KAMIS, 8 SEPTEMBER 2016

ENDE --- Kesadaran kaum muda Kabupaten Ende khususnya di wilayah sekitar Taman Nasional Kelimutu untuk memanfaatkan meningkatnya kunjungan wisatawan masih sangat minim. Generasi muda khususnya yang tamat SMA lebih memilih bekerja sebagai tukang ojek.

Nando Watu (kiri) saat menimba ilmu di Amerika Serikat
Selain itu, sarjana yang menganggur pun masih berharap diterima menjadi aparatur sipil negara atau pegawai negeri dibandingkan bekerja di sektor swasta atau memiliki usaha sendiri.

Demikian disampaikan Yohanes Sani Kaur Pemerintahan Desa Detusoko Barat Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende saat ditemui Cendana News, Rabu (7/9/2016).

Dikatakan Sani, bila anak muda tidak malu dan gengsi, mereka bisa menanam aneka buah-buahan serta sayuran yang bisa mendatangkan manfaat besar. Selain itu, perlu adanya aktifitas dan kreatifitas menghasilkan produk kerajinan tangan.

“Saya melihatnya anak muda di Ende dan Detusoko khususnya masih gengsi bila turun ke sawah ataukah kerja lainnya. Mereka masih merasa menjadi petani itu profesi kuno,” ujarnya.

Disesalkan Sani, selama ini berbagai buah-buahan dan sayuran organik untuk memenuhi pasokan buat hotel dan restoran di sekitar kawasan Taman Nasional Kelimutu masih didatngkan dari luar Flores bahkan NTT.

“Banyak sarjana di kampung saya yang lebih memilih menjadi guru honor meski digaji 300 ribu sebulan,” bebernya.

Padahal kata Sani, bila menjadi guru atau tukang ojek penghasilan sangat tidak mencukupi sementara bila menjadi petani sayuran dan buah-buahan bisa mencapai minimal 5 juta rupiah sebulan.

“Saya pun meski sarjana dan bekerja di kantor desa, saya juga mempunyai kebun yang ditanami lombok,” terangnya.

Penghasilan dari menanam lombok tersebut bisa membuatnya membangun rumah dan ditabung untuk masa depan keluarganya. Dirinya pun tidak repot menjual hasil panen lomboknya.

“Saya cuma antar saja ke pasar Ende atau Pasar Detusoko, pembeli sudah menunggu. Jadi, saya tidak perlu lagi jual sendiri” paparnya.

Pelatihan mengolah sampah yang digagas Nando Watu bagi masyarakat Detusoko
Hal senada juga disampaikan Nando Watu anak muda Detusoko lainnya.Nando berharap agar kaum muda khususnya di sekitar kawasan TNK bisa menggelar bebagai atraksi yang menarik wisatawan untuk mampir ke desa mereka usai melihat danau Kelimutu.

“Kasihan bila wisatawan hanya datang melihat Kelimutu dan langsung pulang. Mental malas sudah saatnya dihilangkan, mari kembangkan potensi yang ada,” pintanya.

Mantan mahasiswa asal Miami College USA ini mengatakan, dirinya kembali dari Amerika Serikat setelah menimba ilmu dan menetap di Desa Detusoko Barat.

Nando mengakui, di Flores teristimewa kawasan sekitar Danau Kelimutu masih menyimpan potensi wisata lain yang belum dikembangkan dan bisa mendatangkan keuntungan.

Dirinya pun merasa heran dan capek mengajak anak muda melakukan kegiatan possitif dengan menggelar berbagai pelatihan dan kursus Bahasa Inggris yang mana pesertanya hanya satu dua orang anak muda saja.

“Mereka hanya bepikir apa yang didapat dan berapa uang yang mereka terima saat kami adakan pelatihan. Ini yang membuat anak muda di Detusoko Barat banyak yang menganggur.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: