KAMIS, 15 SEPTEMBER 2016

PONTIANAK --- Saprahan salah satu tradisi makan bersama di lantai bersama keluarga. Tradisi makan saprahan bagi orang melayu di Kalimantan Barat ini masih kental. Untuk terus melestarikan, diadakan Festival Saprahan di Kota Pontianak.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid, sebelum digelarnya festival saprahan, dirinya sudah memberikan pembekalan kepada guru dan pelajar SMA/SMK di wilayah ini. Itu bertujuan supaya tahu soal teknis atau tata cara saprahan.

“Walaupun pertama kalinya digelar di tingkat pelajar tetapi antusias mereka lumayan bagus. Pesertanya 15 kelompok atau tim,” kata Hilfira Hamid, pada sejumlah media di Kota Pontianak, Kamis (15/9/2016).

Hilfira Hamid menyayangkan, semakin banyaknya makanan fast food yang berasal dari luar negeri. Tentunya hal itu juga berpengaruh cepat pada anak-anak muda saat ini.

“Perlu disikapi dengan mengenalkan makanan-makanan tradisional beserta budaya Melayu termasuk cara menyajikan makanannya. Melalui festival ini para pelajar diharapkan memahami budaya saprahan. Jangan sampai makanan-makanan tradisional kita tergerus oleh makanan-makanan asing yang datang dari luar,” ucap Hilfira Hamid.

Hilfira Hamid menjelaskan, ada sejumlah untuk berbagai kriteria penilaian. Diantaranya adalah menu makanan, dan bagaimana caranya penyajian yang mencakup kebersamaan, kerapian, benar atau tidaknya menata sajian itu.

“Ada tata caranya supaya harus tetap sopan dan tidak mengganggu tamu yang duduk bersaprah,” ujar Hilfira Hamid.

Hilfira Hamid meyakikini, jika budaya saprahan ini bukan tidak mungkin bisa menjadi daya tarik wisata dan memikat wisatawan luar negeri. 

“Para wisatawan yang tertarik untuk makan secara saprahan suatu waktu bisa ikut serta. Wisatawan yang ingin makan saprahan, mereka bisa datang ke Pontianak,” ucap Hilfira Hamid, dengan penuh optimis.

Sementara itu menurut Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Pontianak Lismaryani Sutarmidji, festival saprahan sangat bagus supaya para pelajar mengetahui tata cara penyajian saprahan dan budaya Melayu Pontianak sebagai upaya pelestarian budaya sehingga tidak tenggelam ditelan zaman. 

“Juga akan menggelar saprahan khususnya tingkat ibu-ibu PKK se-Kota Pontianak. Pesertanya berasal dari kader-kader PKK dari 29 kelurahan. Kita akan menggelar Festival Saprahan di Gedung Pontianak Convention Centre (PCC) pada tanggal 11 Oktober mendatang,” kata Lismaryani Sutarmidji.

Untuk diketahui, saprahan dalam adat istiadat melayu berasal dari kata “saprah”. Artinya adalah berhampa. Saparahan merupakan budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.


Dalam saprahan ini semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Untuk peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Sedangkan menu hidangan diantaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas/terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah. 
[Aceng Mukaram]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: