RABU, 28 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Museum Dharma Bhakti Kostrad menyimpan sejarah perjalanan, pengabdian dan peran serta Kostrad sebagai salah satu pilar TNI dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Diantaranya adalah Misi kemanusiaan, Operasi militer, bahkan sampai Misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

kiri atas : prajurit Kostrad mengevakuasi seorang balita dalam bencana banjir Petamburan, Jakarta 2013; kanan atas : Kapten Fardin Wardana (mengangkat tangan) coba mencegah baku tembak antara Tentara Lebanon dan Tentara Israel di wilayah Blue Line Pos 8-33 tahun 2010; kiri bawah : base camp Mayidundu tempat berkumpulnya Batalyon Konga Indonesia di Kongo, tahun 2010; kanan bawah : sejenak foto bersama antara personil Konga Indonesia dengan personil tentara Kongo, tahun 2010

Tugas Operasi Kemanusiaan Kostrad

Wilayah indonesia yang terdiri dari ribuan pulau berpotensi tinggi terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, tanah longsor, dan banjir, karena letak geografis Indonesia yang dilalui oleh tiga lempengan bumi. Dengan posisi Indonesia yang demikian, maka tidak ada wilayah di NKRI ini yang aman terhadap gempa dan bencana lainnya.

Kesiapan satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam penanggulangan bencana perlu ditunjang dengan peralatan yang memadai dan personil yang profesional. Pasukan Kostrad telah membuktikan keberhasilannya dalam berbagai tugas Operasi tempur, dan juga selalu mendapat tempat di hati rakyat karena keberhasilan serta dedikasi tinggi dalam berbagai tugas operasi kemanusiaan seperti bantuan terhadap korban tsunami Aceh, pembuatan rumah penduduk di Poso, evakuasi korban pesawat Sukhoi di Gunung Salak maupun pesawat Cessna di Majalengka, bantuan kemanusiaan terhadap korban gempa bumi Yogyakarta, Ciamis, Padang, dan Mentawai.

Begitu pula peran Kostrad untuk bantuan kemanusiaan terhadap korban letusan Gunung Merapi di Yogyakarta yang menyita perhatian publik begitu besar, korban banjir di wilayah Jakarta, dan peristiwa kebakaran hutan di Riau. Semua dilakukan Kostrad dengan pedoman sebuah pengabdian luhur bagi rakyat, bangsa, dan negara.

Sebuah diorama menarik turut ditempatkan di Museum Dharma Bhakti Kostrad yang mengisahkan 5 (lima) prajurit Yonzipur 10/2 Kostrad yang tergabung dalam TMMD Tanggap Darurat ke-74 Tsunami Aceh melakukan evakuasi jenazah pada tahun 2005. Mereka adalah : Pratu Dede Hidayat, Pratu Sopian, Pratu I Nyoman Mawan, Serda Agus Trimawan, dan Sertu Samijan.


Latihan Tempur Dalam dan Luar negeri Kostrad

Kostrad terdiri dari 2 Divif, 6 Brigade Infanteri, 2 Resimen Armed, yang dilengkapi dengan Satbanpur dan Satbanmin. Dalam tugasnya, Kostrad menjadi bagian utama dalam PPRC TNI (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat Tentara Nasional Indonesia) yang selalu siap bergerak untuk penindakan awal "Trouble Spot" di wilayah Nusantara. Kostrad memiliki kapasitas dan kemampuan untuk melaksanakan operasi dengan berdiri sendiri atau membantu Komando Operasi lainnya.

Tanggal 4 Agustus 2001 merupakan hari bersejarah bagi Kostrad karena sejak saat itu Kostrad memiliki sebuah Pasukan Khusus Tempur dengan diresmikannya Pasukan Elit baru bernama Peleton Pengintai Tempur (Ton Taipur) yang memiliki kemampuan khusus dalam berbagai operasi baik di darat, lau, maupun di udara.

Untuk menjaga kesiapan prajurit sekaligus memperdalam ilmu tempur kemiliteran maka Kostrad aktif dalam berbagai program latihan militer bersama dengan negara-negara lain diantaranya Malaysia, Singapura, Brunei, Mongolia, India, Australia, dan Amerika Serikat.


kiri atas : suasana menurunkan pasukan dari helikopter dalam latihan gabungan; kanan atas : Yonif 509/9/2 Kostrad dalam latgab TNI di Situbondo 2013; kiri bawah : manuver Tank oleh Yonkav 8/2 Kostrad dalam latgab TNI di Situbondo 2013; kanan bawah : Yonif L 305 dalam Operasi Pamtas di Kalimantan barat 2012

Tugas Operasi Dalam Negeri Kostrad

Khusus untuk operasi militer dalam negeri yang dilakukan maka Kostrad terlibat dalam beberapa operasi besar seperti :

1. Operasi Trikora

Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag Belanda membahas masalah penyelesaian Irian Barat namun Belanda mengingkari kesepakatan. Sehingga pada 19 Desember 1961 di Alun-alun Lor Yogyakarta, Presiden RI Soekarno menyerukan Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) yang berisi : Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda kolonial; Kibarkan Merah Putih di Irian Barat Tanah air Indonesia; dan Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air bangsa.

Diorama menarik dipamerkan di Museum Dharma Bhakti Kostrad mengenai keterlibatan Kompi-B pimpinan Mayor M.Sanif dari Batalyon 328 Kostrad untuk melakukan infiltrasi dengan tujuan menambah kekuatan pasukan dan perlengkapan logistik untuk daerah Droping Zone Kaimanan serta Merauke.

Saat Mayor M.Sanif menaiki pesawat Hercules yang akan menerbangkan dirinya bersama pasukannya itu, Jenderal Mursid sempat berkata : " Kamu sebagai perwakilan Siliwangi akan diberangkatkan untuk menunaikan tugas suci. Kamu berangkat memiliki satu karcis untuk berangkat saja, selamat jalan, Tuhan bersama kita."


2. Operasi Dwikora

Konfrontasi antara Indonesia dengan Persekutuan Tanah Melayu berawal dari niat Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman yang didukung penuh oleh Inggris untuk membentuk Federasi Malaysia yang wilayahnya meliputi Semenanjung Malaka. Niat tersebut ditentang keras oleh Indonesia dan Filipina, namun akhirnya Filipina menarik diri dari konflik ketika melihat Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu/Malaysia semakin terbakar api konflik.

Perundingan antara Indonesia dengan Malaysia menemui jalan buntu, sehingga Indonesia dengan tegas memilih menempuh jalan operasi militer guna menggagalkan pembentukan Federasi Malaysia. Pada apel besar sukarelawan tanggal 3 Mei 1964 di Jakarta, Presiden RI Soekarno menyerukan Operasi Dwikora (Dwi Komando Rakyat) yang berisi : Perhebat ketahanan Revolusi Indonesia dan Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, dan Brunei.

3. Operasi Seroja

Menjelang akhir tahun 1975, Pemerintah Portugis meninggalkan daerah jajahannya di Timor Portugis, sehingga suasana kacau balau karena terjadi persaingan antar kelompok dan partai-partai politik untuk saling berebut kekuasaan. 

Pada 28 November 1975, Fretilin secara sepihak memproklamasikan berdirinya Negara Republik Demokratik Timor-Timur. Guna mencegah terjadinya kondisi yang tidak diharapkan maka Pemerintah Indonesia melakukan pembahasan mengenai masa depan dan keamanan di Timor Portugis yang akhirnya berujung pada keputusan Operasi militer besar-besaran bernama Operasi Seroja pada 7 Desember 1975.



4. Operasi Mengatasi GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Aceh

Dalam upaya memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) maka Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) Aceh mendeklarasikan Negara Aceh Merdeka di Kecamatan Tiro pada 1976. Sejak saat itu mereka mulai melakukan tindak kekerasan yang mengganggu keamanan masyarakat.

Dalam upaya mempengaruhi rakyat, mereka menyebarkan pamflet berisi hasutan agar rakyat membenci Pemerintah RI dan mendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM) serta mengibarkan bendera GAM.

ABRI melakukan respon dengan Operasi Sandi Yudha menerjunkan Pasukan khusus yang tergabung dalam Tim Nanggala XVI dengan menitikberatkan Operasi intelijen pendekatan teritorial yaitu mengerahkan rakyat berpartisipasi menghancurkan GAM. Operasi militer ini berhasil menghancurkan GAM pada bulan Maret 1982. 

Namun GAM berhasil melakukan konsolidasi lagi tahun 1982-1989 dengan memanfaatkan kesenjangan sosial masyarakat Aceh saat itu. Oleh karena itu walaupun GAM seolah-olah hilang dari panggung politik selama 6 (enam) tahun namun pada 1989-2004 GAM muncul kembali dengan melakukan serangkaian penyerangan terhadap pos-pos aparat keamanan dan pembunuhan terhadap penduduk setempat.

Operasi penumpasan GAM terbilang cukup panjang, namun TNI mendapatkan suntikan moril positif dengan keberhasilan Tim Khusus Tempur Kostrad yang tergabung dalam Tim II/C Satgas Yonif Linud 330 dalam sebuah misi penyusuran, pengintaian, dan pengejaran yang akhirnya berhasil mengeliminasi Panglima GAM, Tengku Abdullah Syafe'i.

Dalam operasi pengejaran yang dilakukan Tim II-A pimpinan Serka I Ketut Muliastra dengan dibantu Tim II-B pimpinan Sertu I. Ketut Sutara berhasil menewaskan 7 orang anggota GAM dimana satu diantaranya adalah Panglima GAM Tengku Abdullah Syafe'i.

Berikut tujuh korban anggota GAM yang tewas dalam kontak senjata tersebut : Tengku Abdullah Syafe'i (usia 50thn, Panglima GAM), Daud Hasim (usia 60thn, GAM), Muhamad Isak (usia 32thn, GAM), Usman Abdullah (usia 25thn, GAM), Fatimah istri Tengku Abdullah (usia 53thn, GAM), serta dua orang anggota GAM lainnya tanpa identitas.


Tugas Operasi Luar Negeri Kostrad

Dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia tahun 1945 disebutkan bahwa bangsa Indonesia ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam rangka memperkuat cita-cita perdamaian dan solidaritas internasional.

Berkaitan dengan hal tersebut maka Indonesia ikut berpartisipasi secara aktif memecahkan perselisihan antar bangsa dan negara di dunia dengan jalan damai. Tentara Nasional Indonesia (TNI) khususnya Kostrad diberi kehormatan sebagai duta bangsa Indonesia untuk mengirimkan pasukan perdamaian dunia dan bantuan kemanusiaan dalam pelaksanaan tugas-tugas internasional dibawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Untuk tugas ini, Kostrad tergabung dalam Satgas Gabungan yang dinamakan Satgas Kontingan Garuda atau Satgas Konga. 

Peran dan tugas Kostrad dalam pasukan PBB antara lain melaksanakan Operasi Pengawasan Gencatan Senjata, Operasi Demobilisasi dan Perlucutan Senjata, Operasi Perlindungan Keamanan dan Keselamatan, Operasi Pengawasan Polisional, dan Operasi Bantuan Kemanusiaan antara lain di negara Kamboja, Filipina, Iran, China, Lebanon, Bosnia, Kongo, dan Somalia.

Diorama kembali dipamerkan untuk menggambarkan bagaimana peran serta Kostrad dalam misi perdamaian dunia khususnya dalam bantuan kemanusiaan untuk kesehatan dan pengobatan. Melalui diorama tersebut coba diperlihatkan bagaimana Serma Ismail dan Serka Azwar yang tergabung dalam Satgas Konga XX D (Kontingan Garuda Ke-20 D) Kompi Zeni dengan didampingi Lettu Alpha Qabuka (Tentara Kongo) sedang mengadakan pengobatan massal terhadap Suku Pygmies Wilayah Beni Brigade Ituri Provinsi Ituri, Kongo, Afrika tengah di tahun 2010.

kiri : diorama 5 (lima) prajurit Yonzipur 10/2 Kostrad yang tergabung dalam TMMD Tanggap Darurat Ke-74 Tsunami Aceh melakukan evakuasi jenazah pada tahun 2005. Mereka adalah : Pratu Dede Hidayat, Pratu Sopian, Pratu I Nyoman Mawan, Serda Agus Trimawan, dan Sertu Samijan.; kanan : diorama diorama pemberangkatan Batalyon 328 Kostrad dalam Operasi Trikora

Akhirnya, semua yang dilakukan Kostrad baik operasi militer maupun operasi kemanusiaan di dalam dan luar negeri adalah sebuah pengabdian luhur anak-anak bangsa Indonesia, bukan saja bagi bangsa dan negara Republik Indonesia, melainkan juga untuk masyarakat internasional.

Bagi Kostrad bukan tugas apa yang akan dilakukan, akan tetapi bagaimana tugas tersebut dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya demi bangsa dan negara tercinta yakni Republik Indonesia. Dan semuanya seakan terbayar lunas dengan melihat bagaimana Kostrad yang terus bertumbuh hingga saat ini serta terus menjadi salah satu kekuatan tempur terdepan di tubuh Tentara Nasional Indonesia.

Sumber : Museum Dharma Bhakti Kostrad, Mabes Kostrad Jakarta

[Miechell Koagouw]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: