SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Sejarah terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan satu bagian utuh dengan sejarah terbentuknya negara Republik Indonesia dengan melewati perjuangan yang melelahkan. Selama 350 tahun menghadapi Belanda, serta masing-masing 3 tahun sampai 3,5 tahun menghadapi Inggris dan Jepang, bahkan bertahun-tahun berikutnya menghadapi beragam pemberontakan dari bangsa sendiri yang merongrong keutuhan negara ini.


Untuk merepresentasikan sekaligus melestarikan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan 1945, maka pimpinan TNI memandang perlu dibangun sebuah museum sebagai tempat memvisualisasikan kepada masyarakat gambaran sejarah perjuangan TNI bersama bangsa ini.

Kepala Pusat Sejarah TNI saat itu, Brigjen TNI Nugroho Notosusanto adalah sangat responsif untuk segera mempersiapkan rencana pembangunan Museum TNI di Jakarta, tepatnya di Jalan Gatot Subroto No. 14, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12710 yang juga adalah bekas kediaman Dewi Soekarno bernama Wisma Yaso.

Pembangunan Museum TNI dimulai pada 15 November 1971 dengan renovasi dan pemugaran besar-besaran Wisma Yaso seluas 56.670 m2. Dalam waktu satu tahun museum akhirnya rampung untuk kemudian diresmikan oleh Presiden kedua RI HM. Soeharto pada 5 Oktober 1972 dengan nama Museum Satria Mandala.

Karena di era Presiden Soekarno hingga era pemerintahan Presiden HM. Soeharto empat angkatan bersenjata dari Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian adalah satu dalam ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) maka museum ini menyimpan semua sejarah yang berkaitan dengan perjuangan, sepak terjang sebagai bukti eksistensi ABRI bagi seluruh rakyat indonesia.

Museum yang berada dibawah naungan Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI) serta dikepalai seorang Kepala Museum (Kamus) Letnan Kolonel Hengki Ismail menyimpan beragam benda-benda asli bersejarah dalam perjalanan TNI. Selain itu, museum ini turut pula menyajikan diorama dan ulasan sejarah dari berbagai pertempuran besar baik melawan penjajah maupun kala TNI melakukan penumpasan beragam pemberontakan gerombolan bersenjata di tanah air.

Sejak di halaman Museum maka pengunjung sudah disuguhkan pemandangan luar biasa akan alutsista TNI diantaranya berupa sepasang Meriam 25 PDR / 88 MM buatan Inggris milik TNI AD. Meriam ini sudah melaksanakan banyak sekali tugas-tugas besar bersama TNI mulai tahun 1946 hingga 1962 dalam menghadapi tentara Belanda di Aceh timur, pemberontakan DI/TII, Andi Aziz, RMS, PRRI/Permesta, Dan pada 1972 meriam bersejarah ini akhirnya diabadikan di Museum Satria Mandala.

Tidak cukup sampai disitu, sisi kanan halaman menampilkan sebuah replika Kapal perang TNI Angkatan Laut yang sangat bersejarah yaitu KRI Matjan Tutul, lengkap dengan nomor lambung serta diorama siaga para prajuritnya kala mereka bertolak dari pangkalan menuju Laut Arafura dalam operasi Trikora. Kapal perang inilah yang secara gagah berani bertempur ditengah laut Arafura menghadapi tiga kapal perang dan satu pesawat pembom Belanda agar dua kapal perang Indonesia lainnya bisa lolos dari sergapan musuh.

Masuk ke ruangan pertama menyajikan teks proklamasi raksasa di dinding sebagai pengingat bagi seluruh bangsa Indonesia bahwa bangsa ini merdeka bukan atas pemberian bangsa manapun di dunia ini, akan tetapi bangsa ini merdeka atas pengorbanan dan usaha keras seluruh rakyat dengan titik puncaknya pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Lorong utama memamerkan sejarah pembentukan dan perkembangan TNI (kala itu ABRI) yang terbagi dalam tiga fase yakni : Masa Revolusi 1945-1949, Masa Parlementer 1949-1959, Masa Orde Lama 1959-1966, dan Masa Orde Baru 1966-1998. Salah satu yang menarik dari lorong utama ini adalah terpampang rapi kaca asli dari Bank Internacio di Jembatan Merah Surabaya yang pecah akibat insiden pelemparan granat ke dalam mobil Brigadir Jenderal Mallaby dari Inggris oleh pejuang Indonesia saat bentrokan senjata.

Berpindah ke lorong berikutnya maka disinilah tempat pengunjung dapat menyaksikan ruangan khusus bagi empat jenderal TNI paling berpengaruh dalam sejarah perjalanan TNI dan perjuangan bangsa Indonesia yaitu : Jenderal Besar TNI Panglima Besar Soedirman, Jenderal Besar TNI HM. Soeharto, Jenderal Besar TNI AH. Nasution, dan Letjen TNI Oerip Soemohardjo.

Beragam koleksi dokumentasi keempatnya saat bertugas, pakaian asli yang mereka kenakan, atribut-atribut kemiliteran, serta sejarah hidup keempatnya sejak awal meniti karir kemiliteran hingga akhir hayatnya ada di ruangan ini. Serta tidak lupa terpampang gagah Sumpah Prajurit dan Sapta Marga sebagai pengingat bagi siapapun anggota TNI yang masuk ke ruangan ini sekaligus penanda bagi seluruh rakyat indonesia yang datang ke Museum Satria Mandala bahwa sikap TNI adalah jelas tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu mempertahankan keutuhannya sampai kapanpun.

Beranjak dari sini, pengunjung dihadapkan pada sebuah ruangan yang pastinya akan membuat siapapun berdecak kagum yaitu sepak terjang TNI dalam menjaga perdamaian dunia melalui Pasukan Garuda atau disebut juga Kontingen Garuda (Konga). Misi-misi perdamaian yang dibawa TNI keseluruh dunia merupakan salah satu wujud sikap tegas TNI dan seluruh rakyat Indonesia yang menolak semua bentuk penjajahan di muka bumi sesuai Alinea pertama Pembukaan (Preambule) Undang Undang Dasar 1945.

Sebelum turun ke lantai bawah, maka jangan sampai terlewat sebuah ruangan kecil yang berisi Panglima Angkatan Bersenjata di Indonesia dari awal hingga yang terakhir. Menurut salah satu petugas museum, karena ini adalah museum yang berkaitan dengan sejarah maka hanya Panglima TNI yang sudah selesai periode masa bhaktinya sebagai Panglima TNI/ABRI saja yang akan dipasang di ruangan ini.

Di ruangan bawah maka pengunjung masuk ke ruangan persenjataan dimana disini dipamerkan beragam senjata yang digunakan TNI/ABRI sejak masa perjuangan fisik. Disini turut pula diinformasikan kepada masyarakat terkait persenjataan hasil buatan anak negeri yang sudah menjadi andalan TNI juga saat ini semisal Panser Anoa, Peluncur roket, Kapal perang, hulu ledak rudal, dan tentunya senapan yang sekarang sedang naik daun karena memiliki kemampuan diatas senapan-senapan serbu buatan Amerika, Eropa, dan China yaitu SS1-V1 buatan PT. Pindad.

Selain koleksi menarik dan edukasi sejarah maka Museum Satria Mandala juga didukung lapangan parkir memadai, kantin untuk karyawan dan umum, toko souvenir, taman, musholla, toilet, dan ruang serba guna untuk beragam acara dan pertemuan baik internal museum, TNI, maupun masyarakat umum.


Demikianlah, keberadaan Museum Satria Mandala dimana bersemayam visualisasi sejarah orang-orang indonesia pemberani yang rela berkorban bagi bangsa dan negara untuk semakin membuka mata seluruh masyarakat indonesia sekaligus masyarakat dunia bahwa inilah angkatan bersenjata indonesia dengan sejarah perjalanan, perjuangan, sekaligus perkembangannya yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat Indonesia. Dengan kata lain TNI kuat maka Rakyat kuat, begitu pula sebaliknya.

Tinggal para generasi muda saat ini untuk mempelajarinya dan mengambil hikmah perjuangan TNI untuk mengkonversinya menjadi inti acuan moralitas seorang pemuda bangsa dalam bernegara.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mendukung perdamaian sekaligus bangsa yang berdaulat penuh serta tidak takut terhadap bahaya apapun yang akan datang mengancam.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: