SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Memasuki masa panen pada bulan Agustus hingga September 2016 harga gabah kering mengalami penurunan. Selama bulan Agustus bahkan Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung melakukan survei harga produsen gabah dengan mencatat sebanyak 43 observasi. Observasi didominasi oleh kelompok gabah kualitas gabah kering panen (GKP) dan tidak dijumpai kelompok gabah kualitas kering giling (GKG). 


Salah satu indikator penurunan harga gabah tersebut menurut kepala BPS Lampung,Yeane Irmaningrum, dalam keterangan tertulisnya harga gabah kering panen di tingkat petani maupun di lokasi penggilingan padi di Lampung pada Agustus 2016 turun disebabkan masuknya masa panen raya.

Ia mengungkapkan harga gabah tertinggi di tingkat petani saat ini hanya mencapai Rp4.600 perkilogram pada gabah kualitas GKP dengan varietas Ciherang di Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah. Harga gabah terendah mencapai Rp3.800 perkilogram pada kualitas gabah GKP berupa varietas Mayang yang terdapat di Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur dan harga tersebut berada di atas harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu Rp3.700 perkilogram.

Yeane mengungkapkan penurunan rata-rata harga di tingkat petani merupakan faktor permintaan yang cukup banyak dari para pembeli gabah yang akan menjualnya dalam bentuk beras. Beberapa indikator tersebut bahkan telah dilakukan pendataan di lapangan dengan banyaknya petani yang lebih memilih menjual seusai panen dan sudah dibayar oleh para pembeli di pinggir sawah.

“Secara global harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan turun selama bulan Agustus dan hingga September masih ada panen raya sehingga penurunan rata rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 3,20 persen dan di penggilingan turun sebesar 3,02 persen,” terang Yeane Irmaningrum di Bandar Lampung, Sabtu (3/9/2016)


Ia juga menyebutkan, harga GKP di tingkat petani dari Rp4.279,77 per kg menjadi Rp4.142,86/kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama turun dari Rp4.359,77/kg menjadi Rp4.227,98/kg.

Dari keseluruhan observasi yang dilakukan selama Agustus 2016 pemantauan harga yang terbanyak berasal dari Kabupaten Lampung Timur 22 observasi (51,16%). Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Selatan masing masing masing 9 observasi (20,93 %), dan Kabupaten Pringsewu 3 observasi (6,98 %).


Selain itu BPS juga mencatat rata rata komponen mutu beras yang diperjualbelikan pada bulan Agustus 2016 menunjukkan hasil yang kurang baik dibandingkan bulan sebelumnya dilihat dari rata rata kadar air. Rata-rata kadar air tercatat 13,23 persen pada bulan Juli dan 13,37 persen pada bulan Agustus. Selain itu rata rata kadar broken tercatat 15,78 persen pada Juli dan 14,74 persen pada Agustus.

Kondisi mutu beras juga mempengaruhi harga beras di pasaran diantaranya harga beras di tingkat penggilingan kualitas premium turun 3,18 persen dari Rp9.166 perkilogram menjadi Rp8.875 perkilogram. Rata rata harga beras kualitas asalam turun 0,49 persen fari Rp7.712 perkilogram menjadi Rp7.675 perkilogram. Sementara harga beras kualitas medium naik 0,90 persen dari Rp8.068 perkilogram menjadi Rp8.141 perkilogram.

Pantauan Cendana News sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan mulai melakukan panen padi diantaranya varietas padi Ciherang dan IR 64 yang banyak dibudidayakan di Lampung Selatan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: