SELASA, 6 SEPTEMBER 2016

ENDE --- Jalan negara trans Flores tepatnya di ruas jalan Ende – Maumere yang berada di kilometer 19 dari kota Ende ibukota kabupaten Ende kembali mengalami longsor. Meski pengerjaan pelebaran jalan dengan mengeruk tebing di bagian selatan sedang berlangsung, jalan tersebut kembali mengalami longsor sejak Senin (5/9/2016) sampai Selasa (6/9/2016).


Saat melintasi jalan ini Selasa (6/9/2016) dari arah Detusoko menuju Ende di wilayah barat, Cendana News harus tertahan selama 2 jam di lokasi longsoran di kilometer 19.

“Sistem buka tutup masih diberlakukan karena semalam longsor terjadi kembali padahal jalan ini sedang dikerjakan,” ujar Ambrosius Saki.

Ambros yang ditemui sedang antri ini mengatakan,akibat longsoran dan pengerjaaan jalan, sistem buka tutup kembali diberlakukan. Namun pada Selasa (6/9/2016) jalan tersebut baru dibuka sejak pukul 12.00 WITA.

Biasanya sistem buka tutup sambungnya,diberlakukan sehari 5 kali yakni jam 10.00 WITA,12.00 WITA,15.00 WITA  dan 17.00 WITA. Namun hari ini baru dibuka jam 12 dan ditutup jam 15.00 WITA serta dibuka kembali jam 17.00 WITA.

Hal senada juga disampaikan Gregorius Wera warga Ende lainnya yang ditemui di lokasi longsoran. Dikatakan Goris sapaannya, ruas jalan negara ini setiap tahun pasti mengalami longsor sejak dari kilometer 17  sampai kilometer 19 dari kota Ende.

“Setiap tahun selalu longsor, harusnya dibuka jalur alternatif lain apalagi ini jalan negara dan satu-satunya jalan dari Maumere menuju Ende dan kota lainnya di bagian barat Flores,” terangnya.

Goris berharap agar pemerintah kabupaten Ende serta pemerintah pusat harus segera mengatasi persoalan ini. Jika dilihat sebutnya, jalur jalan tersebut sudah tidak layak dipergunakan.

“Pengemudi sering sekali kecelakaan dan sudah beberapa orang meninggal akibat tertimpa batu dan material longsoran,”ungkapnya.

Bila dibiarkan terus, jalan ini kata Goris sangat berbahaya dilintasi sebab longsoran sering terjadi walau tidak terjadi hujan. Struktur tanah dan bebatuan di lokasi jalan tersebut sangat labil akibat penggunaan bahan peledak saat pengerjaannya.

“Batu sering jatuh karena tahun 2015 bukit yang persis berada di sebelah selatan jalan dihancurkan memakai bahan peledak,” sesalnya.

Selain pengendara, beber Goris, operator alat berata pun pernah meninggal akibat tertutup longsoran saat sedang mengoperasikan alat berat merapikan longsoran di badan jalan.

Disaksikan Cendana News,pukul 17.00 wita, ruas jalan dari arah kota Ende di sebelah barat dibuka kembali setelah 5 alat berat yang berada di lokasi berjibaku membersihkan badan jalan dari longsoran.

Sesudah kendaraan dari arah Ende melewati kilometer 19, jalan dari arah timur pun dibuka dan kendaraan satu per satu mulai melintasi jalan ini. Pengendara diperingatkan berhati-hati oleh tentara dari Kodim 1602 Ende yang berjaga di lokasi sebab longsoran sesekali masih terjadi.


Pantauan Cendana News terdapat ratusan kendaraan roda dua dan puluhan kendaraan roda empat baik travel, pick up maupun bus jurusan Larantuka-Ende yang antri di kilometer 19. Juga terlihat 2 alat berat yang sedang parkir tak jauh dari lokasi longsoran di wilayah timur kilometer 19.

Sepanjang jalan yang dilewati dari Detusoko menuju Ende terlihat belasan eksavator parkir di pinggir jalan tepatnya di tebing yang rawan terjadi longsor. Kerikil dan tanah berserakan di sepenjang badan jalan sejak Wolowaru sampai kilometer 14 dari kota Ende.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: