RABU, 28 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Kreatifitas tanpa batas untuk menyebarkan virus literasi atau budaya gemar membaca di wilayah pedesaan di Lampung Selatan terus dilakukan oleh Sugeng Haryono selaku pencetus motor pustaka yang merupakan bagian dari armada pustaka bergerak roda Andalas yang sehari hari berkeliling membawa buku buku bacaan untuk masyarakat terutama anak usia sekolah. 


Selain menggunakan kendaraan motor roda dua yang sudah dijalani selama setahun dirinya juga mulai menelurkan konsep srikandi pustaka menggunakan kendaraan roda dua yang memiliki visi serupa menebarkan virus literasi dan dikenal dengan Cetul Pustaka yang dikendarai oleh Asih seorang guru di Kecamatan Ketapang. 

Keinginan yang kuat untuk membudayakan kegemaran membaca bahkan membuatnya melahirkan ide kreatif yang terinspirasi dari keberadaan kendaraan sepeda atau dikenal dengan ontel untuk transportasi membawa buku buku bacaan bagi masyarakat dan anak sekolah. Ontel yang dikreasikan bisa digunakan untuk membawa peralatan pribadi dan bahkan dikreasikan sebagai pembawa buku buku lengkap dengan loker pada bagian kerangka sepeda ontel tersebut.

Sugeng Haryono saat dikonfirmasi Cendana News mengakui terciptanya ontel pustaka atau sepeda pustaka tersebut dilakukan setelah dirinya melihat semakin bertambahnya relawan Armada Pustaka Roda Andalas Lampung Selatan. Beberapa model alat transportasi yang di gunakan semakin beragam dan semakin unik sehingga semakin menarik minat masyarakat khususnya anak-anak untuk gemar membaca. Tercatat sudah tiga armada pustaka yang dijalankan diantaranya motor pustaka,cethul pustaka dan ontel pustaka belum termasuk rumah pustaka yang berada di Desa Pematang Pasir sekaligus lokasi tempat armada pustaka bermarkas.


“Konsep ini sebetulnya bukan barang baru karena sepeda sudah dikenal luas dan memodifikasinya sebagai transportasi untuk perpustakaan bergerak merupakan niat saya untuk menambah jangkauan dan relawan yang siap menebarkan virus literasi” ungkap Sugeng Haryono yang sehari hari bekerja sebagai tukang tambal ban di Jalan Lintas Timur Desa Pematang Pasir Kecamatan Ketapang tersebut, Rabu (28/9/2016)

Selain berkreasi dengan alat transportasi untuk menyalurkan buku buku yang akan dibaca oleh masyarakat di pedesaan ia juga mengaku menambah relawan yang bersedia meluangkan waktu dan memberikan tenaganya untuk menjadi pustakawan keliling. Selain menyediakan fasilitas dirinya juga berusaha untuk membekali relawan dengan ilmu perpustakaan bahkan untuk upaya tersebut dirinya akan  mengadakan seminar literasi bagi para relawan. Seminar yang akan dilakukan Kamis (29/9/2016) akan bertajuk seminar literasi peningkatan kualitas pustaka bergerak armada pustaka roda andalas Lampung Selatan yang akan diikuti oleh para relawan pustaka bergerak.


Ide menciptakan armada pustaka roda Andalas awalnya menurut Sugeng hanya dimulai dengan sebuah motor butut yang dimodifikasinya menjadi sebuah kendaraan yang bisa digunakan untuk membawa buku buku bacaan. Kurangnya bahan bacaan bagi anak anak di pedesaan menjadi salah satu kekhawatiran yang dirasakan oleh Sugeng Haryono.

Pria yang tinggal di Desa Pematangpasir Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan ini. awalnya prihatin dengan kurangnya bahan bacaan bahkan tidak adanya perpustakaan bagi anak anak yang masih dalam pertumbuhan tersebut. Ia akhirnya berinisiatif untuk membuat sebuah perpustakaan. Namun, keinginan ini harus dipendamnya dalam-dalam karena terkendala lahan dan juga buku bacaan.

Idenya semakin terbuka saat pertama kali melihat seorang penjual yang membawa barang-barangnya dengan tas, ide pun menghinggapi kepalanya. Sugeng berencana untuk membuat sebuah motor pustaka. Motor ini seperti perpustakaan keliling dengan tas berisi buku yang diletakkan di belakang.

Keinginan tersebut lalu di wujudkannya dengan sedikit demi sedikit mengumpulkan modal dari uang menambal ban. Pria yang berprofesi sebagai penambal ban ini menyisihkan uang hasil kerjanya untuk membeli sebuah motor. Tak lama sepeda motor GL Max tahun 1986 pun terbeli dengan harga Rp 500 ribu. Sepeda tua yang sudah kropos dan mesinnya mati tersebut dibenahi oleh Sugeng dengan menggunakan mesin yang sudah tak terpakai.

Ketika membeli sepeda motor ia juga membeli buku bekas yang masih layak sebanyak 60 buku. Untuk menambah koleksinya, Sugeng mendatangi 200 rumah di sekitarnya dan mendapatkan tambahan 42 buku. Dengan koleksinya tersebut setiap sore Sugeng bekeliling 3 desa yang ada di Kabupaten Lampung Selatan dengan Motor Pustaka.


Sambutan baik diperlihatkan oleh anak-anak. Ternyata anak-anak dari 3 desa tersebut memiliki minat yang tinggi terhadap membaca. Usaha yang dilakukan Sugeng tidak lepas dari kendala seperti motornya yang mogok, buku bacaan yang tidak variatif, dan jumlahnya yang sedikit.

Kendala-kendala tersebut tidak menyurutkan niat Sugeng untuk menyebarkan hobi membaca. Ia yang telah menerima buku donasi dari donatur membuat sebuah perpustakaan di lahan yang disumbangkan oleh warga. Rencananya lahan tersebut akan ia jadikan pusat minat baca dan kursus komputer gratis.

Ia juga mengaku masih membuka kesempatan bagi para donatur yang ingin mendonasikan buku-buku dengan cara datang langsung ke bengkel sepeda motor dan tambal ban yang ada di Pematang Pasir atau kirim ke Desa Lebunglana, Ketapang, Lampung Selatan, RT/RW 001/002.

Kerja keras pemuda yang berprofesi utama sebagai penambal ban tersebut pun berbuah manis dengan diganjarnya lelaki tersebut oleh Perpustakaan Nasional Indonesia dengan sebuah apresiasi berupa penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka. Ia yang menerima penghargaan pada bulan Agustus lalu tersebut menerima apresiasi dari Perpustakaan Nasional Indonesia dalam kategori tokoh masyarakat yang peduli terhadap pengembangan perpustakaan dan kegemaran membaca.

Selain menambah armada pustaka bergerak roda Andalas dan terbaru menciptakan ontel pustaka ia juga berencana membuat pojok baca dengan memanfaatkan drum bekas menjadi rak buku. Konsep pemakaian drum bekas tersebut diharapkan akan semakin menambah minat baca anak anak usia sekolah di pedesaan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: