SELASA, 13 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Dua warga Kampung Jering Desa Bakauheni diantaranya keluarga Triono (50) dan Sohandi (50) warga Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni melakukan aksi mematok dan memagar lokasi lahan tol Sumatera di STA 03 Desa Bakauheni yang masih dalam tahap pembersihan (land clearing). Aksi blokir jalan tersebut dilakukan dengan memasang plang papan larangan alat berat dan pekerja melakukan aktifitas di lahan yang belum dibayar.


Menurut Triono, pemilik lahan, aksi tersebut dilakukan setelah pihak pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) belum memberikan uang ganti rugi lahan tanah dan tanam tumbuh di lokasi milik warga tersebut. Padahal proses pengukuran dan penggantian rugi lahan tersebut menurut Triono sudah hampir 8 bulan belum ada titik terang bahkan uang yang ada di rekening dibekukan dan tidak bisa diambil.

“Aksi blokir jalan terpaksa kami lakukan setelah berbagai proses kami jalani dan ternyata hingga detik ini belum ada penyelesaian dari pemerintah,”ungkap Triono kepada Cendana News di lahan yang dipagar dan diberi patok dan papan plang larangan, Selasa (13/9/2016).

Triono mengaku selain dirinya warga lain yang belum menerima uang ganti rugi lahan Tol Trans Sumatera tersebut diantaranya warga lain yang bersebelahan dengan lahan miliknya bernama Sohandi seluas 5.000 meter persegi dan khusus lahan miliknya  Triono mengakui memiliki lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi.

Berdasarkan perhitungan tim appraisal yang sudah masuk dalam rekening untuk kedua lahan tersebut mencapai Rp1,3 Milyar meliputi lahan tanah dan tanam tumbuh. Triono mengakui khusus untuk tanam tumbuh dirinya mengaku berbagai jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi diantaranya kayu sengon, kayu kelapa, coklat dan berbagai jenis tanaman lain sama sekali belum mendapat uang ganti rugi.

Saat akan dilakukan proses pencairan uang ganti rugi lahan tol muncul seseorang bernama Joko Asmoro yang mengklaim memiliki tanah tersebut dengan alas hak sertifikat. Akibatnya sebelum proses pencairan Triono menggugat pihak Joko Asmoro terkait kepemilikan lahan tanah yang kini sudah dilalui tol dan masuk dalam tahap pembersihan lahan (land clearing).

Triono mengaku terus akan melakukan langkah hukum terkait status kepemilikan tanah yang dilalui lahan tol sehingga berimbas proses pencairan tidak bisa dilakukan. Selain akan menempuh jalur hukum Triono bahkan sore ini berniat melakukan aksi penanaman pohon singkong, sengon, pisang serta tanaman lain yang hingga kini belum diganti rugi.

“Baik tanah serta tanam tumbuh yang belum diganti akan kami perjuangkan dan akan kami tanami kembali di lahan milik kami yang belum mendapat ganti rugi dari pemerintah dan kami bingung harus mengadu ke siapa,”ungkap Triono.


Selain melakukan aksi menanam tanaman kembali di lahan yang belum diganti rugi tersebut Triono mengaku akan membuat posko berupa tenda dan gardu yang akan digunakan sebagai posko solidaritas. Posko tersebut dipasangi bendera merah putih sekaligus spanduk kekecewaan warga terkait belum dibayarkannya uang ganti rugi lahan tol. Posko solidaritas tersebut sekaligus sama dengan yang dilakukan puluhan warga Dusun Cilamaya yang hingga kini masih melakukan blokade jalan di jalur pembangunan tol.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: