Eropa yang rawan bencana. Sementara, Asia Tenggara diusulkan untuk mencetak ulang pola tersebut.

"Uni Eropa terkesan hanya melayani kepentingan pemodal pemodal besar,"pungkasnya.
[Adista Pattisahusiwa]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: