SABTU, 10 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Ratusan warga Dusun Paten, Sumberagung, Jetis, Bantul, menggelar kirab budaya merti dusun sebagai ungkapan rasa syukur atas berkah Tuhan berupa melimpahnya hasil pertanian dan keselamatan. Upacara adat yang telah berlangsung secara turun-temurun itu juga dilangsungkan untuk menyongsong datangnya Hari Raya Kurban. Karenanya, merti Dusun Paten selalu diselenggarakan dua hari sebelum hari raya kurban.

Berebut gunungan hasil bumi
Dengan busana adat Nusantara, ratusan warga Dusun Paten berarak mengiringi dikirabnya gunungan hasil bumi dan nasi tumpeng. Warga baik tua, muda dan anak-anak begitu tampak riang dan khidmat berjalan mengelilingi dusun, untuk kemudian menuju sebuah halaman luas tempat digelarnya acara puncak, kembul tumpeng. Sebelum dilakukan kembul tumpeng, sebuah prosesi doa dilakukan yang dipimpin oleh tokoh setempat.

Kembul Tumpeng yang berarti makan bersama, merupakan acara puncak dari Kirab Budaya Merti Dusun Paten. Namun, sebelum dilangsungkan kembul tumpeng itu, gunungan hasil bumi yang terdiri dari beragam hasil pertanian setempat seperti padi, sayur mayur dan buah-buahan diperebutkan warga. Sesudah prosesi perebutan gunungan hasil bumi tersebut, warga kemudian saling mencari tempat teduh dan membuka nasi tumpeng yang dibawa oleh para ibu berpakaian petani.

kembul tumpeng
Enam tumpeng besar yang dibuat oleh para ibu dusun setempat merupakan hidangan khas dalam tradisi tersebut, sekaligus simbol kerukunan dan keharmonisan di antara warga. Pasalnya, setiap warga baik warga biasa, pemangku adat dan pejabat dusun sama-sama makan dengan alas daun pisang.

Salah satu panitia penyelenggara, Widodo, di sela-sela pelaksanaan Merti Dusun Kembul Tumpeng mengatakan, merti dusun kembul tumpeng merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan nenek moyang dusun setempat. Selain sebagai ucap syukur atas berkah yang melimpah, merti dusun kembul tumpeng ini, menurutnya, juga digelar untuk menyongsong datangnya hari raya kurban.

Kirab Merti Dusun Paten
“Kami berharap dengan tetap melestarikan adat budaya setempat, generasi penerus tidak lupa dengan kebudayaannya sendiri. Melalui kegiatan ini, harapannya juga akan lebih meningkatkan kerukunan dan semangat gotong-royong di antara warga, sehingga tumbuh rasa persatuan dan kesatuan yang lebih kuat” pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: