MINGGU, 11 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Lampung, wilayah kerja Bakauheni, Lampung Selatan, berhasil menggagalkan upaya pengiriman kura-kura kaki gajah yang dilindungi dan dibatasi sebanyak 4 ekor. Kura-kura kaki gajah tersebut dikirimkan menggunakan moda transportasi darat menggunakan jasa ekspedisi bus penumpang.  


Upaya pengiriman kura-kura menggunakan mobil ekspedisi penumpang bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) tersebut digagalkan oleh petugas karantina ikan akibat dikirim tanpa ada dokumen yang dipersyaratkan karantina.  Kura-kura darat jenis kaki gajah dengan nama latin Monouria Emys  berjumlah 4 ekor tersebut  berukuran cangkang mencapai 50 centimeter.

Berdasarkan keterangan Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Lampung, wilayah kerja Bakauheni,  Lampung Selatan, Catur Sugeng Udiyanto, kura-kura darat jenis kaki gajah tersebut dikirim dari wilayah Sumatera ke Pulau Jawa.

“Kami amankan dalam kendaraan penumpang asal Pulau Sumatera sebelum menyeberang menggunakan kapal  sebanyak empat ekor kura-kura darat, karena tidak memiliki dokumen yang dipersyaratkan oleh karantina ikan,” ungkap Catur Sugeng Udiyanto kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Lampung, wilayah kerja Bakauheni, Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (11/9/2016).


Kura-kura jenis kaki gajah, ungkap Catur,di kirim menggunakan bus kramat jati bernomor polisi  D 7748 AK warna putih kombinasi. Pada saat petugas karantina ikan melakukan pemeriksaan kura kura langka tersebut di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni diletakkan di bagasi sebelah kiri bus penumpang dikemas menggunakan keranjang buah. Berdasarkan resi dokumen pengiriman diketahui kura kura tersebut dikirim oleh seseorang bernama Susanti asal Tanjungkarang Provinsi Lampung dengan penerima seseorang bernama Ajeng yang tinggal di Bandung Provinsi Jawa Barat.

Saat dilakukan pemeriksaan sebanyak 4 ekor kura kura yang masuk dalam bangsa Testudinidae dan species Monouria Emys tersebut petugas tidak menemukan dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) atau Animal Health Certificate, serta tak disertai Surat Angkutan Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SADN).

Catur mengungkapkan kura kura darat jenis kaki gajah tersebut banyak digemari oleh para penghobi reptil untuk koleksi hewan peliharaan. Diperkirakan harganya di pasaran untuk ukuran 16-38 cm seharga Rp 500 ribu, sementara ukuran di atasnya bisa mencapai harga jutaan. Sementara 4 ekor kura-kura yang diamankan rata rata berukuran lebih dari 20 cm dengan perkiraan usia bulanan hingga puluhan tahun.


Terkait pengamanan kura-kura oleh karantina ikan tersebut menurut Catur  dilakukan sesuai Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan serta Peraturan Pemerintah (Perda) Nomor 15 tahun 2002 tentang karantina ikan.

Sebanyak 4 ekor kura-kura darat tersebut saat ini masih diamankan di kantor karantina ikan dan selanjutnya akan diserahkan ke Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) di Bandar Lampung yang merupakan seksi konservasi wilayah 3 BKSDA Bengkulu .

Sebelumnya juga karantina ikan dalam kurun waktu satu semester pada tahun 2016 berhasil mengamankan sebanyak 80 ekor kura-kura Ambon asal Bengkulu yang akan dibawa ke Pulau Jawa. Selain jenis kura-kura Ambon karantina ikan juga berhasil mengamankan 4 ekor kura-kura jenis Batagorbaska asal Provinsi Jambi. 

Upaya pencegahan penyelundupan satwa yang dilindungi khususnya hewan air terus dilakukan karantina ikan dengan melakukan pemeriksaan di kendaraan pembawa komoditas perikanan terutama memasuki arus liburan panjang dan Idhul Adha 2016 (1437 H). Pemeriksaan dilakukan terutama pada kendaraan pengangkut media pembawa ikan serta kendaraan penumpang.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: