SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Ketua Komisi VII DPR RI Gus irawan menilai keuntungan PT Pertamina (Persero) dari penjualan BBM subsidi hingga mencapai Rp 8,3 Triliun di semester I terlalu besar.


Menurut Gus, kondisi ini menunjukkan bahwa BUMN tersebut justru membebani masyarakat dengan harga BBM yang mahal.

"Harga minyak mentah (ICP) sekarang lebih rendah, semestinya Pertamina dapat menjual BBM ke masyarakat lebih murah dong" kata Gus di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin, (26/9/2016).

Ujar Gus, Komisi VII DPR belum pernah menerima laporan keuangan Pertamina. Tetapi dari harga BBM yang berlaku, memang rasanya Pertamina untung besar karena jual harga jauh di atas harga perekonomiannya.

"Ya, BUMN Pertamina seharusnya bisa mengoptimalkan keuntungannya dari bisnis non BBM subsidi. Misalnya dari sektor hulu migas yang memang menjadi wilayah kerja utama Pertamina" tandasnya

Ia menyampaikan, bahwa berdasarkan laporan keuangan Pertamina semester I 2016 terungkap bahwa Pertamina meraih untung hingga US$ 755 juta dari pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) dan penugasan (kerosene, LPG 3 kg, solar dan premium non Jamali).

Sambungnya, rincian dari keuntungan penjualan BBM PSO dan penugasan mencapai USD 637 juta atau sekitar Rp 8,3 triliun dan dari LPG 3 kg sebesar USD 117 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun.

"Dengan melihat kondisi ini memang membebani masyarakat karena harga BBM masih dianggap mahal, situasi ekonomi yang sulit ini, janganlah justru Pertamina membebani rakyat" pungkasnya.
(Adista Pattisahusiwa)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: