RABU, 7 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Penggunaan pupuk kompos berbahan kotoran gajah mulai dikembangkan di lokasi persemaian permanen Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Sekampung  (BPDAS-WSS) yang berada di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. 


Manajer persemaian permanen, Slamet SP menuturkan, penggunaan pupuk kompos dari kotoran gajah dilakukan untuk meningkatkan jumlah bibit yang disemai, sebab permintaan akan bibit mulai meningkat selama semester pertama tahun 2016. Sebelumnya, persemaian permanen dalam pembuatan bibit berbagai jenis tanaman kayu menggunakan kotoran kambing dan sapi yang berasal dari masyarakat namun setelah kebutuhan semakin banyak kotoran gajah mulai digunakan.

“Kami sudah menerapkan penggunaan kotoran gajah untuk media pembibitan sudah kami gunakan setahun ini dengan hasil bibit kayu dan tanaman buah untuk kebutuhan rakyat,”ungkap Slamet manager Persemaian permanen saat ditemui Cendana News,Rabu (6/9/2016)

Slamet menjelaskan, bahan baku kompos dari kotoran gajah diambil dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang merupakan tempat konservasi gajah yang ada di Kabupaten Lampung Timur. Kotoran gajah tersebut diambil udah dalam bentuk karung karung yang berisi masing masing 40 kilogram selanjutnya dicampur dengan coco peat (limbah sabut kelapa) dan sekam padi yang dibakar dan dimanfaatkan untuk pembuatan media tanam. Sebelum diaplikasikan kotoran gajah dan bahan lain difermentasikan dan disimpan dalam jangka waktu tertentu.


Proses pembuatan kompos dari kotoran gajah tersebut menurut Slamet bermula dari pemberian bantuan alat pencacah daun untuk proses pembuatan kompos di TNWK yang memanfaatkan kotoran gajah sebagai pupuk dan digunakan sebagai cara meningkatkan hasil pertanian. Alat gilingan bantuan dari BPDAS berupa mesin pencacah tersebut akhirnya digunakan sebagai mesin pencacah kotoran gajah yang dimanfaatkan untuk pembuatan media tanam.

Pembuatan media semai cetak (MSC) yang dilakukan oleh persemaian permanen tersebut menurut Slamet sudah mampu menghasilkan sebanyak 5 juta bibit untuk berbagai jenis tanaman sementara itu penggunaan media lain sudah mampu menghasilkan jutaan bibit. 

“Meski menggunakan pupuk kompos dari kotoran gajah kita juga tetap menggunakan pupuk lain yang juga berasal dari kotoran ternak dan sapi”terang Slamet.

Disebutkan juga, persemaian permanen memiliki luas 3 hektar dengan beberapa bagian, termasuk gedung, perkebunan dan lokasi pembibitan tersebut sekaligus lokasi edukasi bagi pelajar dan mahasiswa.


Sementara itu Ngatman yang juga menjadi pengawas di persemaian permanen Desa Karangsari mengungkapkan saat ini pembibitan permanen mampu menghasilkan sebanyak 2.400.000 batang dengan perincian 1.769.750 batang tanaman kayu dan 630.250   juta lebih bibit tanaman buah.

Permintaan bibit dalam waktu setengah tahun terakhir banyak didominasi oleh permintaan bibit sengon yang digunakan untuk tanaman investasi dengan permintaan mencapai 800.000 batang.

Permintaan tersebut menurut Ngatman rata rata berasal dari Kabupaten Pesisir Barat diantaranya Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesawaran wilayah Kecamatan Padang Cermin, wilayah Kabupaten Way Kanan Blambangan Umbu dan wilayah Kecamatan Lampung Timur.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: