SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Jika dicermati, benih pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah mulai ada di Indonesia dengan pimpinan diantaranya tan malaka dan muso sejak tahun 1925. Namun PKI baru berani terang-terangan berhadapan dengan pemerintah Republik Indonesia adalah tahun 1948 dibawah pimpinan muso dengan hasil nyata adalah kegagalan total.


Merasa tidak bisa menembus Pancasila, maka PKI merancang niat busuknya untuk kemudian meledak kembali di Jakarta dengan peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September atau G.30.S/PKI.

Menjadi Peristiwa G.30.S/PKI adalah karena pada malam tanggal 30 September 1965 itulah PKI melakukan penculikan/penjemputan paksa  (hidup atau mati) kepada 6 (enam) Perwira tinggi serta 1 (satu) Perwira Pertama TNI Angkatan Darat. Lalu selepas tengah malam tepatnya tanggal 1 Oktober 1965 itulah para perwira yang berhasil diculik dalam keadaan hidup ( Mayjen TNI R.Soeprapto/Deputi II Menpangad, Mayjen TNI S. Parman. Asisten I Menpangad, Brigjen TNI Sutoyo Siswomihardjo/Inspektur Kehakiman AD, dan Letnan satu Pierre Andreas Tendean/Ajudan Menko/Hankam Kasab) disiksa kemudian dibunuh secara sadis di desa Lubang Buaya, Jakarta Timur karena tidak mau menandatangani sebuah dokumen makar buatan PKI yang mereka namakan " Dewan Jenderal ".

Tanggal 1 Oktober 1965 pagi, aksi mereka berhasil diketahui oleh pemerintah yang kemudian Pangkostrad kala itu Mayjen TNI Soeharto langsung memerintahkan pengejaran sekaligus penumpasan di hari yang sama. Oleh karena itulah tanggal 1 Oktober 1965 hingga saat ini dikenang seluruh rakyat Indonesia sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Rekam sejarah dari Pengkhianatan PKI tersebut terekam jelas di Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya. Museum yang berdiri diatas tanah seluas 14,6 hektar ini diresmikan oleh Presiden kedua RI, HM. Soeharto pada 1 Oktober 1981. Museum ini juga menjadi satu bagian dengan Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) serta dikepalai oleh Letkol Sukarni sebagai Kepala Monumen (Kamon).


Memasuki Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti, pengunjung akan mendapati Serambi Penyiksaan atau rumah berbahan bilik dan papan berukuran 8mx15,5m yang digunakan oleh tentara PKI bernama Pasopati pimpinan Letnan satu Dul Arif bersama Pemuda Rakyat, Gerwani, serta organisasi-organisasi satelit PKI lainnya untuk melakukan penyiksaan hingga pembunuhan diluar batas-batas perikemanusiaan. Sebelum meletus Peristiwa G30S/PKI, rumah ini digunakan sebagai tempat belajar Sekolah Rakyat atau sekarang dikenal dengan SD (sekolah Dasar). Dan di tempat ini pula turut ditawan oleh PKI Agen Polisi II Sukitman yang akhirnya menjadi salah satu saksi hidup sejarah kekejaman PKI untuk kemudian membantu pemerintah menumpas gerombolan tersebut.

Dari Serambi Penyiksaan tersebut, seluruh korban yang sudah meninggal kemudian dimasukkan kedalam Sumur Maut atau sebuah sumur tua sedalam 12 meter, berdiameter/garis tengah 75 meter, dengan posisi kepala dibawah. Setelah memasukkan seluruh korbannya lalu PKI menimbun sumur tersebut dengan batang-batang pisang, sampah secara berselang seling beberapa kali, diakhiri menutup sumur tersebut dengan tanah untuk menghilangkan jejak. Pengangkatan seluruh jenazah korban G30S/PKI dilakukan oleh pasukan KKO TNI AL pada 4 Oktober 1965 untuk kemudian dimakamkan pada 5 Oktober 1965.

Peristiwa G30S/PKI memang sudah direncanakan secara matang oleh PKI, karena sebelum malam penculikan tersebut PKI sudah melakukan pendekatan persuasif terlebih dahulu kepada penduduk desa Lubang Buaya agar mereka mau mengungsi dengan alasan akan diadakan latihan militer besar di desa tersebut. Oleh karena itulah tidak jauh dari Serambi Penyiksaan terdapat sebuah rumah bilik kecil yang digunakan laskar PKI sebagai Dapur Umum untuk keperluan logistik tentara selama aksi dilaksanakan.


Rumah kecil atau Dapur Umum itu adalah rumah milik warga desa Lubang Buaya bernama Ibu Amroh yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang pakaian keliling (cingkau). Karena bujuk rayu dan kebohongan PKI itulah yang akhirnya membuat Ibu Amroh mau mengungsi untuk sementara waktu tanpa tahu bahwa rumahnya digunakan oleh PKI sebagai Dapur Umum. Di Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, rumah Ibu Amroh dibiarkan sebagaimana aslinya lengkap dengan furniture beserta beberapa genteng asli rumah yang diletakkan rapi di ruang belakang rumah.

Karena G30S/PKI adalah sebuah gerakan sangat terencana maka PKI juga menjadikan salah satu rumah penduduk desa Lubang Buaya RW 02 bernama Haji Sueb sebagai Pos Komando. Di tempat inilah tentara Pasopati bentukan PKI pimpinan Dul Arif melakukan persiapan sebelum berangkat melakukan penculikan. Sebagai bukti otentik sejarah, maka rumah Haji Sueb ini turut dibiarkan ada di dalam kompleks Monumen tidak jauh dari Serambi Penyiksaan sekaligus semua furniture asli seperti tiga buah lampu petromaks, mesin jahit, serta almari kaca dirawat rapi di dalam rumah tersebut hingga kini.

Untuk mengenang ketujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam Peristiwa G30S/PKI maka dibangun Monumen Pancasila Sakti dengan Lambang Negara Burung Garuda raksasa yang di depannya ditempatkan tujuh stupa Pahlawan Revolusi. Monumen ini dibangun tidak jauh dari lokasi Sumur Maut dengan ukiran pesan di bawahnya : " Waspada......Dan Mawas Diri Agar Peristiwa Sematjam ini Tidak Terulang Lagi, Djakarta 1 Oktober 1965, Dini Hari ".


Selain itu, didalam Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti juga turut dipamerkan bukti sejarah lainnya berupa kendaraan-kendaraan dari yang digunakan PKI dalam melakukan aksi penculikan, membawa jenazah, sampai kendaraan dinas operasional perwira TNI yang jadi korban keganasan PKI serta kendaraan lapis baja yang dipergunakan mengangkut jenazah 7 (tujuh) Pahlawan Revolusi untuk dimakamkan.

Kendaraan-kendaraan tersebut diantaranya :

Dodge 500 Truck

Kendaraan operasional PN Artha Yasa yang sekarang dikenal dengan Divisi Cetak Uang Logam Perusahaan Umum (Perum) Peruri. Kendaraan angkut buatan USA tahun 1961 bernomor polisi B 2982 L ini digunakan oleh pemberontak G30S/PKI untuk mengangkut jenazah Brigjen TNI DI Pandjaitan dari rumah kediamannya di Jalan Hasanudin No.52, Kebayoran baru ke desa Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Mobil ini awalnya berangkat dari Pool pada 1 Oktober 1965 pukul 04.00 WIB untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari dengan dikemudikan oleh supir bernama Pak Omon. Namun naas di jalan Iskandar Syah daerah BlokM Jakarta selatan, mobil ini dicegat gerombolan PKI berpakaian loreng yang kemudian mobil ini dirampas lalu diarahkan menuju kediaman DI Pandjaitan.


GM Old Mobile 98

Kendaraan dinas Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) merangkap Kepala Staf Komando Tertinggi (KOTI) Letjen TNI Ahmad Yani dengan nomor registrasi AD-01.

Setelah kejadian G30S/PKI, sesuai Surat Keputusan (SK) Kementerian Angkatan Darat tanggal 6 Juni 1966, No.Kep-504/6/1966, dihapus dari kekuatan dan pertanggung jawaban administrasi Angkatan Darat untuk menjadi milik Keluarga Letjen TNI Ahmad Yani. Namun pada bulan Mei 1989, atas inisiatif dari Kepala Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI bersama pihak-pihak terkait lainnya, akhirnya kendaraan bersejarah ini dipamerkan di Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta timur.


Toyota Land Cruiser

Dengan menggunakan kendaraan Jeep Toyota Kanvas Nomor : 04-62957/44-10 yang dikemudikan Prajurit satu Soewondo inilah Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto memimpin penumpasan G30S/PKI yang didalangi eks. Letkol Untung serta pimpinan PKI lainnya mulai dari tanggal 1 Oktober 1965 di Markas Komando Kostrad Jakarta hingga pemantauan ke kawasan desa Lubang Buaya Jakarta timur.


Panser PCMK-2 Saraceen

Kendaraan lapis baja buatan Inggris milik Organik Batalyon Kavaleri 7 Kodam V/Jaya inilah yang membawa jenazah Letjen TNI MT.Haryono dari Markas Besar Angkatan Darat menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965.

Pada tahun 1976 Panser ini dipindahkan ke Batalyon Kavaleri 3 Kodam VIII/Brawijaya untuk mendukung Operasi Militer di Timor Timur. Pada bulan Juli 1985, Panser Saraceen ditarik dari penugasan di Timor Timur, lalu tahun 1987 dipamerkan di halaman Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta.

Tidak lupa sebelum masuk area Monumen Pancasila Sakti juga dibangun sebuah Musholla yang diperuntukkan bagi seluruh karyawan dan pengunjung untuk melaksanakan Sholat lima waktu. Musholla An-Nur diresmikan tanggal 4 Agustus 2005 oleh Kepala Pusat Sejarah TNI, Brigjen TNI M. Fahlevi, SH.MM.


Hingga saat ini, Museum Diorama Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya berikut Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) merupakan rekam sejarah dimana bangsa Indonesia dan Pancasila merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain.

Selain sebagai tempat wisata sejarah dan edukasi bagi masyarakat umum, namun tempat ini kerap dikunjungi pelajar dan mahasiswa untuk kepentingan pembuatan makalah atau karya tulis.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: