JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Meski tak lagi sebanyak dahulu, sejumlah petani di lereng Gunung Merapi masih bisa menuai penghasilan dari pohon kopi jenis robusta. Bahkan, seiring dengan merebaknya kedai-kedai kopi di Kota Yogyakarta, permintaan kopi dari lereng Gunung Merapi terus meningkat.

Suryono memetik kopi
Enam tahun pasca erupsi Gunung Merapi, kini upaya sejumlah petani untuk melestarikan perkebunan kopi mulai merasakan hasilnya. Hal demikian sebagaimana dialami oleh Suryono, salah satu petani kopi di Dusun Gondang Pusung, Cangkringan, Sleman.

Suryono yang ditemui Jumat (16/9/2019), mengaku bersyukur lantaran selama enam tahun ini mampu membangkitkan lagi kesuburan pohon kopinya yang pada 2010 lalu, nyaris hancur akibat erupsi Gunung Merapi.

Setidaknya, kata Suryono, masih ada sekitar 300 pohon kopi miliknya yang kini dalam kondisi baik dan bisa menghasilkan biji kopi yang berkualitas. Dan, dari pohon kopi sebanyak itu, katanya, dalam satu kali panen Suryono bisa mendapatkan 700 Kilogram biji kopi kering.

Sementara itu dalam hal pemasarannya, Suryono mengaku tak ada kendala. Pasalnya, selama ini biji kopi hasil panennya dijual melalui koperasi, sehingga harganya lebih terjamin dan stabil. Adapun biji kopi kering hasil panennya dihargai Rp. 25.000 Per Kilogram. 

Kopi robusta Gunung Merapi
Kopi dari lereng Gunung Merapi selama ini dikenal memiliki rasa yang khas. Meski jenis kopi yang ditanam yakni robusta juga ditanam di daerah lain, namun kopi robusta dari lereng Gunung Merapi diyakini lebih memiliki cita rasa yang berbeda.

Selain dibuat bubuk kopi dengan merk Kopi Turgo, kopi dari lereng Gunung Merapi juga banyak dijual eceran di sejumlah kedai yang ada di kawasan obyek wisata Gunung Merapi. Suryono mengatakan, beberapa tahun ini permintaan kopi terus meningkat. Harganya juga cukup tinggi, sehingga bisa menambah penghasilan.

"Tapi, sayangnya sudah tidak banyak warga yang mau membudi-dayakan pohon kopi. Saya sendiri awalnya hanya ingin mempertahankan kebun kopi warisan keluarga", pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: