MINGGU, 11 SEPTEMBER  2016

ENDE --- Danau Kelimutu menjadi salah satu destinasi wisata di nusantara yang ramai dikunjungi wisatawan. Terletak di Desa Pemo Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende, Danau Kelimutu berjarak sekitar 8 kilometer dari pertigaan Moni.

Danau Tiwu Ata Mbupu di puncak Kelimutu yang dulunya berwarna biru kini berubah menjadi hijau.
Data yang diperoleh di Taman Nasional Kelimutu (TNK) menyebutkan, Danau Kelimutu ditemukan pertama kali oleh warga negara Belanda bernama Van Such Telen warga negara tahun 1915. 

Setelah Y. Bouman memperkenalkannya lewat tulisan tahun 1929 para wisatawan pun mulai membanjiri destinasi wisata ini. Terdapat 3 kawah di puncak Gunung Kelimutu yang berbentuk cembung diapit bebatuan cadas.

Gunung Kelimutu tercatat pernah meletus dahsyat tahun 1830 mengeluarkan lava hitam dan letusan tahun 1869-1870 yang disertai aliran lahar. Letusan terakhir terjadi tahun 1968. Berdasarkan jenis erupsinya, Gunung Kelimutu dapat mengeluarkan lava, gas, serta debu vulkanik. 

Terus  Berubah Warna

Awalnya Danau Tiwu Ata Mbupu berwarna biru sementara Tiwu Ata Polo berwarna merah darah serta Tiwu Nuamuri Ko’ofai warnanya hijau. Saat dikunjungi Cendana News, Minggu (11/9/2016) warna Danau Kelimutu sudah mengalami perubahan.

Tiwu Ata Mbupu kini berubah menjadi hijau tua, Tiwu Ata Polo berwana hijau lumut sedikit kehitaman serta Tiwu Nuamuri Ko’ofai warnanya hijau.

Data di Taman Nasional Kelimutu (TNK) menyebutkan sejak tahun 1915 sampai 2011 tercatat danau Tiwu Ata Polo dengan luas 4 hektar dan kedalaman 64 meter sudah 44 kali mengalami perubahan warna.

Sementara itu Tiwu Nuamuri Ko’ofai Tiwu Nuamuri Ko’ofai memiliki luas 5,5 hektar dengan kedalaman 127 meter sekitar 25 kali perubahan warna serta Tiwu Ata Mbupu dengan luas 4,5 hektar dan kedalaman 67 meter mengalami 16 kali perubahan warna.

Dr. Gregory Pasternack dari University of California dalam penelitiannya tahun 1992 yang dipublikasikan di TNK menyebutkan, ketiga Danau Kelimutu memiliki sumber gas vulkanik yang sama sebagai akibat dari transportasi gas yang subakuatis sehingga menghasilkan ekspresi kimia yang berbeda di setiap danau.

Danau Tiwu Nuamuri Ko’ofai yang berwarna hijau
Oksigen adalah penentu paling penting dari perubahan warna danau. Ketika air danau kekurangan oksigen terlihat hijau, sementara ketika memiliki banyak oksigen akan terlihat merah tua sama hitam
Selain itu gas alami lain dan juga mineral memainkan peran subordinasi juga seperti sulfur. Dengan perubahan aktifitas vulkanik oksigen dan gas lainnya aliran berbeda dan warna air bisa berubah.

Tiwu Ata Polo adalah perantara kawah asam garam (saline) yang sering mengalami perubahan warna yang mungkin akibat dari perubahan oksidasi air danau. Tiwu Nuamuri Ko’ofai adalah kawah air dingin asam garam (brine) mengandung senyawa sulfur yang eksotik. Mungkin sedimennya adalah host yang kaya tembaga. Sedangkan Tiwu Ata Mbupu adalah kawah asam sulfat.

Dalam buku Koleksi Tanaman herbal yang diterbitkan TNk tahun 2012 (hal XI ) dikatakan perbedaan ketiga warna danau menurut ahil geologi terjadi karena adanya beberapa senyawa kimia bereaksi. Kawah Tiwu Nuamuri Ko’ofai berwarna hijau muda karena ion Fe2+ yang bereaksi dengan sulfat (SO4 2-) membentuk endapan ferosulfat (FeSO4).

Kawah Tiwu Ata Polo berwarna cokelat kemerahan karena dari Fe3+ membentuk senyawa feri hidroksida (fe(OH)3) berupa koloid di dalam air kawahbukan di permukaan air kawah dan residu di dasar kawah.

Kawah Tiu Ata Mbupu berwarna hijau tua karena diduga merupakan refleksi warna tumbuh-tumbuhan cemara gunung yang banyak ditemukan di sekitar bibir kawah.Disaat tertentu warna akan berubah menjadi cokelat kemerahan sebagaimana warna daun kering cemara gunung yang mengapung di permukaan kawah.

Tempat Tinggal Arwah

Dikisahkan Alexander Ware warga Desa Waturaka saat ditemui Cendana News, Minggu (11/9/2016) masyarakat suku Lio percaya bahwa arwah orang-orang yang meninggal akan bersemayam di kawah Danau Kelimutu.

“Tiwu Ata Polo dipercayai sebagai tempat bersemayam arwah orang jahat, mereka yang memiliki ilmu sihir,” ujarnya.

Danau Tiwu Ata Polo yang berwarna sedikit kehitaman bersebelahan dengan danau Tiwu Nuamuri Ko’ofai
Sedangkan Tiwu Nuamuri Ko’o Fai sebutnya, merupakan tempat berkumpulnya arwah muda-mudi. Danau atau Tiwu Ata Mbupu yang berada di puncak merupakan tempat berkumpulnya para arwah orang tua atau orang-orang bijaksana.

“Dahulu di puncak Kelimutu merupakan perkampungan atau Bhua Ria yakni hutan lebat penuh awan merupakan tempat tinggal Konde Ratu dengan rakyat-rakyatnya,” terangnya.

Di Bhua Ria lanjutnya hidup dua orang yang menonjol yaitu Ata Polo, seorang penyihir yang dinilai kejam karena suka memangsa manusia, dan Ata Mbupu, orang baik dan bijaksana dan satu-satunya yang mampu menangkal sihir milik Ata Polo.

Suatu saat, sepasang Ana Kalo (yatim piatu) datang dan meminta tolong kepada Ata Mbupu untuk menjaga keduanya karena orang tuanya sudah meninggal semua. Ata Mbupu setuju dengan syarat mereka tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Mbupu, takut mereka akan menjadi mangsa Ata Polo.

Ketika Ata Polo datang menjenguk dan menemukan kedua Ana Kalo tersebut dan ingin memangsanya, Ata Mbupu memohon pada Ata Polo paling tidak menunggu mereka dewasa sebelum memangsanya. 

“Saat dewasa dan menjadi Koo Fai dan Nuwa Muri, Ata Polo pun berusaha untuk memangsa para Ana Kalo. Ata Mbupu pun tak bisa menghalau Ata Polo dan memutuskan untuk kabur ke perut bumi,” jelasnya.

Ata Polo yang juga sedang berlari mengejar Ana Kalo juga ikut ditelan bumi, sementara kedua Ana Kalo pun bernasib sama sebab saat itu terjadi gempa dahsyat.Tak lama kemudian, dari tempat Ata Mbupu terkubur  menyembul air berwarna biru yang diberi nama Tiwu Ata Mupu. 

“Di tempat tewasnya Ata Polo juga keluar air, tapi berwarna merah darah dan diberi nama Tiwu Ata Polo sedangkan di tempat terkuburnya kedua Ana kalo muncul air berwarna hijau dan dinamai Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai,” tuturnya.

Masyarakat adat Lio khususnya yang bermukim di sekitar kawasan TNK kata Nando Watu, teman yang mengantar kerap membuat ritual adat memberi makan arwah leluhur penjaga Danau Kelimutu.

Upacara adat yang dinamakan Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata kata Nando sapaannya selalu dilaksanakan setiap tahun tepatnya tanggal 14 Agustus.Ritual Pati Ka adalah pemberian sesajen kepada leluhur di Danau Kelimutu. 

“Masyarakat adat Lio mempercayai Danau Kelimutu adalah tempat peristirahatan terakhir jiwa-jiwa yang telah meninggal,” terangnya.

Di tahun 2016 ini sambungnya, Pati Ka jatuh pada hari Minggu sehingga sebelum upacara adat berlangsung, terlebih dahulu dilaksanakan perayaan ekaristi (Misa) yang diikuti ribuan umat Katolik dari desa sekitar dan para wisatawan.

“Ritual ini selalu dinantikan wisatawan sebab pada saat tersebut seluruh Mosalaki atau ketua komunitas adat berkumpul dan memberi makan leluhur mereka,’ pungkasnya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: