SELASA, 27 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Menteri Kesehatan RI, Nila F Moelloek mengatakan, sebanyak 80 Persen dari pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional mengalami sakit yang harus mendapatkan perawatan inap. Hal demikian menjadi salah satu penyebab JKN mengalami defisit. Sementara itu, setiap tahunnya pertumbuhan jumlah penduduk juga terus mengalami peningkatan.

Menkes RI, Nila F Moelloek
Jaminan Kesehatan Nasional yang baru berjalan 2,5 tahun ini, dinilai wajar jika masih terdapat banyak kekurangan. Banyak hal yang ditarget dan diharapkan dengan adanya program JKN tersebut belum tercapai. Padahal, di tahun 2035 diperkirakan akan terjadi masalah demografi dengan meningkatnya jumlah penduduk.

Menteri Kesehatan RI, Nila F Moelloek mengatakan hal itu dalam pidato pembukaan Rapat Kerja Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (Rakernas dan PIT IAI) di Yogyakarta, Selasa (27/9/2016).

Nila mengatakan, meningkatnya jumlah penduduk yang diperkirakan itu diharapkan akan menghasilkan manusia-manusia produktif, sehingga bisa mengatasi manusia-manusia yang tidak produktif, yaitu manusia lanjut usia. Namun, katanya, saat ini masyarakat menghadapi tantangan besar dalam menciptakan masyarakat yang sehat. Data penelitian menunjukkan begitu banyak jumlah perokok muda, yang akan menyumbang generasi muda tidak sehat di masa depan.

Sementara itu, lanjutnya, saat ini jumlah pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional hampir 80 Persennya menjalani rawat inap, dan 20 Persennnya menjalani rawat jalan. Hal demikian, kata Nila, menjadi salah satu penyebab terusnya JKN mengalami defisit.

Dikatakan Nila, dalam rangka menciptakan masyarakat sehat sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku, lingkungan, sosial, budaya dan pendidikan. Jika masyarakat mendapatkan pendidikan yang memadai, katanya, tentu kesadaran untuk hidup sehat juga akan semakin meningkat.

Di lain sisi, kata Nila, beragam penyakit saat ini juga ditengarai mengalami peningkatan. Banyak penyakit menular kini menjadi penyakit tidak menular. Sementara pertumbuhan penduduk di Indonesia terus meningkat. Di Jawa Timur, katanya, sebanyak 7.000 bayi lahir setiap tahunnya. Sementara di Jawa Barat ada 900.000 bayi yang lahir pertahunnya.

Dengan berbagai persoalan tersebut, kata Nila, pelayanan kesehatan termasuk di dalamnya adalah penyediaan obat-obatan menjadi sangat penting untuk selalu ditingkatkan. 

Rakernas dan PIT IAI 2016
Sayangnya, kata Nila, sama halnya dengan masalah yang dihadapi oleh tenaga kesehatan lainnya, sebanyak 58.000 apotik penyedia obat-obatan yang ada di Indonesia belum terdistribusikan secara merata. Banyak daerah terpencil dan sulit terjangkau belum bisa dengan mudah mengakses obat-obatan yang legal.

Karena itu, Nila berharap dalam Rakernas IAI 2016 ini juga akan menemukan solusinya. Pihaknya pun, katanya, akan berupaya melakukan berbagai langkah melibatkan lintas kementerian agar pemerataan tenaga kesehatan termasuk apotik sebagai penyedia obat bisa segera diwujudkan.

Sementara menanggapi maraknya peredaran obat ilegal yang akhir-akhir ini sering terjadi, Ketua Umum IAI, Nurul Falah Pariang menjelaskan, jika hal tersebut tidak mungkin terjadi jika sarana dan pembelian obat-obatan dilakukan di distributor resmi. Pembelian obat-obatan, kata Nurul, juga harus dengan apoteker sebagai penanggung-jawab resmi sehingga keaslian obat bisa terjamin.

Nurul mengatakan, saat ini dari sekitar 100.000 apotik di Indonesia, 58.000 di antaranya sudah teregistrasi. Artinya, apotik yang tidak teregistrasi merupakan apotik yang tidak bergerak di area kefarmasian. 

"Saya berharap, Pemerintah bisa berperan aktif dalam upaya pemerataan keberadaan apotik sebagai penyedia obat untuk bangsa, seperti yang dulu pernah dilakukan" ujar Nurul.

Rakernas dan PIT IAI merupakan agenda tahunan yang digelar untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme apoteker yang berada di bawah organisasi Ikatan Apoteker Indonesia. Rakernas dan PIT IAI kali ini berlangsung tiga hari hingga nanti 30 September 2016. Diikuti lebih dari 1.800 apoteker berasal dari 34 provinsi di Indonesia, Rakernas dan PIT IAI kali ini mengusung tema Membangun Peraturan Kefarmasian Untuk Kualitas Hidup Lebih Baik di Era Global. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: