SENIN, 12 SEPTEMBER 2016

BANDUNG --- Terungkapnya prostitusi untuk kaum gay di Puncak, Bogor, Jawa Barat (Jabar) membuat miris berbagai pihak. Mengingat yang dijajakan adalah anak dibawah umur. Tak sampai di situ, masyarakat kembali dihebohkan oleh terungkapnya kasus pencabulan terhadap 15 orang anak yang dilakukan Kakek berusia 70 tahun, di Banjar, Jabar.


Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar, Netty Prasetyani menyampaikan, ketahanan keluarga jadi kunci agar kasus serupa tidak terulang lagi.

"Kalau anak-anak sekolah polanya sudah terbaca, pulang jam 4 Sore orang tua seharusnya memiliki kewaspadaan manakala ada sikap perbuatan kebiasaan yang mencurigakan, harusnya orang tua memeriksa," katanya, Senin (12/9/2016).

Hal tersebut membuat ia miris. Contohnya pada kasus prostitusi gay di Bogor, para korban tetap tinggal di rumah masing-masing, yang mana akan keluar jika mendapat panggilan dari mucikari. Artinya, orang tua sebenarnya bisa mengontrol hal tersebut.

"Kita khawatir sabagiannya karena kelalaian orang tua membiarkan anak berpergian malam tidak diperiksa, tidak ditanya, tidak diajak komunikasi, ini yang menjadi kekhawatiran saya," ucapnya.

Menurutnya, kedua kasus tersebut adalah bencana kemanusian pada peradaban saat ini. Fenomena seperti ini merupakan peringatan untuk masyarakat pada umumnya.

Disampaikan kekerasan seksual ini bukan hanya terjadi di tempat yang jauh, tapi di sekitar lingkungan dan pelakunya juga orang dekat yang sudah dikenal. Hal ini terbukti dengan terkuaknya kasus di Banjar.

Untuk korban penyelewengan seksual kakek 70 tahun tersebut pihaknya turun langsung, diantaranya dengan melibatkan tenaga psikolog.

"Termasuk pendampingan bagi keluarga korban. karena bila bicara kekarasan seksual ini kan sebetulnya banyak pihak yang harus kita terapi, bukan hanya korban tapi juga keluarga korban," pungkasnya.
[Rianto Nudiansyah]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: