SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Semakin mendekatnya hari raya kurban, Dinas Pertanian DI Yogyakarta memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak yang hendak masuk maupun keluar. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah adanya hewan kurban yang berpenyakit dan membahayakan kesehatan manusia.


Pengetatan pengawasan hewan kurban dilakukan dengan menambah personil di Pos Lalu lintas Ternak di sejumlah titik masuk wilayah Yogyakarta seperti di kawasan kecamatan Prambanan dan Tempel, serta di sisi barat Kabupaten Kulonprogo yang berbatasan dengan Sleman. Petugas pengawas di tiga pos lalu lintas ternak itu diwajibkan lebih cermat dan proaktif memeriksa hewan kurban yang melintas.

Kepala Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Sasongko mengatakan, kendaraan yang membawa ternak harus berhenti di pos lalu lintas tersebut, lalu petugas akan memeriksa kelengkapan surat perjalanan dan bukti kesehatan hewan. 

"Pengangkut hewan harus bisa menunjukkan surat jalan ternak yang ada rekomendasi dari pusat kesehatan hewan asal ternak," jelasnya kepada Cendana News, Sabtu (3/9/2016).

Sasongko menjelaskan, pengetatan perlu dilakukan karena Kota Yogyakarta merupakan daerah strategis yang memungkinkan keluar masuknya hewan ternak dari berbagai daerah lain. Selain itu, pengetatan juga dilakukan karena pihaknya tak ingin kecolongan lagi dengan adanya hewan kurban yang mengandung cacing seperti yang terjadi tahun lalu.

"Kami menerjunkan 340 tim kesehatan hewan untuk memeriksa dan memantau kualitas hewan kurban. Tim tersebut terdiri dari para dokter hewan, mahasiswa fakultas kedokteran dan tenaga profesional di bidang ternak," jelasnya.

Sasongko juga mengimbau kepada warga agar lebih teliti memilih hewan kurban. Beberapa ciri hewan ternak yang sehat, antara lain mata, mulut dan hidungnya tidak berlendir. 

Secara khusus, Sasongko juga meminta agar masyarakat tidak membeli sapi yang dipelihara di sekitar tempat pembuangan sampah. Demikian pula kepada peternak yang menggembalakan hewan ternaknya di area sekitar tempat pembuangan sampah agar tidak menjualnya sebagai hewan kurban. 
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: