JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Keberadaan angkutan umum berupa bus sekolah, angkutan pedesaan (Angdes), Angkutan perkotaan (Angkot) serta infrastruktur pendukung untuk kepentingan pelajar melakukan aktifitas berangkat dan pulang sekolah masih cukup minim di Kabupaten Lampung Selatan. 


Faktor tersebut menurut salah satu akademisi di salah satu perguruan tinggi di Lampung Selatan, Rini (30) menjadi salah satu faktor penyebab banyak pelajar yang berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor meski belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) serta masih minimnya kesadaran berlalulintas. Ia mengakui perlu koordinasi antar banyak pihak terkait kebijakan untuk mengurangi atau menekan penggunaan kendaraan bermotor roda dua di kalangan pelajar dengan tingginya angka kecelakaan akibat penggunaan kendaraan roda dua oleh pelajar.

Koordinasi lintas sektoral tersebut menurut Rini diantaranya melibatkan pemangku kepentingan dibidang transportasi publik diantaranya pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan, kepolisian serta pembuat perturan daerah dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) serta pihak terkait yakni Dinas Pendidikan. Solusi bagi para pelajar yang hingga kini masih menggunakan kendaraan roda dua untuk cepat sampai di sekolah menjadi pilihan akibat masih kurangnya trayek kendaraan umum yang mengantar dan menjemput siswa ke sekolah. Rini bahkan mencatat ada beberapa cara yang selama ini ditempuh oleh pelajar untuk bisa sampai ke sekolah dan pulang dari sekolah.

"Selama ini pelajar dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas harus tiba ke sekolah tepat waktu dan mereka berangkat ke sekolah dengan beragam cara dan moda transportasi diantaranuya kendaraan umum, kendaraan roda dua atau berjalan kaki bagi yang rumahnya dekat dengan sekolah" ungkap Rini saat dimintai keterangan Cendana News, terkait maraknya penggunaan kendaraan bermotor oleh pelajar, Jumat (16/9/2016).


Ia tak bisa memungkiri faktor kedisiplinan setiap sekolah menjadi penyebab siswa harus sampai ke sekolah tepat waktu sehingga penggunaan kendaraan bermotor menjadi jalan keluar meski melanggar aturan lain berupa penggunaan kendaraan bermotor yang belum memenuhi batasan umur. Beberapa orangtua yang sadar memiliki cara tersendiri dalam mendidik anak diantaranya melakukan proses antar jemput dengan kendaraan bermotor atau hanya mengantar dan saat pulang anak naik kendaraan umum atau ojek. Sementara cara lain ada pelajar yang berangkat ke sekolah dengan cara naik angkutan kota dan angkutan desa yang memiliki trayek ke sekolah. Sementara siswa lain sebagian menggunakan "abodemen" atau sistem berlangganan kendaraan angkutan umum yang khusus mengantar jemput siswa dengan sistem bayaran bulanan. Sebagian menggunakan kendaraan antar jemput ojek dengan sistem bayaran bulanan dan terakhir dominan menggunakan kendaraan sendiri berupa kendaraan roda dua.

Cara terakhir tersebut ungkap Rini merupakan sebuah cara yang saat ini sudah umum dilakukan di berbagai daerah meski setiap daerah memiliki kebijakan sendiri terkait penggunaan kendaraan roda dua di kalangan pelajar. Beberapa daerah secara tegas melakukan pembatasan dan membuat aturan larangan penggunaan kendaraan roda dua bagi pelajar dengan solusi alternatif menyediakan bus sekolah dan kendaraan alternatif lain. Meski demikian Rini tak menampik kebijakan tersebut harus dibahas oleh berbagai pihak dan membutuhkan sikap kesadaran dari berbagai pihak terutama berkaitan dengan aturan perundang undangan berlalulintas.

"Di Lampung secara tegas Kapolda Lampung telah mengeluarkan kebijakan larangan membawa sepeda motor ke sekolah namun fakta di lapangan saat ini tentunya bisa kita lihat masih banyak yang menggunakan sepeda motor,"terang Rini.

Ia berharap akademisi, pemangku kebijakan, pihak kepolisian serta instansi lain terkait bisa melakukan solusi bijaksana terkait kebutuhan para pelajar. Sebab para pelajar saat ini selain terdorong oleh keinginan untuk cepat sampai di sekolah dan pulang cepat, faktor dukungan dari orangtua yang menyediakan kendaraan bermotor masih menjadi pemicu penggunaan kendaraan bermotor di kalangan pelajar. Beberapa orangtua bahkan dengan sengaja membelikan kendaraan roda dua kepada anaknya meski belum cukup umur, belum memiliki SIM agar bisa sampai ke sekolah dan melakukan aktifitas lain menggunakan kendaraan roda dua.


Upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan remaja dan pelajar secara khusus dilakukan oleh jajaran Polda Lampung dengan melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah melalui satuan lalu lintas. Polres Lampung Selatan melalui satuan lalu lintas bahkan terus melakukan road show ke sejumlah sekolah melakukan sosialisasi kebijakan larangan membawa sepeda motor ke sekolah. Kasatlantas Polres Lampung Selatan, AKP Mubiarto Banu Kristanto dalam sosialisasi di sejumlah sekolah menekankan aspek hukum dan aspek keselamatan terkait penggunaan kendaraan bermotor. Secara hukum pelajar yang belum memiliki SIM belum diperkenankan membawa motor dan faktor tingginya angka kecelakaan yang terjadi di kalangan remaja.

"Dilarang membawa sepeda motor ke sekolah apabila pelajar belum memiliki SIM dan kebijakan larangan ini dasarnya dari data angka kecelakaan lalu lintas yang paling banyak terjadi korbannya remaja atau pelajar dan semua korban tersebut belum memiliki SIM" terang AKP Mubiarto.

Penyebab kecelakaan menurut Mubiarto diantaranya pelajar naik motor bonceng tiga atau melebihi kapasitas muatan, tidak menggunakan helm standar serta banyak kendaraan roda dua yang dimodifikasi. Upaya yang dilakukan Satlantas Polres Lampung Selatan diantaranya dengan melibatkan peran sekolah dan orangtua dengan cara mengingatkan dan bila perlu membuat aturan khusus terkait larangan penggunaan sepeda motor ke sekolah.

Ia juga tak memungkiri alasan pelajar menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke sekolah karena minimnya sarana tranportasi untuk kepentingan pelajar. Ia juga mengungkapkan akan mencari solusi terbaik terrkait persoalan tersebut diantaranya dengan pemerintah daerah sebab persoalan tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

Pantauan Cendana News, meski berbagai upaya dilakukan diantaranya sosilaisasi serta himbauan untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor ke sekolah, sejumlah siswa dominan masih menggunakan motor. Beberapa siswa diantaranya masih menggunakan angkutan pedesaan meski dengan kondisi angkutan pedesaan yang sudah memprihatinkan dan sebagian siswa diantar orangtua dan ojek. Kendaraan penjemput sejenis angkutan pedesaan dengan sistem langganan juga mulai digunakan meski masih digunakan oleh siswa tertentu yang tinggal jauh dari lokasi sekolah.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: