SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

MAUMERE --- Misserior Jerman bersama Wahana Tani Mandiri (WTM) berniat melanjutkan kerjasamanya demi memfokuskan diri pada beberapa isu pengembangan pertanian yang mana dapat mengembangkan kapasitas petani dampingan. 


Demikian disampaikan Winfridus Carolus Keupung kepada Cendana News, Sabtu (24/9/2016). Dikatakan Win sapaannya, pendampingan ini juga harus berdampak pada perubahan kualitas hidup petani menjadi lebih baik.

Ditambahkannya, WTM dan Misserior Jerman telah 3 tahun (2014-2016) menjalankan program “Penguatan Kapasitas Masyarakat Tani Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan Usaha Tani Berbasis Konservasi”.

“Jenjang waktu pendampingan yang telah dilakukan sangat pendek dalam upaya mendorong kemandirian petani sehingga akan ditambah 3 tahun lagi agar kemandirian petani bisa tercapai” ujarnya.

Win mengatakan,selama 3 tahun program ini WTM berinteraksi dengan para petani melalui berbagai aktifitas yang dilakukan entah itu advokasi teknis maupun advokasi kebijakan di tingkat pemerintah lokal (pemerintah desa).

Kedua, sambungnya,dalam program ini WTM mendorong konsep People Led Development (PLD), pembangunan dipimpin oleh rakyat yang mana melalui para kader tani yang diseleksi dari setiap desa bersama fasilitator lapangan melakukan pendampingan kepada kelompok tani.

Juga point ketiga tambah Win, beberapa desa di wilayah program telah menjadikan petani sebagai salah satu subjek dimana ada Anggaran Pendapatan Belanja Desa yang dialokasikan kepada petani. 

Keempat, semangat perbaikan ekologi bukan hanya datang dari pola pertanian tetapi ada sebuah kesadaran baru dari warga dampingan untuk melakukan penghijauan di beberapa sumber mata air. Bahwa ada begitu banyak hal positif dan negatif yang ditemukan di sana semestinya menjadi pembelajaran agar gagasan organic farming dari waktu ke waktu menjadi pilihan petani. 

“WTM punya konsep yang selalu diperkenalkan kepada petani adalah sistem pertanian terpadu. Konsep ini awalnya ditantang banyak pihak terutama oleh para agen korporasi tetapi WTM bersama petani dampingan perlahan-lahan melakukan kampanye dan aktifitas yang mendukung pengejawantahan pertanian organik” terangnya.

Sedangkan Inge Lempp dari Misserior yang memfasilitasi kegiatan itu memperkenalkan beberapa konsep baru terutama dalam manajemen pengelolaan kelembagaan dan keuangan. 

Menurutnya, WTM diharapkan dalam menjalankan program tiga tahun mendatang itu lebih transparan dan sehat. Setelah itu, para staf WTM, kader tani dan Inge dari Miserior bersama-sama mendrafting proposal tiga tahun mendatang (2017-2020). 


“Pengelolaan keuangan sebaiknya menggunakan sistem quick books untuk mengontrol sistem keuangan,baik program dan kelembagaan” tandasnya.

Lebih dari itu Inge juga memperkenalkan agar bagaimana WTM bisa melakukan pengontrolan keuangan dengan waktu pelaksanaan agar terjadi perimbangan dalam proses pen-draftingan tentang kegiatan apa saja yang akan dilakukan.

“Semuanya itu untuk mendorong dan mendukung upaya perubahan kualitas hidup masyarakat tani dengan pengelolaan pertanian organik” ungkapnya.

 Ditambahkan Hery Naif Kordinatro Program WTM, dari pertemuan itu menghasilkan sebuah drafting proposal WTM kerja sama dengan Misserior. Karena itu pertemuan pembahasan program ini tanggal 20-22 Sepetember 2016 lalu sangat penting.

Pertemuan di akntor WTM ini,dihadiri seluruh staf WTM dan 3 kader tani utusan dari 3 kecamatan yakni: Beatriks Rika (Mego),Fransiskus Toki(Magepanda) dan Siprianus Rehing (Tanawawo). Selain itu hadir juga Inge Lempp dari Misserior Jerman. 
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: