KAMIS, 22 SEPTEMBER 2016

KUBU RAYA --- Ratusan polybag dengan tanaman cabai tersusun rapi di sebuah pekarangan rumah. Hal tersebut dilakukan warga di Desa Sungai Enau, Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.


Sudah tiga bulan ini, warga  desa mengembangkan tanaman cabai rawit. Mereka memanfaatkan lahan pekarangan rumah sebagai lahan berkebun dengan inovasi bertani baru dengan menggunakan bekas sisa sampah untuk pupuk.

Kepala Urusan Pemeritahan Desa Sungai Enau, Maryadi menyebutkan, warga di desanya mengembangkan tanaman cabai ini berkat informasi yang disampaikan warga lainnya pada saat musyawarah desa. Pada saat itulah, warga beramai-ramai mengembangkan inovasi tersebut.

“Awalnya diskusi biasa bersama warga terkait cara menanam cabai rawit dengan polybag. Disini banyak polybag bekas, jadi itulah yang dimanfaatkan,” tuturnya, saat berada di Pontianak, Kamis (22/9/2016).

Dikatakan, semangat warga di desanya patut diacungi jempul. Sebab, bermula dengan berkumpulnya warga menjadi inspirasi yang sangat berarti.

“Mereka langsung mempraktekan. Dan sekarang hasilnya luar biasa. Tanpa diduga, mereka dapat keuntungan dari penjualan cabai ini satu orang Rp.7juta,” ucapnya.

Uniknya, ia melanjutkan warga tidak menggunakan pupuk organik. Mereka menggunakan sisa-sisa bekas sampah rumah tangga. 

“Bekas sisa sayuran, popok bayi, rumput ilalang dipendam dijadikan kompos,” jelasnya.

Ia menuturkan, satu warga memiliki ratusan polybag yang ditanami cabai rawit. Butuh waktu tiga bulan, warga bisa memanen cabai. Selanjutnya dijual ke sebuah pasar di Kota Pontianak.

“Warga membawa hasil panen cabai ke Pontianak dengan menggunakan motor jaraknya 45 kilometer. Sekali jual, untungnya lumayan untuk kebutuhan warga. Sisanya mereka tabung untuk anak-anaknya,” ucapnya.


Hingga kini, ia menuturkan masyarakat desa bertahan dengan alam yang ada di desa. Mereka memanfaatkan lahan dengan sebaik-baiknya. Caranya adalah memanfaatkan lahan untuk peruntukan pertanian. Walaupun di samping pekarangan.

“Warga desa memiliki tanah hektaran. Tapi, mereka tak mau terlena, tetap memanfaatkan lahan di samping rumahnya. Dan itu terbukti,” ujarnya. 
[Aceng Mukaram]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: