KAMIS, 8 SEPTEMBER 2016

Lombok Timur --- Bagi sebagian orang atau masyarakat lain, terutama masyarakat perkotaan atau masyarakat yang hidup di daerah yang memiliki banyak sumber mata air, masalah air mungkin tidak pernah menjadi persoalan. Bahkan tidak jarang air kerap jadi persoalan dan musibah banjir ketika musim hujan tiba.


Tapi bagi sebagian masyarakat lain, terutama yang hidup dan tinggal di daerah pinggiran lahan kering, seperti di Pulau Lombok bagian selatan, air menjadi barang mahal dan langka untuk didapatkan, terutama saat musim kemarau tiba.

"Air di sini susah dan menjadi barang langka, terutama saat musim kemarau, hujan juga jarang turun, tercatat tahun 2016 saja hujan di daerah kami hanya berlangsung selama dua bulan, yaitu Januari sampai Februari, setelah itu panas sampai sekarang" kata Tami (50) warga Dusun Temodo, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada Cendana News, Kamis (8/9/2016).

Sehingga tercatat, warga Desa Serewe sudah mengalami kekeringan dan krisis air bersih selama enam bulan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pasokan air bersih warga harus membeli air bersih dari penjual yang berkeliling kampung menggunakan mobil tangki dengan harga empat sampai lima ribu satu jerigen besar.

Untuk warga yang memiliki uang banyak, biasanya membeli air bersih tidak saja untuk kebutuhan minum, tapi juga untuk kebutuhan mandi atau mencuci dengan membayar 200 ribu pertangki.

"Tapi bagi masyarakat miskin seperti kita, bisa membeli air untuk kebutuhan minum saja merupakan suatu kesukuran, kalau masalah mandi jangan ditanya sudah, warga jarang mandi, paling mandi ke laut" ungkapnya.

Hamzani, warga lain mengatakan, krisis air bersih dan gagal panen bukan kali ini saja dialami warga, karena jarang hujan, tapi sudah biasa berlangsung dan menimpa warga setiap tahun, tapi 2015 dan 2016 termasuk paling terparah dan tidak saja menyebabkan krisis air bersih bagi warga, tapi juga mengakibatkan lahan pertanian warga mengalami kekeringan dan gagal panen.

Sehingga memang kondisi seperti sekarang sudah biasa dialami dan menimpa warga, jadi bukan suatu hal baru. Bagi orang lain, situasi seperti mungkin tidak akan mudah dihadapi dan betah hidup di daerah kekeringan seperti Desa Serewe, termasuk beberapa Desa lain di Kecamatan Jerowaru Lombok Timur, tapi masyarakat Desa Serewe menjadi terbiasa, karena lahir dan besar disini.

Minim Bantuan, Rawan Keributan

Meski warga setiap tahun mengalami krisis air bersih, tapi bantuan air bersih yang didropkan pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Sosial sangat minim dan tidak mampu mencukupi kebutuhan warga yang ada di Desa Serewe yang jumlahnya mencapai ratusan Kepala Keluarga.

"Bantuan air bersih dari pemerintah masih jauh dari harapan dan hanya diberikan dua kali dalam satu bulan, mana bisa cukup dengan jumlah KK Desa Serewe yang jumlahnya mencapai ratusan" kata Murdani, Kepala Dusun Temodo, Desa Serewe.

Akibat kondisi tersebut, keributan antar warga seringkali berlangsung karena harus berebutan bantuan air bersih yang didropkan pemerintah secara gratis sangat terbatas, untung saja tidak sampai terjadi perkelahian dan hanya sekedar percekcokan kecil.

Menurutnya, satu dusun idealnya baru akan tercukupi dengan pasokan air bersih, kalau Pemkab Lotim melalu Dinas Sosial bisa mendropkan air sekali antar antara 4 sampai lima tangki, selama ini satu dusun hanya dijatah satu tangki, bagaimana mau cukup.

Karena itulah, Murdani meminta kepada Pemerintah Provinsi NTB juga supaya turun tangan membantu kesulitan air bersih yang dialami warga Desa Serewe dan beberapa Desa lain di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Selain Desa Serewe, beberapa desa lain yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih antara lain, Kaliantan, Kuang Rundun, Ekas, Koleng, Nemerang dan Sekaroh.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: