SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

MAUMERE --- Pembangunan Taman Kota Maumere yang berada di jantung Kota Maumere mendapat kecaman dari DPRD Sikka. Kecaman yang juga berujung kepada mosi tidak percaya ini disampaikan saat rapat paripurna DPRD Sikka, Jumat (2/9/2016).

Pohon yang ditebang di taman Kota Maumere untuk membangun monumen
Kepada wartawan yang menemuinya usai sidang Rafapel Raga, SP ketua DPRD Sikka mengaku kesal dengan apa yang dilakukan pemerintah kabupaten Sikka.

“Saya tidak setuju dengan perusakan pohon-pohon besar di taman kota. Kami di DPRD akan membuat mosi tidak percaya mengecam tindakan penebangan pohon yang berusia puluhan tahun ini” ujarnya.

Rafael menjelaskan, pembangunan taman kota sudah dianggarkan melalui Perda APBD Tahun Anggaran 2016.  Anggaran itu melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka. Namun dalam pembangunannya tidak ada pernyataan akan melakukan penebangan pohon.

Florensia Klowe,anggota DPRD Sikka asal fraksi Hanura yang dihubungi Cendana News Sabtu (3/9/2016) mengaku kesal dengan langkah yang diambil pemerintah dengan melakukan penebangan pohon yang berusia puluhan tahun.

Dikatakan Florensia, saat rapat kepala Bappeda Sikka menyampaikan bahwa sudah ada perencanaan terkait dengan pembangunan itu walaupun pohon ditebang tapi sudah disiapkan penggantinya.

“Kami di DPRD Sikka menyetujui anggaran untuk pembangunan monumen tidak dengan harus menebang semua pohon,” tuturnya lantang.

Secara teknis salah seorang perempuan dari tiga anggota dewan perempuan ini menyebutkan pemda Sikka melalui dinas terkait lebih mengetahuinya,harus disosialisasikan terlebih dahulu.

Kepala Bappeda saat rapat mengatakan akan dibuat ruang terbuka hijau dan ada tanaman pelindung lain, Florensia mengatakan, kalau itu tidak masalah tetapi harus sosialisasikan dulu ke  DPRD Sikka sebab yang disetujui DPRD kan cuma pembangunan monumen.

Nama konsultan pengawas di papan nama proyek pembangunan Taman Kota Maumere yang dihapus
“Kami di DPRD Sikka tidak menyetujui itu, kasihan pohon yang sudah ditanam puluhan tahun dan sudah besar tapi kenapa ditebang,” sesalnya.

ditambahkan Florensia, DPRD Sikka juga mempertanyakan hubungan saudara antara kontraktor pelaksana dan konsultan pengawasnya. Setelah diprotes DPRD, akhirnya nama konsultan pengawasnya di papan proyek dicoret.

“Ada apa ini, kenapa setelah disoroti DPRD nama konsultan pengawasnya ditutupi dengan cat,” tanyanya heran.

Pada dasarnya lanjut Florensia, DPRD Sikka setuju dengan penataan taman kota tapi salahnya pemerintah tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu.

“Ini yang menyebabkan DPRD Sikka mengeluarkan mosi tidak percaya,” ungkapnya.

Anggota Partai Hanura ini mengaku sangat kecewa dengan kejadian ini karena pemerintah sendiri tidak meincikan adanya penebangan pohon. Apalagi jika mendatangkan pohon pengganti dari pulau Jawa apakah tanaman ini cocok dengan iklim di Sikka dan bisa tumbuh?.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: