KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

BANDUNG --- Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menilai tingginya harga sapi diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya dominasi asing hingga besarnya biaya angkut.



"Biaya angkut dalam negeri masih sangat mahal. Hal itu yang membuat pemerintah lebih memilih menerima daging luar negeri," ucap Wakil ketua Kadin Indonesia, Helmy, di Aula Barat ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Kamis (1/9/2016).

Disebutkan, tidak hanya itu, isu yang beredar juga sangat mempengaruhi dari perdagangan sapi, seperti penyakit kuku dan mulut saat ini tengah menyebar luas. Padahal, penyakit itu tidak akan menyebar jika sapi yang dikirim dalam keadaan hidup.

"Penyakit tersebut hanya menyebar kepada sesama sapi. Tidak menyebar kepada manusia. Sementara isu penyakit kuku dan mulut menyebar untuk daging asal India,"jelasnya.

Ia juga menyebutkan, untuk penyaluran daging sapi saat ini masih didominasi oleh Australia dan sangat mempengaruhi harga. Bahkan, masih lebih tinggi dari negara tetangga seperti Malaysia.

Terkait dengan penyakit kuku dan mulut, pihaknya mengapresiasi pemerintah pusat yang bekerjasama dengan India yang mengusulkan kerbau untuk pengganti daging sapi.

"Kerbau asal India itu lebih aman. Bahkan, tingkat kolesterolnya sangat rendah. Jangan khawatir mengkomsumsi kerbau," jelasnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga menghimbau masyarakat mengkonsumsi daging kambing. Menurutnya, Kolesterol dalam kambing sangat rendah sebenarnya dibandingkan sapi.

"Jadi lebih aman daging kambing. Intinya kebutuhan daging perlu tercukupi. Jangan menekankan pada daging sapi saja," pungkasnya.
[Rianto Nudiansyah]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: