KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Beragam cara dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur atas semua limpahan rejeki yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa. Salah satunya seperti yang dilakukan warga di desa Pancot, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, yang menggelar upacara bersih desa dengan memperebutkan ayam.


Tradisi yang dikenal sebagai Mondhosio ini sudah dilakukan secara turun temurun dari generasi ke genarasi. Tradisi mondhosio diawali dengan parade kesenian reog ponorogo, yang keliling kampong. Tradisi bersih dusun yang dipusatkan di pasar Pancot menjadi hiburan sendiri bagi ratusan warga setempat.

Mondhosio sebagai upacara bersih desa selalu identik dengan perebutan ayam. Sementara ayam-ayam  yang diperebutkan itu merupakan sumbangan dari warga setempat yang sebelumnya sempat melakukan nadzar. 


“Dua ayam ini untuk nadzar cucu saya. Dulu cucu saya sakit, dan saya bernadzar jika nanti sembuh nanti mau melepas ayam dipunden,” ucap Hadi Sukamto kepada Cendana News, Kamis sore (29/9/16).

Warga Dusun Pancot ini mengaku sudah dua kali ini melepaskan ayam setiap tradisi mondhiosia dilaksanakan. Ia berharap agar melalui tradisi ini dirinya dan keluarganya diberi kesehatan dan umur panjang. 


“Mudah-mudahan ke depannya bisa sehat terus dan dimudahkan rejekinya,” ungkapnya.

Puncak bersih desa melalui mondhosio di tandai dengan pelepasan ayam-ayam yang sudah terkumpul. Namun itu, para pemuka agama terlebih dahulu menggelar doa bersama dan menyiramkan air gadek ke situs watu gilang yang dipercaya warga sebagai situs peninggalan yang mempunyai filosofi tersendiri. 

“Adanya acara syukuran ini diharapkan warga Desa Pancot selalu diberikan kesejahteraan. Hasil panen yang melimpah dan lain sebagainya,” imbuh Sulardi sebagai Ketua Lingkungan di Desa Pancot.


Puncak tradisi Mondhosia dengan perebutan ayam ini sebelum  oleh panitia ayam-ayam yang sudah terkumpul dilempar ke atas atap pasar pancot. Setelah dilepas baru giliran ratusan warga berebut dengan cara memanjat atap untuk beradu cepat mendapatkan ayam tersebut. 

“Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun silam. Mondhosia diselenggarakan setiap tujuh bulan bersamaan dengan wuku mondhosio sesuai kalender jawa,” tambahnya.

Konon, mondhosio ini sendiri merupakan bentuk rasa syukur warga atas tewasnya Prabu Boko yang merupakan pemangsa anak manusia. Hingga kini warga Desa Pancot tetap melestarikan peninggalan tradisi dari para leluhurnya tersebut. 
(Harun Alrosid) 
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: