SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

MALANG --- Seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, di era modern seperti sekarang ini sudah jarang sekali terlihat anak-anak yang masih memainkan permainan tradisional. Bahkan terkadang mereka justru tidak mengetahui jenis permainan tradisional itu seperti apa.


"Anak-anak bukannya tidak ingin bermain permainan tradisional, tetapi orang tuanya yang tidak memperkenalkan permainan tradisional kepada mereka,"ujarnya Mohamad Zaini Alif, pendiri Komunitas Hong kepada Cendana News, Senin (5/9/2016).

Ia menceritakan, komunitas Hong sendiri sebenarnya merupaka sebuah komunitas yang berpusat di Bandung dan fokus utamanya adalah meniliti, mengumpulkan permainan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia untuk di lestarikan. Sejak berdiri tahun 2005 hingga sekarang, setidaknya sudah ada sekitar 2.600 permainan tradisional yang berhasil komunitas Hong kumpulkan dari seluruh Indonesia.

"Kami sering bekerjasama dengan lembaga pemerintah khususnya Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (WDB) untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak. Salah satu caranya yaitu dengan mengadakan workshop maupun olimpiade permainan tradisional," ungkapnya.

Untuk sementara, komunitas Hong baru memperkenalkan permainan tradisional ke anak-anak yang ada di kota. Pengenalan tersebut di mulai dari menjelaskan seberapa banyak permainan tradisional yang komunitas ini miliki hingga bagaiman cara maupun aturan untuk memainkan masing-masing permainan sehingga dari situ mungkin akan menarik perhatian mereka untuk kembali mengenal permainan tradisional.

"Dalam permainan tradisional yang terpenting adalah nilai-nilai budaya yang harus bisa tersampaikan seperti halnya nilai kejujuran, kebersamaan maupun nilai kepatuhan serta mengenal budaya bangsanya sendiri,"tuturnya.

Sejak di tahun pertama komunitas Hong berdiri, mereka sudah berkeliling Nusantara dan masuk ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan kembali data-data permainan dan budaya Indonesia yang ada di dalam dunia anak-anak.

Menurut Zaini, melalui semakin seringnya workshop maupun acara-acara seperti Pekan Budaya Indonesia yang menampilkan permainan tradisional, ia yakin lambat laun anak tertarik untuk kembali memainkan permainan tradisional atau bahkan mereka mampu membuat sendiri permainan tradisional.


Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa nama 'Hong' sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Sunda yang berarti bertemu. Lokasi komunitas Hong berada di Jalan Bukit Pakar Utara No.35 Dago, Bandung. Meskipun berpusat di Bandung, namun anggota komunitas Hong sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: