SELASA, 13 SEPTEMBER 2016
  
SUMENEP --- Momentum lebaran Idhul Adha rupanya membawa berkah tersendiri bagi pemilik jasa selep daging di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Dimana saat ini mereka kebanjiran konsumen yang menggunakan jasanya untuk menghaluskan daging. Akibatnya sang pemilik penggilingan daging tersebut sampai kewalahan  melayaninya, sehingga para konsumen terpaksa harus mengantre selama berjam-jam.

Suasana warga sedang mengantre di tempat jasa selep daging
Pada saat lebaran kurban biasanya daging sapi maupun kambing banyak beredar di masyarakat, sehingga mereka memanfaatkan banyaknya daging tersebut untuk digunkan sebagai bakso. Maka warga berbondong-bondong membawa daging itu ke tempat jasa penggilangan daging, supaya daging itu bisa diolah menjadi pentol bakso.

“Sejak pagi di tempat ini sangat ramai warga yang ingin menggiling daging, itupun kebanyakan daging dibawa kesini merupakan daging kurban. Karena saking banyaknya konsumen yang datang harus rela mengantre sampai berjam-jam,” kata Ana Safitri, salah seorang konsumen selip daging di Kabupaten Sumenep, Selasa (13/9/2016).


Disebutkan, bahwa biasanya setelah perayaan Idhul Adha jasa penyelipan daging sapi yang ada di daerah ujung timur Pulau Madura ini selalu ramai konsumen. Karena dengan banyaknya daging kurban yang beredar membuat masyarakat lebih kreatif memasaknya, sehinggga daging-daging yang dimilikinya tetap habis dikonsumsi meskipun dalam porsi yang lumayan banyak.

“Jadi kalau hanya di oleh menjadi satu menu saja itu daging yang banyak tidak akan habis, makanya dibuatlah menu lain seperti bakso supaya daging dari kurban itu tetap dikonsumsi sampai habis. Makanya kami rela sampai mengantre lama agar daging ini bisa diolah dengan menu masakan lain yang lebih menggugah selera,” jelasnya.


Rata-rata warga yang datang ke tempat jasa penggilingan daging tersebut memanfaatkan daging kurban yang diperoleh di tempat ia tinggal, sehingga meskipun mereka tinggal di wilayah pedesaaan terpaksa pergi ke kota untuk menggiling daging yang akan diolahnya. Karena penggilingan daging di pedesaan sangat jarang ada, sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang lumayan agar bisa memanfaatkan daging tersebut untuk bisa dijadikan menu masakan lain. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: