SABTU, 10 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Hiruk pikuk Kota Kalianda yang dipenuhi suara bising kendaraan terasa akan sunyi saat memasuki sebuah taman yang berisi ratusan jenis pohon tepatnya dikenal dengan hutan kota dengan nama Khimba Tenyanik (hutan buatan dalam bahasa Lampung). Suasana dingin dengan semilir angin yang berada di rerimbunan berbagai jenis pohon merupakan sebuah sensasi saat memasuki hutan kota yang berada di dekat badan lingkungan hidup (BLHD) Kabupaten Lampung Selatan tersebut. 


Memasuki hutan kota ini,sebuah gerbang akan menyambut dilanjutkan dengan jalan paving yang sebagian sudah berlumut akibat kelembaban yang tinggi. Saat akhir pekan dengan kondisi cukup terik, khimba tenyanik menjadi tempat berteduh dengan adanya batu batu besar, kursi terbuat dari semen yang dapat digunakan menikmati kesejukan hutan kota ini.

Salah satu pecinta alam yang suka mendaki gunung, Aji Pratama (19) mengungkapkan lokasi ini sering digunakan sebagai tempat anggota Pramuka terutama saka Wana Bakti atau satuan karya lain untuk lokasi berlatih mencari jejak atau kegiatan luar ruangan. Meski lahan yang tak cukup luas, namun keberadaan hutan kota yang disisakan pada perkembangan kota tersebut cukup membantu dalam mencari udara segar pada musim kemarau.

"Lokasinya yang berada di tengah kota memang cukup strategis dan kalau berada di sini kita akan benar benar terhindar dari hiruk pikuk suasana kota, setidaknya bisa menjadi tempat menenangkan diri," ungkap Aji yang mengajak dua orang temannya ke Khimba Tenyanik saat berbincang dengan Cendana News, Sabtu (10/9/2016).


Suasana Khimba Tenyanik terlihat dengan adanya berbagai jenis tanaman diantaranya menurut Aji terdapat sekitar ratusan tanaman langka yang sudah sukar ditemui diperkampungan diantaranya tanaman gebang yang menyerupai tanaman palem dengan ketinggian mencapai 30 meter lebih, pohon gayam, duwet,pohon kemiri, serta berbagai jenis pohon lain yang sengaja ditanam untuk membuat hutan buatan tersebut menjadi lebih beragam diantaranya akasia, mahoni serta berbagai jenis tanaman lain diantaranya damar (Agathis alba), mahoni (Swietenia macrophylla), jamuju (Podocarpus imbricatus), pala (Mirystica fragrans), asam landi (Pithecelobiumdulce), johar (Pithecelobiumdulce). Jalanan setapak terbuat dari paving membuat pengunjung bisa menyusuri jalan jalan di antara rindangnya pohon dengan disuguhi kicauan burung liar yang mendiami hutan buatan tersebut.

Aji mengaku menyambut positif langkah pemerintah setempat menjaga hutan kota tersebut. Karena hutan kota sangat penting untuk keseimbangan ekologi manusia dalam beberapa hal sepertu, kebersihan udara, ketersediaan air tanah, pelindung terik matahari, kehidupan satwa dalam kota dan tempat rekreasi. Hutan kota diakuinya juga bisa mengurangi dampak cuaca yang tidak bersahabat seperti mengurangi kecepatan angin terutama Kota Kalianda merupakan satu kota yang berada di pinggir pantai, mengurangi banjir, memberi keteduhan dan bahkan memberikan efek pengurangan pemanasan global.


Lokasi yang berada di area perkantoran pemerintah daerah Lampung Selatan tersebut menurut Aji masih sangat disayangkan karena kurang terawat akhir akhir ini padahal ruang terbuka hijau (RTH) sangat diperlukan. Selain itu lokasi tersebut masih banyak ditemui beragam jenis burung yang saat ini tinggal di pohon pohon yang tumbuh subur di hutan buatan tersebut.

"Kalau siang di sini masih bisa didengar beragam jenis burung bahkan pernah ada ayam hutan yang tinggal di sini tapi sekarang sudah tidak ada lagi," ungkap Aji.

Keberadaan kawasan ruang terbuka hijau di kota Kalianda menurut Aji ada di sejumlah lokasi diantaranya di sekitar Kodim 0421/LS, perumahan ragom, serta taman hijau di dekat rumah rehabilitasi narkoba Kalianda. Namun perhatian dari pihak terkait tentang pelestarian lokasi tersebut masih kurang. Hutan buatan Kota Kalianda yang memiliki potensi kayu kayu langka dan sangat sejuk tersebut masih kurang dilengkapi fasilitas penunjang diantaranya tempat istirahat dan sejumlah paving yang sudah mulai terlepas.

Kebijakan tentang pembuatan hutan kota menurut Aji perlu ditinjau ulang karena sebagian hutan kota atau ruang terbuka hijau yang masih cukup bertahan salah satunya hanya Khimba Tenyanik, padahal aturan tentang hutan kota tertuang dalam PP No 63. tahun 2002 tentang hutan kota dengan mengamanatkan presentase penyediaan hutan kota di suatu wilayah seluas paling sedikit 10 persen dari wilayah perkotaan atau disesuaikan dengan kondisi setempat.

Meski demikian ia mengungkapkan selama ini komunitas pecinta alam menjadikan lokasi tersebut sebagai lokasi percontohan di kota Kalianda. sebab keberadaan hutan kota memiliki sisi positif diantaranya efektif dalam meredam kebisingan, menyerap panas, meningkatkan kelembabab, menimbulkan suasana nyaman dan menjaga kelestarian. Pohon pohon langka yang ditanam di lokasi hutan buatan tersebut diantaranya bahkan menjadi habitat beberapa burung liar diantaranya perkutut, kutilang, ciblek serta berbagai jenis burung lain.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: