SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung masih menggunakan fasilitas seadanya karena belum memilikii fasilitas dermaga semi permanen maupun dermaga permanen. 


Salah satu nelayan setempat, Ahmad (40) mengaku kondisi nelayan yang tak memiliki dermaga tersebut sudah ada sejak awal desa tersebut berdiri sehingga masyarakat berharap pemerintah memperhatikan kondisi nelayan di wilayah tersebut. Meski bantuan bagi nelayan setempat sudah diberikan berupa fasilitas alat tangkap meliputi jaring apung, perahu tangkap serta beberapa peralatan lain namun dermaga sangat diharapkan dibangun di lokasi tersebut.

Ahmad mengaku, sebagian besar nelayan setempat yang puluhan tahun tak memiliki fasilitas dermaga untuk lokasi sandar kapal juga tidak memiliki dana cukup untuk membangun dermaga dengan konstruksi kayu dan semen. Lokasi kampung nelayan yang berada di Dusun Minangruah tersebut bahkan masih menggunakan pantai berpasir sebagai lokasi nelayan yang menambatkan perahu seusai melaut dan sebagian menambatkan perahu pada pohon waru dan pohon kelapa yang banyak tumbuh di kawasan tersebut. Saat perahu ditambatkan nelayan mengaku selalu was was jika kondisi cuaca berangin dan bergelombang perahu bisa terhempas ke pinggir pantai bahkan terancam rusak akibat tak ada tanggul penahan gelombang dan ombak.

Kepala Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, Syarifudin mengungkapkan, aspirasi masyarakat nelayan Desa Kelawi tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait diantaranya Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kabupaten Lampung Selatan serta komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lampung Selatan untuk merealisasikan keinginan warga nelayan memiliki dermaga dan pemecah ombak.

Ia mengaku sebagian besar elayan di wilayah pantai Kelawi selama ini masih memanfaatkan perahu perahu tradisional untuk proses penangkapan ikan di wilayah perairan namun belum memiliki dermaga sehingga kepala desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mengusulkan kepada dinas terkait dan tentunya kepada wakil rakyat di DPRD Lampung Selatan.

Syarifudin mengungkapkan selain potensi nelayan tangkap di wilayah tersebut yang masih menggantungkan dari aktifitas menangkap ikan secara tradisional, nelayan Desa Kelawi telah memperoleh sarana alat tangkap berupa set net (jaring). Salah satu kelompok penerima bantuan tersebut adalah Kelompok Nelayan Sinar Tanjung Desa Kelawi jumlah anggota sekitar 40 nelayan.

“Bantuan alat tangkap ada tapi langsung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sudah digunakan para nelayan tapi kami mengalami kesulitan sandar saat cuaca buruk bahkan perahu yang akan digunakan mengambil ikan di set net pernah akan terbalik”terang  kepala Desa Bakauheni, Syarifudin saat dikonfirmasi media Cendana News, Senin (19/9/2016).

Syarifudin mengaku, harapan para nelayan tangkap di Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni bisa memiliki dermaga meski dalam skala kecil masih dalam tahap peninjauan oleh Anggota Komisi B DPRD Lampung Selatan beberapa waktu lalu. Alat Kelengkapan Dewan (AKD) yang membidangi bidang perekonomian dan keuangan ini telah melakukan pengecekan potensi lokasi yang akan digunakan untuk pembanguanan dermaga bagi nelayan.

Ketua Komisi B DPRD Lampung Selatan Sutan Agus Triendy dalam kunjungan ke nelayan Kelawi tersebut didampingi oleh beberapa anggota Komisi B diantaranya Syahroni, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lampung Selatan, Meizar Melanesia untuk mengecek lokasi yang selama puluhan tahun menjadi lokasi tambat perahu nelayan meski belum berbentuk dermaga.

Sutan Agus Triendi mengungkapkan kordinasi dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan untuk fasilitas dermaga tersebut diperlukan untuk peningkatan kesejahteraan para nelayan tangkap di wilayah pesisir Bakauheni yang selama ini kurang mendapat perhatian. Selain sebagai dermaga untuk tambat perahu para nelayan, potensi wisata di sekitar pesisir Bakauheni sangat penting untuk pembangunan dermaga.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan, Meizar kepada Cendana News mengungkapkan, saat ini sumber pendanaan dari APBD tahun 2015 sudah tak lagi bisa diajukan. Solusi yang dilakukan oleh DKP Lampung Selatan akan mengusulkan anggaran pembangunan dermaga tersebut di APBD-Perubahan (APBDP).

"Kita akan lakukan usulan dan terkait berapa nanti ukuran fisiknya dan apakah disetujui atau tidak tentunya akan dibahas oleh komisi B sebagai alat kelengkapan dewan yang langsung berhubungan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan,"ungkap Meizar.

Ia mengakui, saat ini hasil tangkapan nelayan dari alat tangkap ikan jenis jaring hasilnya cukup lumayan dengan rata rata tangkapan di atas 50 kilogram saat musim ikan. Hasil penjualan ikan tersebut menurut Meizar digunakan untuk biaya operasional pembelian solar, pemeliharaan perahu, alat tangkap serta sebagian digunakan untuk tabungan kelompok nelayan.

"Kalau mengandalkan uang hasil tangkapan ikan alat set net tentunya dana pembuatan dermaga kurang jadi usulan kita nanti berupa bantuan karena kita harapkan nelayan mandiri terlebih dahulu dan tetap dibantu pemerintah,"janji Meizar.


Upaya Komisi B untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan juga dilakukan dengan pengembangan dermaga Muara Piluk di Desa Bakauheni sebagai sentra wisata kuliner. Konsep wisata kuliner yang dikembangkan di dekat area Menara Siger Lampung Selatan tersebut diharapkan mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.

"Selain untuk meningkatkan kunjungan wisatawan pemberdayaan nelayan terutama kaum perempuan dalam pengolahan kuliner berbahan dasar ikan diharapkan meningkatkan ekonomi warga,"ujar salah satu anggota DPRD Lampung Selatan.

Pantauan Cendana News, puluhan nelayan di Kelawi masih belum memiliki fasilitas dermaga sehingga sebagian besar nelayan menarik perahunya hingga ke daratan. Gelombang tinggi yang terjadi dalam sepekan terakhir membuat nelayan was was perahu yang digunakan untuk mencari ikan kandas atau rusak terbentur karang.

"Kami ingin ada penahan gelombang serta jalur untuk dermaga sehingga kami bisa menambatkan perahu tanpa was was terbawa gelombang atau rusak terbentur karang,"ungkap Joni nelayan Desa Kelawi.

Salah satu faktor permintaan masyarakat untuk pengadaan dermaga dan bangunan pemecah gelombang karena lokasi tersebut merupakan salah satu destinasi wisata diantaranya Pantai Batu Alif, Pantai Minang Ruah, Pantai Blebug dan bahkan bisa digunakan sebagai titik poin untuk ke lokasi pemancingan Tanjung Tua. Belum adanya infrastruktur dermaga membuat wisatawan memilih melakukan wisata melalui jalur lain.
[Henk Widi]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: