KAMIS, 22 SEPTEMBER 2016

SAMPANG --- Kesadaran masyarakat dalam melakukan pengurusan akta kematian di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, masih rendah. Hingga saat ini warga yang membuat akta kematian tersebut sangat sedikit, padahal warga yang meninggal dunia dalam satu tahun terbilang cukup banyak, tetapi yang membuat akta belum mencapai 50 persen.

“Ya minimnya pengurusan akta kematian itu akibat kurang tahunya masyarakat tentang pentingnya akta itu, sehingga dianggap tidak begitu penting. Padahal itu sangat dibutuhkan untuk mengurus asuransi maupun warisan dan santunan,” kata Achmad Rochim, Pelaksana Harian Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Sampang, Kamis (22/9/2016).

Disebutkan, berdasarkan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) daerah setempat, sejak dari tahun 2015 hingga bulan Agustus 2016 pihaknya baru menerbitkan sebanyak 174 akta kematian. Padahal jumlah warga meninggal dunia yang terdata sebanyak 422 orang. Sangat jelas pengurusan akta kematian masih sangat minim, sebab dari yang meninggal belum mencapai 50 persen yang mengurus.

“Jadi mungkin yang menjadi faktor minimnya pengurusan akta kematian itu kekurangtahuan masyarakat terhadap pentingnya akta tersebut, atau bisa jadi mekanisme yang ada belum berjalan,” jelasnya.

Disebutkan, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 menyebutkan, setiap kematian wajib dilaporkan oleh keluarganya atau yang mewakili paling lambat 30 hari sejak tanggal kematian. Namun sayang sampai sekarang kesadaran masyarakat mengenai hal itu masih rendah, akibatnya pengurusan akta kematian tetap saja masih minim.

“Itu tanpa dipungut biaya, dan untuk persyaratannya juga tidak terlalu rumit. Pemohon hanya menyerahkan surat keterangan kematian dari petugas kesehatan, lurah atau kepala desa. Ditambah foto copy KTP elektronik serta Kartu Keluarga (KK) yang bersangkutan,” terangnya. 
[M. Fahrul]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: