SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta menggelar kompetisi kewirausahaan sosial (Sociopreneur Muda Indonesia/SOPREMA). Kompetisi itu digelar untuk meningkatkan animo generasi muda untuk berkecimpung di dunia usaha, yang sangat dibutuhkan dalam rangka membuka lapangan kerja baru dan pemberdayaan masyarakat.

Kika: Hsmpri Suyatna, Erwan Agus Purwanto, Jonni Mardizal
Kompetisi Sosiopreneuer yang baru pertama kali digelar, merupakan upaya menjaring dan menumbuhkan peran serta generasi muda agar mau bergelut di dunia usaha. Dalam kompetisi tersebut, peserta tidak hanya dituntut mampu mempresentasikan sebuah bentuk usaha yang berorientasi kepada keuntungan semata, melainkan juga harus mampu memberikan dampak pemberdayaan masyarakat di sekitarnya.

Direktur Pelaksana Kompetisi Soprema, Hempri Suyatna, ditemui usai pembukaan seminar kompetisi soprema di Gedung Graha Sabha Permana UGM, Senin (5/9/2016), menjelaskan, Soprema ini digelar juga sebagai upaya memberikan solusi terhadap banyaknya masalah sosial seperti pengangguran dan kemiskinan, karena dalam kompetisi tersebut peserta dituntut mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya dengan melibatkannya dalam usaha bisnisnya. 

Selama ini, kata Hempri, berbagai program pendampingan usaha kreatif hanya berorientasi kepada bisnis semata, dan jumlah sociopreneur masih jauh dari angka ideal yang seharunya mencapai jumlah 4 Persen dari keseluruhan usaha di seluruh Indonesia. 

"Saat ini kita baru mencapai angka 1,56 Persen sehingga sangat perlu adanya upaya-upaya peningkatan" jelasnya.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama UGM, Paripurna Sugarda, menambahkan, kompetisi soprema juga merupakan upaya membentuk trend baru generasi muda dan merubah paradigma dari yang semula hanya bercita-cita menjadi pekerja (mentalitas pekerja) menjadi wirausahawan yang mampu mempekerjakan orang lain. Kompetisi ini, kata Sugarda, tidak sekedar merespon apa yang terjadi saat ini. Namun, merupakan upaya konkrit menciptakan inovator-inovator baru agar bisa mengalahkan persaingan dunia di era terbuka Masyarakat Ekonomi Asean.


Tak sekedar untuk menjawab persaingan di era ekonomi global, kompetisi soprema juga menjadi upaya memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial. Dekan Fisipol UGM, Erwan Agus Purwanto mengatakan, setiap kegiatan usaha biasanya juga akan berdampak sosial seperti misalnya taxi online dan sebagainya. Karena itu, ke depan isu sosial akan menjadi penting dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi. Maka, katanya, perlu disiapkan sebuah solusi agar kegiatan usaha juga memiliki kesadaran sosial, agar tidak menimbulkan masalah baru. 

Senada dengan itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi Kreatif Kementerian Pemuda Dan Olahraga, Jonni Mardizal yang hadir dalam pembukaan seminar kompetisi soprema tersebut mengatakan, peran aktif pemuda menjadi sangat penting dalam menjawab tantangan di era global. Pemuda, katanya, juga memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan.

"Karena itu, dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, disebutkan, bahwa kita ingin membangun pemuda yang bertakwa, berakhlak mulia budi pekerti, mandiri, kreatif, inovatif dan berdaya saing. Hal ini menjadi tanggung-jawab bersama yang penting dilakukan dalam mengantisipasi pula adanya proxy war yang menyasar generasi muda yang hendak menghilangkan generasi muda calon pemimpin masa depan" ujarnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: